Jan 22, 2022 17:59 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden
    Presiden AS Joe Biden

Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, Biden: Kemajuan Sedang Dibuat dalam Perundingan Wina.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti Menlu AS: Rusia Harus Pilih Salah Satu, Diplomasi atau Konfrontasi ! Senator AS Minta Biden Cairkan Aset Milik Afghanistan, AS akan Memperkuat Militer Ukraina untuk Hadapi Rusia, Legislator AS Memandang Biden Lemah di Hadapan Rusia, Mantan Diplomat AS Ungkap Tujuan Kehadiran Negaranya di Suriah, AS Siapkan 18 Skenario untuk Tanggapi Rusia, AS Kirim Kapal Induk ke Mediterania untuk Latihan Militer. Chomsky: Amerika Serikat Alami Kudeta Lunak.

Biden: Kemajuan Sedang Dibuat dalam Perundingan Wina

Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa kemajuan sedang dibuat dalam perundingan Wina antara Iran dan kelompok 4+1.

Joe Biden

Presiden Amerika Serikat dalam pernyataan pada konferensi pers pertamanya tahun 2022, Rabu (19/1/2022) malam menyinggung sejumlah masalah penting termasuk isu perundingan Wina.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang perundingan nuklir Iran di Wina, Biden menegaskan, "Sekarang bukan saatnya untuk menyerah, kemajuan sedang dibuat,".

Presiden AS melanjutkan bahwa kelompok 4+1 bersatu dan satu suara, tetapi masih harus melihat apa yang akan terjadi.

Sebelum pernyataan Biden, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan bahwa salah satu tuntutan Iran mengenai jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan menarik diri dari JCPOA pada periode presiden selanjutnya.

"Keputusan untuk meninggalkan JCPOA adalah salah satu keputusan terburuk dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika," kata Blinken dalam program media, Pod Save the World.

Perundingan Wina putaran kedelapan tentang pencabutan sanksi dimulai pada 27 November 2021. Negosiasi berpusat di sekitar dua sumbu verifikasi dan jaminan, yang tampaknya mendekati tahap kritis dan menentukan.

Iran dan Amerika Serikat melalui teks dan saluran secara tidak langsung mempresentasikan pandangan mereka tentang empat masalah mengenai pencabutan sanksi, memastikan pencabutan sanksi yang efektif, komitmen nuklir, dan verifikasinya.

Menlu AS: Rusia Harus Pilih Salah Satu, Diplomasi atau Konfrontasi !

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengklaim bahwa Rusia menimbun pasukan di perbatasan Ukraina, untuk mengambil keuntungan dari negara itu, dan menurutnya Moskow harus memilih salah satu, diplomasi atau konfrontasi.

Antony Blinken, Rabu (19/1/2022) dalam lawatan mendadaknya ke Kiev kembali menuduh Rusia berusaha melancarkan serangan militer ke Ukraina.

Antony Blinken

Menlu AS berharap dalam pertemuan hari Jumat dengan Menlu Rusia Sergei Lavorv, Washington dan Moskow akan dapat mempertahankan proses perdamaian dan diplomasinya terkait krisis Ukraina.

Dikutip TV Sky News, Antony Blinken menuturkan, "Rusia mengumpulkan pasukannya di perbatasan Ukraina, dan Presiden Vladimir Putin ingin memiliki kemampuan untuk melancarkan sebuah langkah permusuhan terhadap Ukraina."

Pada saat yang sama, Menlu AS dengan nada mengancam menegaskan, "Rusia harus memilih salah satu, diplomasi atau konfrontasi, karena konfrontasi akan membawa banyak dampak bagi Moskow, dan menciptakan keputusan untuk menyanksi Putin."

"Hari Jumat depan saya akan bertemu dengan Sergei Lavrov untuk mengetahui masalah diplomasi terkait Ukraina sudah sejauh mana. Presiden Joe Biden meminta saya untuk berkunjung ke Ukraina guna menegaskan dukungan AS atas negara ini," pungkasnya.

AS menuduh Rusia menempatkan pasukannya di perbatasan Ukraina, padahal Washington sendiri sehari sebelumnya telah menambah bantuan dana militer untuk Ukraina sebesar 200 juta dolar.

Senator AS Minta Biden Cairkan Aset Milik Afghanistan

Senator Amerika Serikat dari Vermont meminta pemerintah Joe Biden untuk mencairkan aset pemerintah Afghanistan yang bernilai miliaran dolar.

Senator Bernie Sanders juga memperingatkan tentang krisis di Afghanistan.

"Afghanistan menghadapi bencana kemanusiaan. Saya menyerukan kepada pemerintah Biden untuk segera mencairkan miliaran dolar aset milik pemerintah Afghanistan yang diblokir," kata Sanders di akun Twitternya seperti dikutip Farsnews, Selasa (18/1/2022).

Menurutnya, melepaskan aset yang diblokir akan membantu mencegah krisis dan kematian jutaan orang di Afghanistan.

