Apr 06, 2022 10:18 Asia/Jakarta

"Penerapan larangan penanaman opium di Afghanistan akan memiliki konsekuensi ekonomi, politik dan sosial yang mendalam di negara ini dan ekonomi hitam global. Produksi opium pernah mencapai minimal 200 ton hanya sekali dalam 32 tahun terakhir ketika pemimpin Taliban saat itu melarang penanaman opium. Sementara produksi opium selalu meningkat dan mencapai ribuan ton," cuit Asisten Menteri Luar Negeri Iran Seyed Rasoul Mousavi pada hari Senin (04/04/2022).

Pada era pertama ketika Taliban memerintah Afghanistan, pemimpin kelompok itu juga melarang penanaman opium, yang menyebabkan penurunan signifikan dalam produksi opium di negara itu.

Hibatullah Akhundzada, pemimpin Taliban

Taliban pada hari Minggu (03/4) mengeluarkan perintah yang dikaitkan dengan pemimpin kelompok itu, Hibatullah Akhundzada, yang menyatakan bahwa sekarang "melarang" penanaman, produksi dan penjualan narkotika di Afghanistan, dan mereka yang melanggar akan ditindak berdasarkan "hukum Islam".

Perintah pemimpin Taliban menyatakan bahwa "sejak dikeluarkannya perintah ini, penanaman opium telah sepenuhnya dilarang di seluruh negeri dan tidak seorang pun boleh mencoba menanam tanaman ini setelah ini".

Dikatakan juga bahwa siapa pun yang menanam opium setelah ini, tanamannya akan dimusnahkan dan pelanggarnya akan ditindak sesuai dengan hukum Islam. Dia juga melarang penggunaan dan penjualan narkotika dan alkohol di seluruh Afghanistan.

Perintah itu dikeluarkan setelah kehadiran 20 tahun pasukan asing di negara itu di Afghanistan. Selama itu pula, telah terjadi peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penanaman dan produksi narkotika.

Afghanistan, telah menjadi produsen narkotika terbesar di dunia, dengan memasok 90 persen opium dunia. Sejak tahun 2002, budidaya dan produksi narkotika di Afghanistan terus meningkat.

Selama pendudukan Afghanistan, ketika pasukan AS dan NATO memiliki kehadiran besar di negara itu, terlepas dari klaim Barat tentang perjuangan melawan penanaman dan produksi narkotika, tetapi dalam praktiknya produksi opium di Afghanistan meningkat secara signifikan.

Menurut PBB, pada tahun 2000 produksi narkotika di Afghanistan turun di bawah 200 ton dan area yang ditanami sekitar 7.000 hektar. Namun dengan kehadiran negara-negara NATO dan Amerika Serikat serta dukungan mereka dalam waktu kurang dari dua dekade, produksi narkotika menjadi lebih dari 9.000 ton dan meningkat 50 kali lipat.

Hal ini menimbulkan banyak masalah dan tantangan bagi negara-negara tetangga Afganistan, khususnya Iran, yang digunakan oleh para pengedar narkoba sebagai jalur transit narkotika ke Eropa.

Faktanya, Republik Islam Iran telah mengeluarkan biaya besar dalam beberapa dekade terakhir untuk memerangi produksi dan perdagangan narkoba serta untuk memerangi geng-geng perdagangan narkoba. Sejumlah besar tentara dan personel militer dan penegak hukumnya telah menjadi martir.

Republik Islam Iran, sebagai garda terdepan dalam memerangi peredaran narkotika di dunia, telah mengorbankan lebih dari 12.000 veteran dan martir dengan cara ini.

PBB telah menobatkan Iran sebagai negara pembawa panji dalam perang melawan narkoba. Iran juga memiliki jumlah deteksi dan penangkapan narkotika tertinggi di dunia, meskipun ada sanksi, dengan penyitaan lebih dari seribu ton narkotika per tahun.

Tentu saja, dalam konteks saat ini di mana Taliban telah merebut kekuasaan di Afghanistan, kebutuhan untuk memerangi produksi narkotika melalui larangan penanaman dan produksi opium adalah tugas yang mendesak dan penting.

Pada pada kenyataannya ini merupakan ujian dari klaim kelompok tersebut untuk mencoba menciptakan hubungan damai berdasarkan kepentingan bersama dengan negara-negara tetangga, termasuk Iran.

Eskandar Momeni, Sekretaris Jenderal Badan Pengawasan Narkotika Iran

Eskandar Momeni, Sekretaris Jenderal Badan Pengawasan Narkotika Iran, mengatakan, "Republik Islam Iran menyambut baik setiap pengurangan produksi dan penanaman narkotika di Afghanistan dan telah melakukan semua konsultasi yang diperlukan dengan forum internasional di masa lalu dan sekarang di masalah penanaman alternatif, mata pencaharian dan mengurangi produksi narkotika di Afghanistan."(sl)

Tags