Jan 28, 2022 11:30 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi dalam pembicaraan telepon dengan timpalannya dari AS Anthony Blinken pada Kamis (27/1/2022) mengatakan kekhawatiran keamanan Rusia atas meningkatnya ketegangan di Ukraina harus dianggap serius.

"Semua pihak harus sepenuhnya meninggalkan mentalitas Perang Dingin dan membentuk mekanisme keamanan Eropa yang seimbang, efektif, dan berkelanjutan melalui negosiasi,” kata diplomat tinggi Cina itu.

Menanggapi kekhawatiran Rusia tentang ekspansi NATO di Eropa, Wang menekankan bahwa keamanan regional tidak dapat dijamin dengan memperkuat atau bahkan memperluas blok militer.

Pada kesempatan itu, Blinken memperingatkan tentang keamanan global dan risiko ekonomi yang ditimbulkan oleh agresi Rusia terhadap Ukraina. Dia mencatat bahwa penurunan ketegangan dan diplomasi adalah cara yang bertanggung jawab ke depan.

Rusia berulang kali membantah berencana untuk menyerang Ukraina, tetapi menginginkan jaminan bahwa negara itu tidak akan bergabung dengan NATO.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia terkait Ukraina telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan pemerintahan pro-Barat di Kiev untuk bergabung dengan NATO, yang akan membawa aliansi militer itu ke perbatasan Rusia, telah meningkatkan kekhawatiran keamanan di Moskow.

Keanggotaan negara-negara Eropa Timur dan Baltik di NATO akan membuat aliansi ini menjadi lebih dekat dengan perbatasan Rusia. Pemerintah Moskow memandang dirinya telah dikepung oleh NATO setelah Ukraina dan Georgia meminta untuk bergabung.

Oleh karena itu, Rusia meminta AS dan NATO untuk menolak permintaan Ukraina dan Georgia serta tidak mengerahkan pasukan atau senjata apa pun di negara-negara yang bergabung dengan NATO setelah runtuhnya Uni Soviet. Namun, AS menolak permintaan Rusia, dan sikap ini telah memperbesar krisis dengan Moskow.

Seorang analis politik Rusia, Andranik Migranyan mengatakan Rusia tidak ingin mengikuti skenario perang dengan Ukraina, tetapi jika Barat dan secara khusus AS, ingin menggunakan opsi kekuatan, situasi akan berbeda bagi Moskow.

Dalam situasi seperti ini, dukungan Beijing untuk Moskow dalam menghadapi tekanan Barat menjadi sangat penting. Rusia menganggap penyebaran militer NATO di Ukraina sebagai garis merahnya, sementara Cina juga memandang masalah Taiwan dan kehadiran militer AS di Laut Cina Selatan sebagai garis merahnya.

Dua sekutu Timur, yang sedang menghadapi tekanan militer Barat, tampaknya akan memperkuat posisi dan meningkatkan koordinasi mereka untuk melawan tekanan tersebut.

Cina telah memperkuat hubungan dengan Rusia, karena ketegangannya dengan Washington yang dipicu oleh berbagai masalah terus meningkat, mulai dari isu perdagangan hingga hak asasi manusia, Taiwan, dan klaim kepemilikan di Laut Cina Selatan. Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan mengunjungi Cina minggu depan untuk menghadiri pembukaan Olimpiade Musim Dingin.

Patrick Buchanan, pakar Amerika dalam urusan internasional, memperingatkan Washington dan sekutunya yang mengabaikan garis merah Rusia-Cina di Eropa dan Asia (Ukraina dan Taiwan), yang dapat memperkuat sentimen anti-Amerika dan anti-NATO oleh kedua negara itu.

AS, dengan mengejar kebijakan strategis yang ambigu, mencoba membatasi ruang lingkup ketegangan dengan Rusia dan Cina pada tingkat yang terkendali. Dengan melontarkan tuduhan anti-Rusia, seperti mencoba menginvasi Ukraina, AS berusaha memprovokasi media dan opini publik untuk melawan Moskow dan membenarkan tekanan militer dan politiknya terhadap negara itu.

Di sini, Cina dan Rusia melihat tentang perlunya mengoordinasikan posisi mereka dalam menghadapi tekanan Barat, yang dapat memperkuat persekutuan strategis kedua pihak. (RM)

Tags