Apr 16, 2022 16:04 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi foto tentara AS.
    Ilustrasi foto tentara AS.

Perkembangan di Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, meningkatnya jumlah tentara AS yang bunuh diri.

Biro Pencegahan Bunuh Diri Pentagon mengeluarkan data terbaru yang menunjukkan peningkatan jumlah tentara AS yang bunuh diri, hingga mencapai titik tertinggi yang mengkhawatirkan.

Angka terbaru yang dirilis oleh Biro Pencegahan Bunuh Diri Kementerian Pertahanan AS pada hari Sabtu (9/4/2022) menjelaskan jumlah kematian akibat bunuh diri di kalangan prajurit AS pada tahun 2021 telah mencapai tingkat tertinggi sejak sebelum Perang Dunia II.

Menurut laporan ini, pada tahun 2021, ada 176 kasus bunuh diri di kalangan tentara AS. Sebelumnya, 174 pada tahun 2020 dan 145 pada tahun 2019.

Secara keseluruhan, tingkat bunuh diri pada tahun 2021 adalah 36,18 per 100.000 tentara.

Di kalangan tentara sadangan Angkatan Darat AS juga terjadi 45 kasus bunuh diri pada tahun 2021, sedikit meningkat dari tahun sebelumnya.

Tahun lalu, ada 101 kematian bunuh diri di Garda Nasional AS, dengan penurunan empat lebih sedikit dari tahun 2020.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu oleh War Cost Project di Universitas Brown memperkirakan bahwa 30.177 veteran militer AS tewas akibat bunuh diri sejak 2001.

Pada tahun 2020, tingkat bunuh diri untuk tentara berusia 18 hingga 24 tahun lebih dari dua kali lipat dibandingkan warga sipil.

Peraturan khusus untuk mencegah bunuh diri Angkatan Darat AS diumumkan untuk pertama kalinya pada tahun 2020. Aturan tersebut awalnya dijadwalkan akan dirilis musim gugur yang lalu, tetapi ditunda dan diharapkan akan dirilis tahun ini.

Gedung Putih: Perundingan Wina Tetap Berlanjut

Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki menyatakan bahwa negosiasi di Wina masih berlangsung dan AS masih mengejar pembicaraan ini.

Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki dalam wawancara dengan Fox News hari Minggu (10/4/2022) mengatakan, "Kami tidak tahu apakah akan mencapai kesepakatan atau tidak,".

Dia khawatir Iran akan membuat kemajuan yang signifikan dalam memperoleh senjata nuklir, dengan mengutip kekhawatiran tentang kemajuan program nuklir damai Iran dalam kerangka IAEA. Padahal, klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh Badan Energi Atom Internasional. Ini bukan untuk kepentingan kami.

"Iran telah membuat langkah besar menuju tercapainya senjata nuklir. Jelas ini tidak sejalan dengan kepentingan kami," ujar Psaki.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian hari Sabtu mengungkapkan, "Kami akan melanjutkan jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan yang bermartabat, langgeng dan baik. Tetapi Amerika memberlakukan kondisi baru di bidang pencabutan sanksi di luar negosiasi."

"Tiga negara Eropa (Prancis - Inggris - Jerman) serta China dan Rusia kritis terhadap beberapa ambisi AS dalam negosiasi ini. Faktanya, ini adalah cara yang dilakukan Amerika Serikat yang tidak konsisten dengan semangat. kerja sama dalam pembicaraan Wina," ujar Abdollahian.

Putaran kedelapan perundingan yang dimulai pada 27 Desember 2021, memasuki fase baru pada 11 Maret 2022, atas saran Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, dan para perunding kembali ke ibu kota mereka untuk konsultasi politik.

Sejak itu, para pihak telah berbicara tentang kemajuan dalam negosiasi dan pengurangan perselisihan, tetapi masalah jaminan dan penghapusan orang maupun badan hukum dari daftar merah sanksi masih menjadi salah satu masalah yang melibatkan Amerika Serikat.

Biden Kembali Lancarkan Tudingan Baru terhadap Rusia

Presiden AS Joe Biden menyebut serangan rudal ke stasiun kereta api Kramatorsk di Ukraina, yang menewaskan puluhan warga sipil sebagai kejahatan mengerikan lainnya yang dilakukan Rusia.

Presiden AS, Joe Biden di akun Twitternya hari Jumat (8/4/2022) menulis, "Bersamaan dengan upaya mendokumentasikan tindakan Rusia, kami akan mendukung sekutu dan mitra kami dalam menyelidiki serangan itu dan meminta pertanggungjawaban dari Rusia,”.

Ukraina menuduh Rusia menggunakan bom cluster di stasiun kereta Kramatorsk yang menewaskan sedikitnya 50 orang.

Pekan lalu, PBB menerima tuduhan mengenai penggunaan bom cluster oleh pasukan Rusia setidaknya 24 kali di daerah permukiman di Ukraina.

