May 21, 2022 16:44 Asia/Jakarta
  • Amerika Tinjauan dari Dalam 21 Mei 2022

Perkembangan Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai popularitas Presiden AS, Joe Biden semakin merosot.

Selain itu, statemen menkeu AS mengenai masalah penyitaan asset Rusia, isu laboratorium biologi Ukraina yang menjadi bagian dari program global AS, AS menguji senjata hipersonik baru, Menlu AS dan Troika Eropa bertemu membahas nasib JCPOA, statemen Pompeo mengenai masalah energi Amerika yang dinilainya politis dan bank terbesar AS mengakui kekeliruannya mengenai perkonomian Rusia yang ternyata kuat melawan sanksi.

 

Joe Biden

 

Popularitas Biden Anjlok

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, popularitas presiden Amerika Serikat di bulan Mei mencapai titik terendah selama periode kepemimpinan Joe Biden di AS.

Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru Associated Press (AP) dan Pusat Penelitian Opini Nasional (The National Opinion Research Center/ NORC), hanya 39 persen orang dewasa di Amerika yang mendukung kinerja Joe Biden, di mana angka ini lebih rendah dari bulan April.

Jajak pendapat mengindikasikan, penurunan ini juga terjadi di antara kubu Demokrat dan tingkat kepuasan dari kinerja Biden di antara sesama kubunya dari 49 persen di bulan April, turun menjadi 33 persen di bulan Mei.

Data jajak pendapat muncul di tengah meningkatnya inflasi di Amerika Serikat, mayoritasnya akibat masalah rantai pasokan di mana pemerintah Biden mengaitkannya dengan kondisi Ukraina dan keterlambatan di pemulihan pandemi COVID-19 tanpa ingin mengambil tanggung jawab atas kondisi ekonomi Amerika saat ini.

Pembahasan bantuan finansial besar pemerintah Biden kepada Ukraina di tengah-tengah kesulitan keuangan Washington, khususnya kelangkaan susu bubuk di negara ini berubah menjadi pembahasan yang panas di Amerika Serikat.

 

Janet Yellen

 

Menkeu AS: Secara Legal Kita Tak Bisa Sita Aset Rusia

Menteri Keuangan Amerika Serikat menanggapi tuntutan sejumlah pejabat Eropa untuk menyita aset Rusia, yang kemudian akan digunakan untuk merekonstruksi Ukraina.

Janet Yellen, Rabu (18/5/2022) seperti dikutip Reuters mengatakan, "AS tidak punya wewenang hukum untuk menyita aset Bank Sentral Rusia yang dibekukan karena serangan negara ini ke Ukraina."

Ia menambahkan, "Dialog dengan sekutu-sekutu AS terkait cara untuk membiayai rekonstruksi Ukraina pasca-perang yang dilancarkan Rusia, masih berlangsung."

Menurut Menkeu AS, izin khusus yang diberikan kepada Rusia untuk membayar warga AS pemilik surat berharga kemungkinan akan diperpanjang minggu depan, dan pejabat Rusia telah menciptakan kesempatan pendek untuk mencegah utang luar negeri pertama mereka sejak revolusi tahun 1917.

"Menurut saya sangat wajar jika kita membantu Rusia untuk minimal ikut menutup biaya rekonstruksi Ukraina, mengingat kerusakan berat di negara ini, dan biaya besar untuk memperbaikinya," imbuh Yellen.

Sebelumnya beberapa pejabat Eropa mengusulkan penyitaan aset valuta asing Bank Sentral Rusia senilai 300 miliar dolar yang dibekukan karena sanksi, oleh Uni Eropa, AS, dan sekutu-sekutunya.

