Mar 23, 2022 11:31 Asia/Jakarta

Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa pada hari Senin (21/03/2022) mengesahkan strategi pertahanan dan keamanan baru. Dewan Uni Eropa (UE) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dokumen, yang disebut "Kompas Strategis", menguraikan rencana aksi untuk memperkuat kebijakan keamanan dan pertahanan UE hingga tahun 2030.

Kompas Strategis meningkatkan kemandirian strategis UE dan kemampuannya untuk bekerja dengan berbagai mitra untuk mempertahankan nilai dan kepentingannya, kata pernyataan itu.

Program ini bertujuan untuk menjadikan UE sebagai penyedia keamanan yang lebih kuat dan lebih mampu melengkapi komitmen NATO.

Image Caption

Uni Eropa sedang membentuk 5.000 "pasukan reaksi cepat" untuk menangani krisis internasional dan menempatkan 200 spesialis keamanan dan pertahanan yang benar-benar diperlengkapi dengan baik dalam keadaan siaga dalam waktu 30 hari.

Tentara UE juga melakukan latihan darat dan udara secara teratur dan mengembangkan kemampuan melawan serangan siber, ancaman multilateral, dan informasi yang salah. UE juga akan mengembangkan strategi keamanan ruang angkasa.

Baca juga: Putus Hubungan dengan Rusia, Eropa akan Rugi Besar secara Ekonomi

Dokumen tersebut juga menjelaskan kemitraan dengan negara-negara sekutu dan mitra strategis, seperti Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, Inggris dan Jepang, serta organisasi seperti NATO, PBB, Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa, dan ASEAN.

Tampaknya setelah perkembangan keamanan pada tahun 2021, terutama penarikan tergesa-gesa Amerika Serikat dari Afghanistan tanpa berkonsultasi dengan mitra Eropa, serta terjadi friksi yang ada selama kepresidenan mantan Presiden AS Donald Trump antara dua sisi Atlantik terkait biaya militer dan tingkat partisipasi dalam NATO, sekarang ada perkembangan baru di kancah Eropa yang telah memaksa negara-negara Eropa untuk sesegera mungkin mewujudkan kemampuan pertahanan dan militer Eropa yang mandiri.

Secara khusus, rencana untuk meninjau kembali strategi keamanan UE telah ditetapkan tahun lalu setelah penarikan pasukan AS dan NATO yang memalukan dari Afghanistan menyusul jatuhnya Kabul.

Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa pada hari Senin (21/03/2022) mengesahkan strategi pertahanan dan keamanan baru. Dewan Uni Eropa (UE) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dokumen, yang disebut "Kompas Strategis", menguraikan rencana aksi untuk memperkuat kebijakan keamanan dan pertahanan UE hingga tahun 2030. 

Serangan Rusia ke Ukraina, yang dianggap belum pernah terjadi sebelumnya di Benua Eropa setelah Perang Dunia II, telah menyebabkan perubahan serius dan mendalam dalam pendekatan militer, keamanan, dan bahkan persenjataan negara-negara Eropa.

Contoh nyata dari hal ini adalah peningkatan anggaran militer Jerman dan Polandia yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta pemesanan senjata baru ke Amerika Serikat. Jerman, yang sebelumnya, terlepas dari desakan Washington selama era Trump, enggan memenuhi tuntutan AS, kini telah turun tangan, mengalokasikan 100 miliar euro untuk anggaran militer dan memesan jet tempur F-35 generasi kelima dari Amerika Serikat.

Uni Eropa kini serius memperhatikan tingkat ancaman keamanan, bahkan ada kekhawatiran perang Ukraina bisa merembet ke negara-negara tetangga, terutama Polandia. Hal ini telah menyebabkan dokumen yang diratifikasi oleh menteri-menteri luar negeri Uni Eropa berkomitmen untuk secara signifikan meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka dan untuk mendukung industri pertahanan Eropa.

“Langkah ini memberi UE alat yang dibutuhkan untuk menjadi pemain di bidang pertahanan dan keamanan geopolitik yang nyata bersama NATO,” tulis Menteri Luar Negeri Latvia Edgars Rinkevics dalam sebuah pesan.

Baca juga: Berlin Mengakui Jerman Sangat Rentan Menghadapi Sanksi Rusia

Menyambut penerapan strategi keamanan dan pertahanan yang telah dikerjakan selama lebih dari dua tahun, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan, "Situasi permusuhan saat ini membutuhkan lompatan kuantum ke depan."

Pada saat yang sama, Amerika Serikat, sebagai pemenang dari situasi keamanan yang memburuk di Eropa, memanfaatkan sepenuhnya kesempatan ini untuk menyelaraskan semakin banyak negara-negara Eropa dengan kebijakan dan posisinya melawan Rusia.

Gedung Putih

Washington bukan hanya berusaha untuk membuat negara-negara anggota NATO lebih bergantung pada dirinya, tetapi juga berusaha untuk mengintensifkan permusuhan antara UE dan Rusia serta memutuskan hubungan antara keduanya dalam berbagai dimensi ekonomi, perdagangan, energi, keuangan dan perbankan, serta politik dan keamanan, sehingga mampu memberikan pengaruh dalam rangka memperluas kepentingannya sebagai kekuatan dominan di Benua Eropa.(sl)

Tags