May 28, 2022 09:44 Asia/Jakarta
  • Kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Korea Selatan
    Kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Korea Selatan

Perkembangan di AS selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti, Biden: Jika Perlu Kami akan Persenjatai Korsel dengan Senjata Nuklir.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Penembakkan Terjadi di Sekolah Dasar AS, 19 Tewas, AS Berikan Peringatan Keamanan untuk Warganya di Israel, AS Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Iran, Jenderal AS: Potensi Konfrontasi Antarkekuatan Dunia Kian Serius, Mantan Dubes AS Akui Washington Bohongi Ukraina, George Soros: Untuk Pertahankan Peradaban Barat, Putin Harus Kalah.

Biden: Jika Perlu Kami akan Persenjatai Korsel dengan Senjata Nuklir

Presiden Amerika Serikat dalam jumpa pers bersama dengan sejawatnya dari Korea Selatan mengatakan, jika perlu Washington akan mempersenjatai Seoul dengan senjata nuklir.

Presiden AS Joe Biden

Joe Biden, Sabtu (21/5/2022) dan Presiden Korea Selatan sepakat untuk memperluas manuver-manuver gabungan, dan meningkatkan penempatan persenjataan AS di negara ini.

Presiden AS Joe Biden, dan Presiden Korsel Yoon Seok-youl menekankan perluasan kerja sama militer dua negara untuk mencegah ancaman Korea Utara, dan menyinggung konfrontasi dengan Cina.

Biden dan Seok-youl mengklaim aliansi kedua negara diperlukan untuk menghadapi ancaman-ancaman Korut, selain itu perlu juga untuk, membangun wilayah Indo-Pasifik yang "bebas dan terbuka", serta melindungi rantai pasokan global.

Presiden Korsel meminta jaminan lebih besar dari AS untuk mencegah ancaman Korut, dan Biden menegaskan kembali komitmen AS untuk melindungi Korsel bahkan dengan senjata nuklir jika perlu.

Presiden AS berjanji untuk mengerahkan "aset strategis" yang biasanya mencakup pesawat pengebom jarak jauh, kapal selam rudal, atau kapal induk, jika diperlukan untuk menghadapi Korut.

Penembakkan Terjadi di Sekolah Dasar AS, 19 Tewas

Aksi penembakan di negara bagian Texas, AS, menewaskan 19 orang yang disebut media negara ini sebagai aksi penembakkan terburuk dalam satu dekade terakhir.

Insiden penembakan di sekolah dasar Robb di Uvalde, Texas, Amerika Serikat, pada Selasa (24/5) siang waktu setempat menyebabkan 19 anak dan dua orang dewasa tewas dalam insiden tersebut.

Pelaku, Salvador Ramos, merupakan seorang siswa berusia 18 tahun yang tinggal di komunitas setempat. Ia kemudian tewas ditembak polisi di tempat kejadian.

Sebelum insiden di Texas, peristiwa penembakan dengan jumlah korban paling banyak terjadi pada 14 Desember 2012 di Sandy Hook Elementary School. Kala itu seorang pemuda 20 tahun, Adam Lanza, memberondongkan tembakan yang menewaskan 26 orang, dengan 20 di antaranya anak-anak berusia enam hingga tujuh tahun.

Meski insiden penembakan terus terjadi, hukum kepemilikan senjata di AS memang belum berubah dan terus menjadi isu sengit di Kongres  AS.

Masalahnya, sebagian besar legislator, terutama kaum konservatif, masih banyak menganggap kepemilikan senjata merupakan bentuk kebebasan dalam demokrasi.

Penembakan di SD Robb juga bukan yang pertama terjadi tahun ini. Bahkan, sejak awal 2022, terjadi 38 insiden penembakan di sekolah dan universitas AS sejak awal tahun.

Sementara itu, menurut Gun Violence Archive (GVA) total ada 212 insiden penembakan massal di AS sejak awal tahun ini hingga kejadian penembakan ini terjadi.

AS Berikan Peringatan Keamanan untuk Warganya di Israel

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Al Quds memperingatkan warganya untuk tidak mendatangani pusat-pusat keramaian karena adanya potensi ketegangan.

