Jan 20, 2022 11:38 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Anthony Blinken tiba di ibu kota Ukraina, Kiev, dalam sebuah kunjungan tak terduga pada Rabu (19/1/2022). Dia kembali menggemakan klaim bahwa Rusia kemungkinan akan menyerang Ukraina.

Menurutnya, Rusia dengan memobilisasi pasukannya di dekat perbatasan Ukraina sedang mencari peluang untuk menyerang. "Kami telah menawarkan Rusia pilihan yang jelas, pilihan antara mengejar dialog dan diplomasi di satu sisi, atau konfrontasi dan konsekuensi di sisi lain," kata Blinken.

Menlu AS memperingatkan bahwa Rusia dapat mengirim lebih banyak pasukan ke perbatasan Ukraina dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam percakapan telepon dengan timpalannya dari Rusia, Sergei Lavrov pada hari Selasa, Blinken menegaskan kembali komitmen AS untuk kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, dan mencatat bahwa proses diplomatik harus terus dilakukan untuk mengurangi ketegangan.

Kunjungan tak terduga Menlu AS ke Ukraina terjadi setelah para pejabat Barat menuding Rusia telah meningkatkan upaya untuk menyebarkan pasukan dan peralatan militer di dekat perbatasan Ukraina serta pengiriman peralatan militer dalam jumlah besar seperti, sistem pertahanan udara S-400 dan jet tempur Sukhoi-35 ke Belarus.

Sejalan dengan upaya untuk meningkatkan perang media terhadap Rusia, surat kabar The New York Times melaporkan pada Senin lalu bahwa para pejabat di Kiev dan Washington mengonfirmasi bahwa diplomat Rusia telah meninggalkan Ukraina, tetapi Moskow membantah klaim tersebut.

Surat kabar itu mengklaim bahwa 18 orang, termasuk istri dan anak-anak diplomat Rusia, meninggalkan Ukraina pada 5 Januari dan 30 orang lainnya mungkin telah meninggalkan negara itu dalam dua minggu terakhir.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kedutaan mereka di Kiev masih beroperasi secara normal, tetapi tidak membantah tentang pengurangan jumlah diplomat.

Antony Blinken.

Anehnya, pemerintah Biden mengirimkan pesan yang saling bertentangan dalam menyikapi ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Pada hari Selasa, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan Presiden Vladimir Putin telah menciptakan krisis dengan mengerahkan ribuan tentara di sepanjang perbatasan Ukraina, termasuk pengiriman pasukan ke Belarus.

"Ini adalah situasi yang sangat berbahaya, dan kita berada pada tahap di mana Rusia dapat menyerang Ukraina kapan saja, dan kita berada dalam situasi yang lebih buruk dari sebelumnya," katanya.

Pejabat Gedung Putih ini mengancam Moskow dengan "konsekuensi berat" jika Rusia tidak memilih jalur diplomatik.

Namun, Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan menuturkan pekan lalu bahwa komunitas intelijen AS belum menyimpulkan bahwa Rusia telah membuat "keputusan pasti" untuk mengambil tindakan militer di Ukraina.

Tentu saja, Sullivan juga mengklaim komunitas intelijen AS memiliki informasi yang menunjukkan bahwa Rusia sedang menyiapkan kondisi untuk invasi, termasuk melalui sabotase dan operasi intelijen.

Pemerintah Rusia berulang kali membantah tuduhan Barat dan Ukraina tentang segala bentuk tindakan agresif. Moskow menekankan bahwa pihaknya tidak mengancam siapa pun atau berniat menyerang negara mana pun. Menurut Kremlin, klaim tentang rencana invasi ke Ukraina hanyalah alasan untuk mengerahkan pasukan dan peralatan militer NATO di dekat perbatasan Rusia.

Rusia menyatakan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO adalah garis merah bagi keamanan nasionalnya dan memperingatkan terhadap penyebaran fasilitas NATO di dekat perbatasannya.

Mathieu von Rohr, kepala biro harian surat kabar Spiegel mengatakan bahwa Rusia menyerukan penarikan semua pasukan NATO dari negara-negara anggotanya di Eropa Timur, dan ingin memastikan bahwa Finlandia dan Swedia tidak pernah bergabung dengan NATO. (RM)

Tags