Mar 18, 2022 20:14 Asia/Jakarta
  • Kunjungan Tanpa Hasil PM Inggris ke Saudi dan UEA

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali ke London dengan tangan kosong setelah mengunjungi UEA dan Arab Saudi untuk mencoba membujuk kedua negara Arab ini meningkatkan produksi minyaknya.

Dalam percakapan dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, PM Inggris, Boris Johnson menyerukan supaya Arab Saudi meningkatkan produksi minyak, tetapi gagal. Johnson di Riyadh mengatakan, "Kesepakatan yang baik telah dicapai untuk menstabilkan harga minyak, mengatasi inflasi, dan membantu konsumen mendapatkan bensin di SPBU,". Tapi saat ditanya, apakah Putra Mahkota Saudi berjanji akan meningkatkan produksi minyaknya, MBS menjawab bahwa permintaan ini harus disampaikan kepada pemerintah Saudi.

Sejak Rusia melancarkan operasi militer di Ukraina, negara-negara blok Barat telah melancarkan kampanye besar-besaran untuk menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Sanksi ini memiliki dimensi ekonomi, komersial, politik, media, hingga olahraga, bahkan menyasar pejabat dan oligarki Rusia. Meskipun demikian, ada ketidaksepakatan antara Eropa dan Amerika Serikat mengenai sanksi energi terhadap Rusia.

Pada 9 Maret, Presiden AS Joe Biden memerintahkan pemboikotan impor minyak, gas, dan produk turunannya dari Rusia ke Amerika Serikat. Namun, langkah AS tersebut mendapat reaksi negatif dari Brussel. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell menanggapi sanksi yang dikeluarkan Joe Biden terhadap Rusia dengan menegaskan bahwa Brussell tidak mengikuti Washington dalam hal ini.

Inggris mengambil sikap berbeda dengan Eropa. Setelah memisahkan diri dari Uni Eropa, Inggris yang sekarang memutuskan secara independen dalam kebijakan luar negeri dan energinya mengamini Washington untuk mengakhiri impor minyak dan produk olahan minyak dari Rusia pada akhir tahun 2022. Tapi, embargo energi Rusia menimbulkan biaya besar bagi Washington dan London.

Koran Inggris, Daily Mirror menunjukkan bahwa operasi militer Rusia ke Ukraina telah membuat rakyat Inggris menderita. Pasalnya, harga satu liter bensin meningkat, dan orang-orang yang sebelumnya berjuang untuk memenuhi kebutuhannya saat ini berada di bawah tekanan yang meningkat. Harga BBM di SPBU kian hari semakin tinggi.

Faktanya, sanksi anti-Rusia yang baru-baru ini dijatuhkan negara-negara Barat menjadi pedang bermata dua yang akan memiliki konsekuensi serius bagi ekonomi dan sektor energi negara-negara ini, terutama Eropa dan Amerika Serikat. 

 

Sanksi terhadap migas Rusia

 

Amerika Serikat dan Inggris sekarang telah memulai upaya bersama untuk membujuk sekutu minyak Barat guna meningkatkan produksinya guna mengisi kesenjangan akibat sanksi energi terhadap Rusia.

Terkait hal ini, pemerintah Biden secara terbuka meminta Riyadh untuk meningkatkan produksi minyaknya, dalam konteks OPEC Plus yang hanya menjamin peningkatan produksi minyak sebesar 400.000 barel. Oleh karena itu, meskipun Perdana Menteri Inggris mengunjungi Saudi dan UEA, tapi terpaksa kembali ke London dengan tangan kosong.

"Perdana Menteri Inggris berpindah dari satu diktator ke diktator lainnya untuk mendapatkan minyak," kata pemimpin Partai Buruh Inggris, Keir Starmer.

Poin lainnya mengenai kunjungan Johnson ke Riyadh terjadi bersamaan dengan tindakan kriminal rezim Saudi mengeksekusi 81 orang dalam satu hari, yang merupakan tanda pengabaian total London atas pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan dilakukan oleh rezim Saudi.

Akibatnya, kunjungan Johnson ke UEA dan Arab Saudi menuai kritik tajam dari kelompok hak asasi manusia dan politisi anti-pemerintah.

"Inggris telah mendukung rezim Saudi dan koalisi yang menginvasi Yaman dan sekarang menjatuhkan sanksi kepada Rusia karena menyerang Ukraina. Perjalanan ke Arab Saudi berarti mendukung pelanggaran hak asasi manusia," kata Massoud Shajreh, kepala Komisi Hak Asasi Manusia Islam. 

Pada saat yang sama, Inggris, bersama dengan Amerika Serikat, selalu mengkritik situasi hak asasi manusia di negara-negara yang menentang Barat.(PH)

Tags