Jan 22, 2022 13:06 Asia/Jakarta

Juru runding senior Rusia, Mikhail Ulyanov mengkritik langkah terbaru Barat karena mendorong penyelesaian perundingan Wina sesegera mungkin dan penetapan tenggat waktu yang direkayasa.

Ulyanov di akun Twitternya hari Jumat (21/1/2022) mengungkapkan, “Rusia juga setuju mengenai urgensi mempercepat penyelesaian masalah, tetapi menentang tenggat waktu yang dibuat-buat,”.

Republik Islam Iran sebelumnya telah menyatakan penentangannya atas pemaksaan tenggat waktu yang tidak normal, dan tidak akan terjebak oleh tenggat waktu yang direkayasa Barat.

Kelompok 4+1 dan Amerika Serikat selalu berusaha dalam upaya bersama untuk mengangkat isu palsu. Tenggat waktu, menurut pendapat delegasi Iran yang hadir pada perundingan Wina sebagai upaya untuk memaksakan tuntutan Barat terhadap Iran 

Dalam langkah terbaru, para menteri luar negeri troika Eropa dan Amerika bertemu di Berlin pada hari Kamis, dan mengulangi klaim tentang pembicaraan Wina.

Negosiator senior dari empat negara juga menghadiri pembicaraan Wina. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menegaskan percepatan perundingan sebagai bagian dari penggunaan taktik tenggat waktu demi menekan Iran di meja perundingan. 

Menteri Luar Negeri AS dan Jerman juga menegaskan kembali klaim mereka tentang pembicaraan Wina pada konferensi pers bersama. Mereka menggunakan taktik tenggat waktu untuk menekan tim perunding Iran dalam pembicaraan Wina, Blinken mengklaim, "Kami berada pada waktu yang penting, kami dapat membawa pembicaraan ini ke kesimpulan yang sukses dan mengatasi masalah utama semua pihak, tetapi waktunya hampir berakhir,".

Di sisi lain, Rusia dan China sebagai anggota kelompok 4 + 1, menentang pengenaan tenggat waktu dan mendukung posisi Republik Islam Iran dengan tuntutan rasionalnya dalam negosiasi Wina.

 

Pada saat yang sama, pihak-pihak Barat dalam negosiasi ini terus-menerus mengambil pendekatan yang berubah dan menyerukan peninjauan kembali atas kemajuan yang telah dicapai. Faktanya, pendekatan Barat  mencoba  menekan pihak lain selama negosiasi demi meraih lebih banyak poin. Namun, Iran telah membaca permainan Barat. Oleh karena itu,memajukan negosiasi secara bertahap dan logis, serta menentang penetapan tenggat waktu.

Alasan Barat untuk menetapkan tenggat waktu, sebagaimana dinyatakan oleh pejabat negara-negara Barat seperti Menteri Luar Negeri AS berkaitan dengan kemajuan nuklir Iran. Blinken mengklaim, jika perundingan Wina tidak mencapai kesimpulan yang pasti dalam beberapa pekan, maka kembalinya AS ke JCPOA tidak akan ada artinya.

Washington menyebarkan agitasi mengenai kekhawatiran terhadap langkah-langkah Iran di luar JCPOA, termasuk pengayaan 20 persen dan 60 persen dan produksi uranium logam, dan menyebutnya sebagai langkah nuklir militer. 

Jika Amerika Serikat benar-benar khawatir tentang kemajuan dari apa yang diklaimnya sebagai pembatasan nuklir Iran yang tidak terkendali, maka mereka harus mengambil pendekatan rasional untuk mencabut sanksi dan memberikan jaminan implementasinya, daripada mengumbar perang psikologis dan tekanan politik dari dirinya sendiri dan sekutu di Eropa terhadap Tehran.

Jika tidak, maka pembicaraan baru di Wina akan terhenti. Tentu saja, Barat, terutama Amerika Serikat akan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam masalah tersebut. Sebagaimana ditegaskan profesor Hubungan Internasional dari Universitas Harvard, Matthew Bunn bahwa "Amerika Serikat tidak memiliki pilihan yang baik tentang Iran. Namun menghidupkan kembali JCPOA adalah pilihan yang sedikit buruk," (PH)

Tags