May 28, 2022 09:42 Asia/Jakarta

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (26/05/2022) mengumumkan syarat dimulainya kembali ekspor biji-bijian dan pupuk kimia. Di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang kekurangan pangan dan kenaikan harga, Putin mengatakan ekspor serealia dan pupuk kimia akan dilanjutkan jika sanksi terhadap negaranya dicabut.

Presiden Rusia tidak merinci syarat ekspor apakah hanya mengacu pada ekspor Rusia, atau mencakup juga ekspor Ukraina, yang telah ditangguhkan sejak akhir Februari karena penutupan pelabuhan Moskow. Putin membuat pernyataan ini dalam percakapan telepon hari Kamis (26/5) dengan Perdana Menteri Italia Mario Draghi.

Presiden Rusia Vladimir Putin

Rusia dan Ukraina bersama-sama memproduksi lebih dari 30 persen gandum dan 80 persen biji-bijian penghasil minyak, serta sebagian besar jagung dunia, dan pada saat yang sama Rusia adalah salah satu pengekspor pupuk kimia terbesar.

Oleh karenanya, gangguan pada ekspor produk-produk strategis ini telah menyebabkan krisis pangan di dunia dan beberapa peringatan telah dikeluarkan tentang kelaparan global dalam waktu dekat.

Sebelum perang, Ukraina adalah pemasok utama gandum, jagung, dan minyak bunga matahari ke negara-negara lain, terutama negara-negara miskin di Afrika Utara. Biji-bijian penghasil minyak ini saat ini disimpan di silo Ukraina dan tidak dapat diangkut.

Para ahli memperingatkan bahwa dunia hanya memiliki persediaan gandum yang terbatas untuk waktu yang terbatas. Kekurangan pupuk kimia yang meluas, masalah rantai pasokan dan kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah penyebab utama krisis ini.

"Kerawanan pangan global telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak krisis keuangan 2008," kata Sarah Menker, Direktur Growth Intelligent.

Pakar tersebut memberi tahu PBB bahwa dunia hanya memiliki waktu sekitar 10 minggu untuk gandum yang tersedia.

"Konflik antara Rusia dan Ukraina bukanlah penyebab krisis ketahanan pangan ini, tetapi perang ini telah menyulut api yang telah lama berkobar," kata Sarah Menker dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB.

Rusia dan Ukraina sekarang saling menuduh pihak lainnya mengganggu ekspor bahan makanan. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko pada hari Rabu (25/5) menyalahkan Ukraina karena menghentikan ekspor biji-bijian penghasil minyak karena telah meletakkan ranjau di pelabuhan.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (26/05/2022) mengumumkan syarat dimulainya kembali ekspor biji-bijian dan pupuk kimia. Di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang kekurangan pangan dan kenaikan harga, Putin mengatakan ekspor serealia dan pupuk kimia akan dilanjutkan jika sanksi terhadap negaranya dicabut.

Ukraina telah membantah tuduhan itu, dengan mengatakan Moskow memblokir penambatan kapal kargo dan mencuri pasokan biji-bijian tersebut dari wilayah yang didudukinya.

"Rusia siap menyediakan penyeberangan kemanusiaan untuk kapal-kapal pembawa bahan makanan Ukraina dengan imbalan pencabutan beberapa sanksi," kata Andrei Rudenko.

Pada saat yang sama, Amerika Serikat dan sekutunya kemungkinan tidak akan setuju untuk mencabut sanksi keras terhadap Rusia karena menginvasi Ukraina.

Washington dan mitra Baratnya melihat perang Ukraina, yang telah menjadi dalih untuk sanksi yang paling luas dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia, sebagai peluang unik untuk melemahkan Rusia dan bahkan keruntuhan ekonomi dan sosialnya. Oleh karenanya, mereka pasti menolak segala bentuk pengurangan level dan cakupan sanksi.

Pada saat yang sama, Barat terus-menerus menuduh Rusia menggunakan energi dan produk makanan sebagai senjata.

"Rusia menggunakan stok makanan sebagai senjata dengan konsekuensi global yang luas, seperti yang dilakukan di sektor energi," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Selasa (24/5).

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen

Menanggapi pendekatan bermusuhan ini, Moskow, sementara memberlakukan pembatasan ekspor, terutama terhadap negara-negara yang tidak bersahabat. Namun dengan pengumuman syarat Putin, praktis ekspor produk makanan strategis dan pupuk kimia, yang dianggap penting bagi pertanian dunia, akan dilakukan dengan syarat pencabutan sanksi sepihak Barat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada kebuntuan praktis dalam pengiriman produk-produk makanan pokok ke negara-negara konsumen, dan ini telah memberi dunia prospek krisis pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.(sl)

Tags