Situs Departemen Luar Negeri AS, Rabu (25/5/2022) melaporkan, merespon kemungkinan munculnya ketegangan di Israel, akibat keputusan Tel Aviv untuk menggelar Pawai Bendera di kota Baitul Maqdis, Kedubes AS terpaksa memberikan peringatan keamanan untuk warganya di wilayah itu.

Kedubes AS, Rabu malam memperingatkan warganya di wilayah pendudukan untuk menjauhi pusat-pusat keramaian, karena mungkin akan muncul ketegangan.

"Bagi warga AS diingatkan agar berhati-hati, dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan, karena peristiwa-peristiwa keamanan biasanya terjadi tanpa peringatan. Lingkungan keamanan rumit, dan tergantung pada situasi politik, dan kejadian-kejadian terbaru bisa berubah cepat," tulis Kedubes AS.

Ditambahkannya, "Dikarenakan ketegangan-ketegangan yang ada saat ini, dan masalah keamanan yang mungkin muncul di wilayah lama Jerusalem, pembatasan-pembatasan di bawah ini bagi pegawai pemerintah AS, dan keluarga mereka tetap berlaku sampai hari Senin, 30 Mei 2022."

Di antara pembatasan itu adalah, warga AS dilarang memasuki kota lama Al Quds pada malam hari atau pada hari Jumat, mereka dilarang masuk dari Bab Al Amud, Bab Al Asbat, dan Bab Al Zahara, mereka juga dilarang memasuki kota lama pada hari Minggu, 29 Mei 2022.

AS Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Iran

Departemen Keuangan AS mengklaim telah mengidentifikasi dan menjatuhkan sanksi terhadap sebuah jaringan internasional penyelundupan minyak dan pencucian uang yang dioperasikan oleh Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Departemen Keuangan AS hari Rabu (25/5/2022) bahwa Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada jaringan penyelundupan minyak dan pencucian uang internasional yang dipimpin oleh Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam.

Kementerian Keuangan AS mengklaim bahwa jaringan tersebut telah menyediakan sumber daya dari penjualan jutaan dolar minyak Iran untuk memasok kebutuhan pasukan Quds IRGC dan pasukan Hizbullah Lebanon.

Menurut klaim ini, jaringan ini bertindak sebagai salah satu elemen kunci dalam penjualan sumber daya minyak Iran.

Banyak pengamat percaya bahwa kelanjutan sanksi AS terhadap Iran sebagai tindakan bermusuhan, yang dapat merusak proses perundingan untuk menghidupkan kembali JCPOA.

Media AS: "Mampus Israel" Menggema Saat Pemakaman Syahid Khodai

Kantor berita Amerika Serikat, Associated Press mengabarkan, "Mampus Israel" diteriakan ribuan pelayat saat mengantar jenazah Syahid Hassan Sayyad Khodai, salah seorang pembela tempat-tempat suci Islam.

Associated Press, Selasa (24/5/2022) dalam laporannya menulis, "Para pelayat yang mengantar jenazah Sayyad Khodai mengatakan bahwa para martir Iran, adalah orang-orang yang loyal."

"Ribuan orang yang memberikan penghormatan terakhir kepada Hassan Sayyad Khodai, salah satu anggota IRGC yang terbunuh awal minggu ini oleh dua orang bersenjata, turun ke jalan dan meneriakan 'Mampus Israel'," tulis AP. 

Teror terhadap Kolonel Sayyad Khodai menunjukan adanya indikasi-indikasi seperti serangan mematikan sebelumnya di Iran, yang dilakukan Rezim Zionis, sebagaimana teror terhadap para ilmuwan nuklir negara ini.

Para pelayat meneriakan "Mampus Amerika", dan "Mampus Israel" saat mengantar jenazah Syahid Sayyad Khodai, dan sebagian dari mereka membawa poster bergambar Khodai bersama Syahid Qassem Soleimani.

Pada sebuah plakat bersimbol Mossad dan CIA yang dibawa para pelayat, tertulis "Iran adalah korban terorisme."

