Feb 01, 2022 16:57 Asia/Jakarta
  • George Soros
    George Soros

Miliarder Amerika Serikat yang dikenal sebagai "Bapak Revolusi Beludru" (Velvet Revolution) dan terlibat aktif dalam kerusuhan tahun 2009 di Iran, sekarang ingin menciptakan perubahan kekuasaan di Cina.

George Soros, pendiri Open Society Foundations pada kerusuhan tahun 2009 di Iran berusaha keras untuk mengubah sistem pemerintahan Republik Islam di negara ini.
 
Dikutip Russia Today, Senin (31/1/2022), George Soros dalam salah satu pidatonya mengaku ingin mengganti Xi Jinping sebagai Presiden Cina, dan membandingkan Olimpiade Musim Dingin 2022 di Cina, dengan Olimpiade 1936 di Jerman.
 
Soros menuturkan, "Cina seperti Jerman di tahun 1936, berusaha memanfaatkan pertandingan-pertandingan olimpiade Beijing untuk meraih kemenangan propaganda bagi sistem-sistem kontrol ketat miliknya."
 
Menurut Soros, Presiden Cina Xi Jinping tidak seperti pendahulunya Deng Xiaoping yang menggulirkan reformasi pasar bebas, dia adalah seorang komunis sejati, dan Mao Zedong serta Vladimir Lenin adalah berhala-berhalanya.
 
Ia menganggap Xi Jingping sebagai ancaman paling besar yang dihadapi masyarakat terbuka hari ini, oleh karena itu ia menuntut pergantian rezim di Cina. Soros mengatakan, tuntutan ini merupakan kebijakan sebagian besar kubu konservatif di AS yang menentang kekuasaan Xi Jinping.
 
George Soros berharap Xi Jinping dapat diganti oleh sosok yang lebih sedikit menindas di dalam negeri, dan lebih mengedepankan perdamaian di luar Cina.
 
"Ancaman terbesar yang dihadapi masyarakat terbuka hari ini harus disingkirkan, dan mereka harus melakukan apa pun sekuat tenaga untuk mendorong Cina bergerak di jalur yang diinginkan," pungkasnya. (HS)

Tags