Pada tahun 2008, lebih dari 100 negara menandatangani perjanjian yang melarang penggunaan bom cluster, tapi Rusia dan Ukraina belum menandatangani perjanjian tersebut.

Perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina dimulai pada 24 Februari dan memasuki minggu keenam.

Amerika Serikat dan Uni Eropa bereaksi terhadap operasi militer  Rusia di Ukraina dengan menjatuhkan berbagai sanksi.

Majelis Umum PBB pada hari Kamis menangguhkan keanggotaan Rusia di Dewan Hak Asasi Manusia dengan 93 suara mendukung, 24 menentang, dengan 58 abstain.

Ilhan Omar: Serangan terhadap Masjid Al-Aqsa, Tindakan Kejam dan Salah !

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ilhan Omar menyebut serangan tentara Zionis terhadap para pemuda Palestina di Masjid Al-Aqsa merupakan tindakan kejam dan salah.

Tentara rezim Zionis melukai lebih dari 220 orang dalam serangan terhadap orang-orang Palestina yang sedang berpuasa di masjid al-Aqsa dan al-Quds.

Ilhan Omar di akun Twitternya hari Jumat (15/4/2022) menulis,"Mengerikan. Ramadhan adalah waktu damai dan berinteraksi. Serangan terhadap orang di tempat ibadah mereka, yang seharusnya suci, justru menjadi tindakan kejam dan salah,"

“Kita harus mengutuk kebiadaban ini dan mengakhiri kemunafikan,” kata Ilhan Omar.

Sementara itu, Human Rights Watch Eropa dan Mediterania yang berbasis di Jenewa dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa politisi Israel tidak diragukan lagi bertanggung jawab penuh atas pembunuhan warga Palestina, terutama wanita dan anak-anak tidak bersenjata, yang dibunuh dengan darah dingin tanpa mengancam akan membunuh siapa pun.

Menyinggung kesyahidan 47 warga Palestina, termasuk delapan anak-anak dan dua wanita oleh pasukan Israel dalam berbagai insiden sejak awal 2022, Uni Eropa menyatakan, “Ini hampir lima kali lipat jumlah warga Palestina yang dibunuh oleh tentara pada periode yang sama tahun lalu. Israel yang tewas sekitar 10 orang."

 

AS Ingin Saksikan Kekalahan Putin dan Militer Rusia di Ukraina

Juru bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon mengatakan, Washington ingin menyaksikan kekalahan Presiden Rusia Vladimir Putin dan militer negara itu di Ukraina.

John Kirby, Sabtu (9/4/2022) menuturkan, spekulasi Rusia terkait tidak adanya keterlibatan Moskow dalam serangan ke stasiun kereta api di timur Ukraina, tidak bisa diterima.

Dalam jumpa persnya, Jubir Pentagon menjelaskan, "Kami akan melanjutkan suplai informasi kepada pasukan Ukraina untuk mempertahankan negara mereka."

Ia menambahkan, "Amerika Serikat ingin menyaksikan kekalahan Putin, dan militer Rusia di Ukraina."

Pada saat yang sama, John Kirby membantah keterlibatan AS dalam penggabungan negara-negara ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO.

"Amerika Serikat sekarang ini memiliki lebih dari 100.000 pasukan di Eropa," imbuhnya.

AS: Pakistan yang Demokratis Urgen bagi Kepentingan Kami

Juru bicara pemerintah Amerika Serikat merespon terpilihnya Perdana Menteri baru Pakistan dan mengatakan, AS menaruh perhatian besar pada kerja sama jangka panjang dengan Pakistan.

Jean Psaki, Selasa (12/4/2022) seperti dikutip situs Geo News mengatakan, Pakistan yang demokratis sangat urgen bagi kepentingan AS. Sebelumnya India dan Turki menyambut baik terpilihnya Shehbaz Sharif sebagai Perdana Menteri Pakistan yang baru.

Sehubungan dengan ini, Jean Psaki menuturkan, "Kami mendukung penegakan prinsip-prinsip demokrasi konstitusional secara damai, tapi kami tidak mendukung salah satu partai politik."

Ia menambahkan, "AS menaruh perhatian besar untuk bekerja sama jangka panjang dengan Pakistan, dan selamanya Pakistan yang sejahtera, dan demokratis, sangat penting bagi AS."

Saat ditanya apakah Presiden Joe Biden akan melakukan kontak telepon dengan PM baru Pakistan atau tidak, Psaki menjawab, "Terkait kontak-kontak di masa mendatang saya tidak bisa memperkirakan. Jelas, kami menjalin hubungan dengan mereka di berbagai level."

Sejak beberapa hari lalu, jutaan rakyat Pakistan yang mendukung PM terguling, Imran Khan turun ke jalan memprotes campur tangan AS di negaranya.

Sebelumnya Imran Khan sudah mengumumkan bahwa saat ini merupakan awal sebuah perjuangan untuk meraih kebebasan di hadapan konspirasi musuh asing. (RA)

Tags