Des 28, 2021 08:41 Asia/Jakarta

Wakil Presiden AS Kamala Harris menyebut keadaan demokrasi di Amerika Serikat sebagai ancaman besar bagi keamanannya. Dalam wawancara menanggapi apa yang menjadi ancaman terbesar bagi keamanan nasional Amerika Serikat, dia mengatakan bahwa lemahnya kondisi demokrasi di Amerika Serikat merupakan ancaman keamanan bagi negara tersebut.

Kamala Harris memimpin penolakan pemerintahan Biden untuk membatasi hak suara. Dia sebelumnya telah meminta Kongres untuk meningkatkan akses warga ke kotak suara, dan menyebut serangan terhadap Kongres AS pada Januari 2021 sebagai perhatian utama Amerika.

Wakil Presiden AS Kamala Harris

Setelah pemilihan presiden AS, upaya Partai Republik untuk membatasi hak suara, terutama untuk ras minoritas seperti kulit hitam dan Latin, telah menjadi arena konfrontasi dengan Demokrat.

Selama setahun terakhir, anggota parlemen dari Partai Republik telah memasukkan RUU pembatasan suara ke dalam agenda mereka dan telah mampu meloloskan RUU tersebut di parlemen negara bagian di beberapa negara bagian, termasuk Texas. RUU tersebut melarang penggunaan kotak suara bergerak dan tempat pemungutan suara 24 jam.

Selain itu, RUU tersebut meningkatkan pengawasan partisan terhadap kotak suara dan mengharuskan individu untuk mengajukan pencatatan keinginan sebelum mengirimkan surat suara.

Presiden AS Joe Biden menyebut RUU itu sebagai pelanggaran terang-terangan dan menilainya sebagai upaya untuk menekan hak pilih AS dan pemilihan umum yang bebas.

Kubu Demokrat di Amerika Serikat, dalam sebuah langkah melawan pengesahan undang-undang serupa di negara bagian yang dikuasai Partai Republik, memperkenalkan dan mengesahkan RUU di Dewan Perwakilan Rakyat negara ini di Washington. Masalah ini juga telah memicu protes luas di Amerika Serikat.

Wakil Presiden AS Kamala Harris menyebut keadaan demokrasi di Amerika Serikat sebagai ancaman besar bagi keamanannya. Dalam wawancara menanggapi apa yang menjadi ancaman terbesar bagi keamanan nasional Amerika Serikat, dia mengatakan bahwa lemahnya kondisi demokrasi di Amerika Serikat merupakan ancaman keamanan bagi negara tersebut.

Sejatinya, perjuangan rakyat Amerika untuk perlindungan hak memilih masih berlangsung di abad ke-21.

Menteri Tenaga Kerja Robert Reich di masa Bill Clinton mengkritik upaya Partai Republik untuk membatasi hak suara. Ia mengatakan, "Mengapa kita bunuh diri agar Demokrat mendapatkan kendali kepresidenan dan Kongres ketika mereka bahkan tidak bisa mempertahankan masalah sederhana seperti hak pilih?"

Pada dasarnya, ilusi demokrasi di Amerika Serikat telah dipertanyakan habis-habisan mengingat perkembangan terakhir di negara ini, yaitu penyelenggaraan pemilihan presiden November 2020 dan peristiwa-peristiwa berikutnya.

Presiden Amerika Serikat waktu itu dan calon dari Partai Republik Donald Trump selama masa kampanye melawan saingannya dari Partai Demokrat Joe Biden, telah berulang kali mempertanyakan proses pemilihan umum, termasuk bagaimana memilih dan validitas suara sebagai salah satu simbol demokrasi yang paling menonjol.

Dan akhirnya, setelah kekalahan dalam pemilu presiden AS, bukan hanya mempertanyakan hasilnya, tetapi sebagai Presiden AS., ia menggambarkan keberadaan demokrasi di Amerika Serikat sebagai kebohongan terang-terangan.

Langkah selanjutnya, Trump mendorong para pendukungnya untuk menyerang Kongres AS pada Januari 2021, dan pada kenyataannya, ia bermaksud melakukan kudeta di Amerika Serikat. Menurut banyak analis, Trump menciptakan situasi Amerika Serikat yang mirip dengan keadaan demokrasi di beberapa negara berkembang atau terbelakang.

Donald Trump, mantan Presiden AS

Dia menyebabkan krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyebut sistem pemilu AS korup dan kecurangan pemilu yang meluas.

Bagaimanapun juga, jika Amerika Serikat pernah mengklaim memimpin dunia dalam hal demokrasi liberal, perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa sulit dan terancamnya demokrasi di negara itu. Isu telah meningkat ke titik di mana wakil presiden menggambarkan ancaman terhadap demokrasi di Amerika Serikat sebagai ancaman besar bagi Amerika Serikat.

Tags