Apr 01, 2022 15:24 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi memimpin pertemuan ketiga para Menlu Negara-negara Tetangga Afghanistan di Tunxi, Provinsi Anhui, Cina timur pada tanggal 30 dan 31 Maret 2022.

Pertemuan kedua Menlu Negara-negara Tetangga Afghanistan diadakan di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada 27 Oktober 2021, dan pertemuan pertama diselenggarakan oleh Pakistan secara online pada 8 September.

Menteri Luar Negeri atau perwakilan dari Pakistan, Iran, Rusia, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan menghadiri pertemuan yang disebut sebagai "Dialog Menlu Negara-negara Tetangga Afghanistan Plus Afghanistan" tersebut.

Pertemuan ini dihadiri oleh Amir Khan Muttaqi, penjabat Kementerian Luar Negeri pemerintah sementara Afghanistan. Menlu Republik Indonesia dan Qatar juga diundang sebagai tamu.

Pertemuan ketiga Menlu Negara-negara Tetangga Afghanistan di Cina menekankan kesalahan Amerika Serikat dalam krisis Afghanistan. Selain itu, kerja sama regional untuk membantu memecahkan masalah Afghanistan merupakan fokus penting dari pertemuan tersebut.

Tetapi apa yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh kalangan regional dan internasional untuk membantu menyelesaikan masalah Afghanistan adalah interaksi dengan Taliban agar menerima persyaratan internasional untuk memerintah Afghanistan, termasuk memenuhi hak-hak kewarganegaraan rakyat negara ini. Hal ini sebagai landasan untuk pengakuan internasional terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan.

Kalangan internal di Afghanistan meyakini bahwa meskipun perang saudara di negara ini, yang faktor terpentingnya adalah Taliban, telah sangat berkurang setelah menguasai Afghanistan, tetapi perdamaian dan partisipasi nasional di negara ini belum terbentuk, dan Afghanistan terus menghadapi tantangan, perang dan konflik internal antara Taliban dan para penentang kelompok ini.

"Meskipun konflik internal di Afghanistan kini telah mereda, namun para penentang Taliban sedang menunggu untuk melihat apakah tekanan luar terhadap Taliban untuk membentuk pemerintahan yang inklusif berhasil atau tidak? Jika tidak, dan dengan awal musim semi ini, kemungkinan akan dimulai konflik di Afghanistan, dan ini tetap menjadi perhatian," kata Soroush Amiri, seorang pakar masalah Afghanistan.

Republik Islam Iran dalam pertemuan Menlu Negara-negara Tetangga Afghanistan menyatakan bahwa akar masalah di Afghanistan adalah pendudukan lama oleh penjajah dan kebijakan keliru Amerika Serikat. Perwakilan pemerintah Tehran juga mengumumkan solusi untuk mengeluarkan Afghanistan dari situasi saat ini.

Salah satu solusinya adalah dengan menciptakan suasana wacana politik di masyarakat Afghanistan untuk lebih memahami lingkungan pemerintahan negara tersebut guna mengelola urusan negara.

Tidak diragukan lagi, rakyat Afghanistan, setelah mengalami empat dekade perang dan pertumpahan darah, akan menyambut baik pembentukan perdamaian, keamanan, dan proses nasional untuk urusan pemerintahan. Pembentukan pemerintah inklusif adalah masalah internal Afghanistan, dan Taliban dan pihak-pihak politik dan agama di negara ini harus mencapai kesepakatan terkait hal itu.

Abolfazl Zohrehvand, seorang pakar di Afghanistan mengatakan, Afghanistan telah terpukul keras oleh monopoli kekuasaan, dan Taliban telah mengalami periode pengalaman yang gagal terkait hal ini. Oleh karena itu, semua pihak yang berkonflik politik di Afghanistan harus memahami kondisi dan belajar dari masa lalu untuk membentuk pemerintahan yang komprehensif.

Yang pasti, fokus dari semua pandangan yang diungkapkan dalam pertemuan di Tunxi adalah pada pembentukan pemerintah inklusif dengan partisipasi nasional dan penghormatan terhadap hak-hak sipil, yang harus menjadi perhatian Taliban.

Oleh karena itu, sejalan dengan pembentukan mekanisme intra-regional untuk membantu rekonstruksi Afghanistan, pembentukan pemerintah nasional dengan partisipasi semua pihak harus dipertimbangkan secara serius oleh Taliban.

Selain itu, kelanjutan bantuan internasional tampaknya juga dipengaruhi oleh pendekatan Taliban atas masalah tersebut, yang menjadi tuntutan penting dunia. (RA)

Tags