 

Rusia: Laboratorium Biologi Ukraina Bagian dari Program Global AS

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan bahwa aktivitas perang biologis Washington di Ukraina memiliki sejarah panjang, dan menjadi bagian dari program senjata biologis AS.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, Washington memberikan perhatian khusus pada pendirian laboratorium senjata biologis di negara-negara yang terbentuk pasca-Soviet. Meskipun Amerika Serikat merupakan pihak dalam Konvensi Senjata Biologis yang telah diratifikasi pada tahun 1972 dan telah berlaku sejak tahun 1975, tapi Amerika Serikat sebenarnya merupakan pelopor dalam pengembangan berbagai jenis senjata pemusnah massal.

Sergei Ryabkov dalam pertemuan komisi Dewan Federasi Rusia yang menyelidiki laboratorium yang didukung AS di Ukraina, Senin (16/5/2022) mengatakan, "Tes biologis di Ukraina oleh perusahaan AS dan Pentagon bukanlah hal baru dan telah dilakukan selama bertahun-tahun,".

"Laboratorium Ukraina adalah bagian dari rencana bertahun-tahun Washington di seluruh dunia untuk mengembangkan program perang biologis di seluruh dunia," ujarnya.

Sebelumnya, Igor Krylov, kepala Radiation Protection, Chemical and Biological Protection Forces Rusia, mengatakan bahwa perusahaan Amerika Pfizer dan Moderna secara aktif terlibat dalam proyek laboratorium biologis Pentagon.

Pejabat Rusia mencatat bahwa para pemimpin Partai Demokrat adalah ideolog utama dari aktivitas militer dan biologi AS di Ukraina, yang secara langsung menggunakan dana pemerintah untuk eksperimen biologi rahasia di Ukraina.

 

 

AS Uji Senjata Hipersonik Baru

Angkatan Udara Amerika Serikat mengkalim berhasil melakukan uji coba senjata hipersonik yang terbang pada lima kali kecepatan suara.

Angkatan Udara AS dalam sebuah pernyataan yang disampaikan hari Senin (16/5/2022) menyatakan pihaknya berhasil melakukan uji coba senjata hipersonik pada Sabtu di lepas pantai California Selatan ketika sebuah pesawat pengebom B-52 melepaskan sebuah senjata respons cepat yang diluncurkan di udara (ARRW).

"Setelah terlepas dari pesawat, pemacu ARRW menyala dan terbakar selama durasi yang diharapkan, mencapai kecepatan hipersonik lima kali lebih besar dari kecepatan suara," kata pernyataan angkatan udara AS.

Amerika Serikat tidak sendirian dalam mengembangkan senjata hipersonik dengan kecepatan dan kemampuan manuver yang membuat mereka sulit dilacak dan dicegat.

Rusia telah menembakkan rudal hipersonik ke sejumlah sasaran di Ukraina, dan China juga telah menguji senjata hipersoniknya, kata pejabat militer AS.

Namun, kementerian luar negeri China pada Oktober 2021 membantah bahwa pihaknya telah melakukan uji coba senjata hipersonik

 

Antony Blinken

 

Menlu AS dan Troika Eropa Bertemu Bahas Nasib JCPOA

Menteri luar negeri AS bertemu dengan sejawatnya dari Jerman, Prancis dan Inggris untuk membahas kesepakatan nuklir Iran, JCPOA.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri NATO yang membahas isu Ukraina Minggu (15/5/2022) bertemu dengan dengan para sejawatnya dari troika Eropa (Jerman, Prancis dan Inggris) di Berlin guna membahas langkah bersama dalam masalah JCPOA.

Blinken menyatakan bahwa dia telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock; Menteri Luar Negeri Inggris, Elizabeth Mary Truss; dan Direktur Jenderal Politik dan Keamanan Prancis Philippe Errera untuk membahas rencana bersama dalam mendukung Ukraina menghadapi Rusia.

Blinken juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kolba untuk membahas bantuan keamanan dan ekonomi bagi Kiev.

Di sela-sela pertemuan NATO yang membahas langkah kolektif negara-negara Barat dalam menyikapi berlanjutnya perang di Ukraina, Menlu AS dan sejawatnya dari Jerman, Perancis dan Inggris tampaknya sedang mengoordinasikan sikap bersama.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price bulan lalu mengklaim negaranya siap untuk kembali ke penjanjian nuklir JCPOA.

