Mar 20, 2022 11:56 Asia/Jakarta

Gedung Putih merilis pernyataan bahwa Presiden AS Joe Biden, dalam percakapan dengan Presiden Cina Xi Jinping pada hari Jumat (18/03/2022), menjelaskan konsekuensi dari kemungkinan dukungan materi Beijing untuk Moskow, dan bahwa pembicaraan tersebut berfokus pada invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina.

Di bagian lain dalam pernyataan Gedung Putih, Biden dalam pertemuan virtual ini menekankan dukungannya untuk solusi diplomatik, tanpa lupa mencatat kemungkinan konsekuensi dari kemungkinan dukungan Beijing untuk aksi militer Moskow.

Dalam pertemuan virtual ini, Presiden Cina juga menekankan bahwa konflik tidak menguntungkan siapa pun dan bahwa Beijing dan Washington harus menanggung beban tanggung jawab internasional untuk perdamaian.

Presiden AS Joe Biden dan Presiden Cina Xi Jinping

"Hubungan antarnegara seharusnya tidak mencapai tingkat konflik militer, dan krisis Ukraina bukanlah sesuatu yang ingin kita lihat," katanya.

Percakapan virtual antara Joe Biden dan Xi Jinping sebenarnya hanya peringatan kembali Washington terhadap Beijing agar tidak memberi dukungan ekonomi atau militer apa pun kepada Rusia selama perang Ukraina. Washington telah berulang kali memperingatkan Beijing soal mendukung invasi Moskow.

Pemerintahan Biden mengklaim prihatin bahwa Moskow akan menggunakan kemampuan ekonomi, perdagangan, dan keuangan Cina untuk mengurangi dampak negatif sanksi, mengingat sanksi komprehensif yang dijatuhkan terhadap Rusia.

Baca juga: Soal Taiwan, Presiden China Keluarkan Peringatan kepada Biden

Washington juga mengklaim prihatin bahwa Rusia akan merujuk ke Cina untuk memenuhi beberapa kebutuhan militernya, seperti drone, kendaraan lapis baja dan kendaraan perang lainnya, dan dengan demikian dapat menahan tekanan Barat.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pada hari Kamis (17/3) bahwa Washington prihatin dengan Cina yang menyediakan peralatan militer ke Rusia.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan juga menyampaikan pandangan dan tuntutan Washington ke Beijing pada hari Senin (14/3) selama pertemuan tujuh jam dengan seorang diplomat senior Cina di ibu kota Italia, Roma.

Para pejabat Gedung Putih menggambarkan pertemuan itu sebagai "sulit" dan "intens."

Gedung Putih merilis pernyataan bahwa Presiden AS Joe Biden, dalam percakapan dengan Presiden Cina Xi Jinping pada hari Jumat (18/03/2022), menjelaskan konsekuensi dari kemungkinan dukungan materi Beijing untuk Moskow, dan bahwa pembicaraan tersebut berfokus pada invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina.

"Kami ingin tahu dari Cina, yang merupakan kekuatan yang sangat penting di panggung internasional, bahwa masa depannya adalah dengan Amerika Serikat, dengan Eropa, dan dengan negara maju dan berkembang lainnya. Masa depan mereka tidak dengan mendukung Vladimir Putin," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman.

Tentu saja, Cina telah menolak untuk mengutuk operasi militer di Ukraina yang bertentangan dengan keinginan Barat, terutama Amerika Serikat. Beijing sebelumnya bersikeras pada "solusi demokratis" untuk perang Ukraina, mengakui kedaulatan Ukraina, tetapi menekankan bahwa "masalah keamanan Rusia" juga harus diperhitungkan.

Cina dan Rusia mengumumkan kemitraan strategis "tak terbatas" mereka bulan lalu. Beijing telah menolak untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

Sekarang, dalam konfrontasi Rusia-Barat yang meluas atas Ukraina, Cina sebenarnya berada di pihak Rusia. Itulah sebabnya Amerika Serikat khawatir bahwa Beijing akan membantu Moskow menghindari sanksi Barat.

Baca juga: Menlu Rusia: AS Bangun 300 Laboratorium Biologi di Seluruh Dunia

Sementara krisis Ukraina telah menjadi perhatian utama Gedung Putih dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat AS mengatakan pandangan mereka tentang Cina tidak berubah.

Pada Maret 2021, pemerintahan Biden merilis rancangan awal strategi keamanan nasionalnya, yang menyebut Cina sebagai ancaman nomor satu bagi Amerika Serikat. Para pejabat senior militer AS seperti Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley bahkan secara eksplisit menganggap Cina sebagai tantangan geostrategis terbesar bagi Amerika Serikat.

Kepala Staf Gabungan َAS Jenderal Mark Milley

Sejatinya, kekhawatiran para pejabat Washington adalah bahwa Cina, mengingat invasi Rusia ke Ukraina, memanfaatkan peluang saat ini untuk solusi militer bagi masalah Taiwan dan penyatuan kembali dengan wilayah Cina dan menyerang Taiwan.

Mungkin dengan alasan itu, dalam sebuah percakapan dengan Xi Jinping, mengacu pada ketegangan di kawasan Asia-Pasifik, Joe Biden mengatakan kepada mitranya dari Cina bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah dan bahwa Washington menentang setiap perubahan sepihak dalam status quo. (sl)

Tags