Pemutusan bantuan asing dan pembekuan aset Afghanistan setelah Taliban berkuasa telah menyebabkan krisis kemanusiaan di negara itu.

Komite Penyelamatan Internasional mengatakan baru-baru ini bahwa krisis pangan kemungkinan akan semakin parah pada 2022, karena Afghanistan menghadapi kelangkaan pangan, kenaikan drastis harga bahan dasar, dan kekeringan yang berkepanjangan.

AS akan Memperkuat Militer Ukraina untuk Hadapi Rusia

Seorang pejabat tinggi Amerika mengatakan pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan opsi-opsi baru, termasuk menyediakan lebih banyak senjata ke Kiev jika ketegangan meningkat antara Ukraina dan Rusia.

"Selain mempertimbangkan bagaimana membantu militer dan pemerintah Ukraina menangkis invasi, AS sedang mengevaluasi opsi untuk memperkuat kemampuan pasukan Ukraina melawan potensi serangan Rusia," kata pejabat tersebut kepada CNN, Selasa (18/1/2022).

Dia menambahkan bahwa (langkah) itu termasuk kemungkinan menyediakan amunisi tambahan, mortir, rudal anti-tank Javelin, dan sistem rudal anti-pesawat kepada Angkatan Darat Ukraina, yang kemungkinan akan dipenuhi oleh sekutu NATO.

Inggris juga mengumumkan pengiriman senjata anti-tank ke Ukraina pada hari Senin.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan timpalannya dari Rusia, Sergei Lavrov dijadwalkan akan bertemu di Jenewa pada Jumat depan.

Sekelompok senator AS berkunjung ke Kiev pada hari Senin dan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pekan lalu, Direktur CIA Bill Burns juga melakukan perjalanan ke Kiev untuk bertemu dengan Presiden Zelensky.

Negara-negara Barat menuding Rusia sedang mempersiapkan serangan ke Ukraina. Tetapi, Moskow membantah tuduhan itu dan menganggapnya tidak berdasar.

Legislator AS Memandang Biden Lemah di Hadapan Rusia

Seorang anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS mengatakan, penarikan Amerika dari Afghanistan telah membuat Rusia berani dalam konflik yang sedang terjadi dengan Ukraina.

Michael McCaul menuturkan pada Minggu (16/1/2022) bahwa AS perlu memproyeksikan kekuatan setelah terlihat lemah tahun lalu, ketika Presiden Joe Biden menarik pasukan dari Afghanistan.

"Para pemimpin Rusia, Korea Utara, dan Cina, semuanya memandang itu sebagai momen kelemahan," ujarnya dalam wawancara dengan CNN seperti dikutip laman Farsnews.

Dia mengusulkan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia dan mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina.

Legislator AS dari Texas ini kembali mengulangi klaim Gedung Putih dan sekutunya bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan ke Ukraina, sebuah klaim yang berulang kali dibantah oleh Moskow.

Menurut McCaul, kunci untuk mencegah invasi Rusia ke Ukraina adalah pencegahan. "Tapi saya tidak melihat banyak langkah pencegahan (dari pemerintah Biden)," tambahnya.

Kantor berita Rusia, Sputnik menyatakan dalam sebuah laporan bahwa McCaul, seorang Republikan senior di Kongres AS, merupakan sosok yang dekat dengan perusahaan-perusahaan senjata AS.

Ia telah menerima banyak dukungan keuangan dari Lockheed Martin dan perusahaan lain.

Mantan Diplomat AS Ungkap Tujuan Kehadiran Negaranya di Suriah

Mantan Duta Besar AS untuk Suriah, James Jeffrey mengungkapkan bahwa kehadiran militer AS di Suriah Selatan bertujuan untuk memutuskan hubungan antara Tehran dan Damaskus.

"Misi kehadiran AS di luar negeri adalah untuk memperkuat kepentingan keamanan Washington dan sekutunya serta untuk mendukung kebijakan luar negeri dengan hadir di negara lain," kata Jeffrey seperti dikutip Klub Jurnalis Muda (YJC) Iran, Minggu (16/1/2022).

James Jeffrey

Menurut mantan diplomat AS ini, alasan kehadiran pasukan AS di pangkalan al-Tanf (Suriah Selatan) adalah untuk memutuskan hubungan Tehran-Damaskus sehingga Presiden Bashar al-Assad tertekan.

Dia menekankan bahwa selama pasukan AS berada di satu negara, mereka tidak akan mengizinkan kehadiran pasukan dari negara lain, dan AS akan menerapkan prinsip yang persis sama di Suriah.

Sebelumnya, Ron Paul, mantan politisi AS, mengatakan Washington mengaku sedang memerangi Daesh di Suriah, padahal mereka sedang melakukan operasi militer yang justru sejalan dengan tujuan teroris.

Ia mengungkapkan bahwa AS tidak senang dengan dukungan Iran kepada pemerintah Suriah. Oleh karena itu, mereka menduduki beberapa pangkalan di Suriah.