Pembicaraan Wina putaran kedelapan yang dimulai pada 27 Desember 2021, memasuki jeda pada 11 Maret 2022, atas saran Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, dan para perunding kembali ke ibu kota mereka untuk konsultasi politik.

Sejak itu, para pihak telah berbicara tentang kemajuan dalam negosiasi dan pengurangan perselisihan, tetapi masalah jaminan dan penghapusan orang dan badan hukum dari  daftar sanksi masih menjadi salah satu masalah yang mengganjal perundingan tercapai dari pihak Amerika Serikat.

Republik Islam Iran menekankan posisi Amerika Serikat sebagai pihak yang melanggar perjanjian, maka Washington harus kembali ke perjanjian dengan mencabut sanksi, dan pemenuhan kewajiban AS perlu diverifikasi oleh Tehran

 

Mike Pompeo

 

Pompeo: Masalah Energi Amerika Politis !

Mantan Menteri Luar Negeri AS menilai masalah energi dan kekurangan minyak di Amerika Serikat sebagai masalah politik.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo hari Minggu (15/5/2022) mengatakan, "Joe Biden, Presiden AS membuat keputusan politik untuk mematikan energi ketika kita hampir tidak bergantung pada masalah energi,".

Kepala jawatan diplomatik AS di era Trump ini memperingatkan bahwa kekurangan energi yang dihadapi orang Amerika saat ini bisa jauh melampaui kekurangan susu bubuk saat ini, yang mempengaruhi banyak negara bagian.

Seiring dengan kenaikan inflasi dan harga di Amerika Serikat, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 40 tahun terakhir, kekurangan susu bubuk baru-baru ini menjadi masalah lain di Amerika.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden AS Joe Biden selama berbulan-bulan berupaya untuk menghindari konsekuensi politik dari kenaikan harga bensin, tetapi sekarang kenaikan harga gas alam telah menjadi mimpi buruk baru bagi Biden.

Sebagian penyebab kenaikan harga gas alam di Amerika Serikat adalah karena ekspornya ke Eropa untuk mengimbangi atau mengurangi ketergantungan negara-negara Eropa terhadap gas Rusia guna menekan negara itu dalam perang Ukraina.

 

 

Bank Terbesar AS: Kami Keliru, Ekonomi Rusia Ternyata Kuat Lawan Sanksi

Bank terbesar Amerika Serikat, JP Morgan Chase mengumumkan, perekonomian Rusia tidak seperti yang diduga sebelumnya, ternyata ia lebih baik dalam menghadapi sanksi-sanksi Barat.

JP Morgan Chase, Sabtu (14/5/2022) seperti dikutip Russia Today melaporkan, berdasarkan hasil survei seputar minat berbisnis di Rusia, tidak nampak resesi yang terlalu tajam di negara ini, oleh karena itu JP Morgan memprediksi akan terjadi pertumbuhan ekonomi.

Bank terbesar AS itu juga menyinggung beberapa indikator seperti frekuensi tinggi konsumsi listrik dan aliran keuangan di Rusia, yang menunjukkan perekonomian negara ini lebih baik dari yang diprediksi sebelumnya.

"Dengan demikian, data-data yang ada tidak menunjukan adanya penurunan aktivitas secara tiba-tiba, minimal untuk saat ini," imbuhnya.

JP Morgan Chase juga menganulir prediksi sebelumnya bahwa Produk Domestik Bruto, PDB Rusia untuk tiga bulan kedua tahun 2022 akan menurun 35 persen, dan akan menurun tujuh persen sepanjang tahun 2022.

"Kami berharap dampak sanksi akan terasa di Rusia pada musim-musim mendatang. Oleh karena itu sepertinya PDB Rusia akan menurun, tapi resesi tajam tidak akan terjadi," pungkasnya. (PH)

 

Tags