Salah seorang pelayat mengatakan, "Kami hanya ingin menuntut balas. Musuh harus tahu kami loyal kepada para syuhada, dan darah mereka berharga bagi kami."

Jenderal AS: Potensi Konfrontasi Antarkekuatan Dunia Kian Serius

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat mengatakan, bahaya konfrontasi serius antara kekuatan dunia semakin meningkat.

Mark Milley

Jenderal Mark Milley, Sabtu (21/5/2022) seperti dikutip TASS menjelaskan, "Kita sekarang berhadapan dengan dua kekuatan dunia, yaitu Cina dan Rusia, masing-masing dari mereka memiliki kemampuan militer yang luar biasa, dan keduanya benar-benar bermaksud mengubah tatanan dunia yang ada."

Ia menambahkan, "AS memasuki dunia yang terus memburuk, dan di dunia yang di dalamnya Anda bertugas, terbuka potensi konfrontasi serius internasional di antara kekuatan besar, dan potensi ini terus meningkat bukan menurun."

Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan perintah operasi militer khusus di Ukraina, dan mengatakan Moskow tidak bermaksud menduduki wilayah Ukraina, tapi ingin melucuti senjata negara itu, dan melakukan denazifikasi di sana.

Mantan Dubes AS Akui Washington Bohongi Ukraina

Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Rusia, mengakui bahwa Washington telah membohongi Ukraina, terkait tawaran menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO ke negara itu.

Mike McFaul, Jumat (20/5/2022) seperti dikutip stasiun televisi Russia Today mengakui bahwa para diplomat AS selama bertahun-tahun memberikan janji palsu kepada Ukraina untuk bergabung dengan NATO.

Hal itu disampaikan oleh mantan Dubes AS, di saat Sekjen NATO Jens Stoltenberg telah berjanji untuk mengambil keputusan cepat terkait permohonan keanggotaan Finlandia dan Swedia di NATO.

Dalam sebuah acara debat, profesor hubungan internasional Universitas Harvard, Stephen Walt mengatakan, "Pada tahun 2021 kami terus menegaskan bahwa Ukraina akan bergabung dengan NATO, dan kami terus mengatakan hal itu."

Menjawab statemen profesor hubungan internasional Universitas Harvard tersebut, Mike Mcfaul bertanya, "Apakah Anda percaya dengan hal itu ?".

"Para diplomat kami berbohong kepada Ukraina, ketika menawarkan keanggotaan NATO kepada negara itu, ya itulah yang sebenarnya terjadi," imbuh McFaul.

George Soros: Untuk Pertahankan Peradaban Barat, Putin Harus Kalah

Miliarder kapitalis radikal asal Amerika Serikat pada Forum Ekonomi Dunia di Davos mengatakan, selama Presiden Rusia tidak segera dikalahkan dalam perang Ukraina, maka Barat tidak akan bisa menyelamatkan peradabannya.

George Soros

George Soros yang dikenal sebagai "Bapak Revolusi Warna", Selasa (24/5/2022) menjelaskan, selama Rusia tidak segera di kalahkan di Ukraina, maka Barat tidak akan bisa menangani masalah perubahan iklim tepat waktu, untuk menyelamatkan peradabannya.

Ia menambahkan, "Pengiriman pasukan Rusia ke Ukraina kemungkinan adalah awal Perang Dunia Ketiga, dan peradaban kita mungkin tidak akan selamat, bahkan ketika perang di Ukraina berakhir, kondisi tidak akan pulih seperti sebelumnya."

Menurut Soros, gelombang pasca-serangan teror 11 September 2001, mulai berubah, dan rezim-rezim penumpas saat ini sedang tumbuh, dan masyarakat terbuka berada dalam kepungan, sementara Cina dan Rusia adalah wakil ancaman terbesar di dunia.

"Perang Ukraina dapat menjadi akhir dari peradaban Barat. Kita harus mengerahkan seluruh sumber daya yang kita miliki untuk mengakhiri perang ini. Jalan terbaik, atau mungkin satu-satunya jalan untuk mempertahankan peradaban kita adalah mengalahkan Vladimir Putin secepat mungkin," pungkasnya.

 

Tags