Krisis Suriah dimulai pada 2011 setelah kelompok teroris, yang didukung oleh AS, Turki, Arab Saudi, dan sekutu mereka, mengobarkan perang di negara itu. Aksi ini bertujuan untuk mengubah perimbangan yang menguntungkan Israel.

AS Siapkan 18 Skenario untuk Tanggapi Rusia

Wakil Menteri Luar Negeri AS Victoria Nuland mengatakan, Washington dan sekutunya menyiapkan 18 skenario tanggapan jika Rusia memutuskan untuk menginvasi Ukraina.

Dia menolak untuk menjelaskan 18 skenario yang dimaksud, tetapi memastikan bahwa AS dan sekutunya siap untuk membuat Rusia menanggung biaya besar jika bertindak agresif.

Dikutip dari media Sputnik, Sabtu (15/1/2022), Nuland mencatat bahwa sanksi khusus yang dikenakan terhadap Rusia oleh Amerika dan mitranya di Eropa mungkin berbeda.

Ia juga mengomentari pembicaraan antara AS dan Rusia yang berlangsung pada 10 Januari. Nuland mengatakan Washington percaya bahwa jalan menuju resolusi diplomatik untuk ketegangan yang sedang berlangsung tetap terbuka.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan pada hari Sabtu bahwa Washington dan NATO siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Rusia.

Pada 17 Desember 2021, Moskow menyodorkan sebuah draf usulan yang mencakup dua tuntutan yaitu mendesak NATO menghentikan ekspansi ke arah timur dan menuntut pemindahan senjata aliansi militer Barat itu lebih jauh dari perbatasan Rusia.

Baik AS maupun NATO menolak untuk mempertimbangkan usulan tersebut, tetapi mengindikasikan bahwa mereka siap untuk membahas perjanjian pengendalian senjata dan pembatasan latihan militer di dekat perbatasan Rusia.

AS Kirim Kapal Induk ke Mediterania untuk Latihan Militer

Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan sebuah kelompok kapal perang telah dikirim ke Laut Mediterania untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan NATO.

"Mulai Senin (depan), mitra NATO, termasuk Amerika Serikat, memulai latihan maritim "Neptune Strike 22" selama 12 hari di Laut Mediterania," ujarnya dalam konferensi pers di Pentagon, seperti dikutip laman Tasnimnews, Jumat (21/1/2022).

"Kapal induk USS Harry S. Truman, bersama dengan kelompok kapal penyerang akan dikerahkan ke Laut Mediterania untuk mengikuti kegiatan tersebut," jelas Kirby.

Latihan itu dilaksanakan di tengah meningkatnya ketegangan antara Barat dan Rusia.

"Neptune Strike 22 dirancang untuk menunjukkan kemampuan NATO dalam mengintegrasikan kemampuan serangan maritim untuk mendukung pencegahan dan pertahanan aliansi," kata juru bicara Pentagon.

Dia menegaskan kegiatan ini sudah direncanakan sejak tahun 2020 dan tidak dirancang untuk melawan skenario yang mungkin terjadi sehubungan dengan Ukraina.

"Ini benar-benar latihan maritim NATO untuk menguji berbagai kemampuan maritim yang ingin kami pastikan agar terus ditingkatkan," tandasnya.

Chomsky: Amerika Serikat Alami Kudeta Lunak

Pemikir terkemuka Amerika Serikat, Noam Chomsky memperingatkan berlanjutnya ancaman kudeta lunak yang dilancarkan Donald Trump bersama basis pendukung fanatiknya yang marah.

Noam Chomsky

Noam Chomsky dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Spanyol El Pais hari Minggu (16/1/2022) memperingatkan tentang bahaya kudeta lunak di Amerika Serikat setelah serangan kontroversial terhadap Kongres AS oleh para pendukung mantan Presiden AS Donald Trump  pada 6 Januari 2021.

Mengenai konsekuensi dari insiden kekerasan di Capitol Hills, Chomsky mencatat bahwa langkah tersebut, yang sebenarnya merupakan upaya untuk menggulingkan pemerintah terpilih, jelas dilakukan oleh Trump dengan provokasinya, "Pemilu dicurangi dan dicuri, jadi pergilah ke Kongres!".

Menurut Chomsky, upaya untuk menggulingkan pemerintah terpilih sebenarnya adalah kudeta, dan serangan kekerasan itu adalah kudeta.

Chomsky memperingatkan bahwa Partai Republik bukan lagi entitas politik, tetapi kekuatan neo-fasis.

"Meskipun Amerika Serikat adalah masyarakat yang maju secara teknologi dan budaya, tapi masih tertinggal di bidang lain," ungkapnya.

Filsuf AS ini melihat kemungkinan Trump akan memenangkan pemilu presiden 2024.

Menurut Chomsky, Trump adalah seorang demagog profesional dan dia tahu betul bagaimana menebarkan racun di tingkat bawah masyarakat Amerika yang digunakan untuk kepentingan politiknya.

 

Tags