Jun 06, 2022 17:48 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden
    Presiden AS Joe Biden

Dinamika di AS pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting seperti Perjalanan Biden ke Arab Saudi dan Palestina Pendudukan Ditunda.

Selain itu, masih ada isu penting lainnya seperti Trump: Saya akan Rebut Gedung Putih dari Biden tahun 2024, Komandan AL AS Reaksi Langkah Iran Sita Dua Kapal Tanker Yunani, Menkeu AS Akui Keliru Prediksi Ancaman Inflasi, AS Dibayangi Resesi Ekonomi, AS Benarkan Penyerahan Resolusi Anti-Iran ke Dewan Gubernur IAEA, Rangkaian Insiden Penembakan di AS.

Perjalanan Biden ke Arab Saudi dan Palestina Pendudukan Ditunda

Sumber-sumber berita melaporkan bahwa rencana kunjungan Presiden AS ke Arab Saudi dan Palestina Pendudukan ditunda.

Presiden AS Joe Biden

Menurut laporan FNA, sementara sejumlah media di rezim Zionis telah memublikasikan laporan tentang kunjungan Joe Biden pada 23 Juni ke Arab Saudi dan Palestina Pendudukan, NBC News melaporkan bahwa kunjungan Presiden AS Joe Biden telah ditunda hingga Juli.

"Kami sedang bekerja untuk mengkonfirmasi tanggal (kunjungan Biden ke wilayah Asia Barat bulan depan)," kata seorang pejabat senior pemerintah Biden yang tidak disebutkan namanya kepada media AS ini.

Pada hari Jumat (03/06/2022), beberapa media Israel, seperti surat kabar berbahasa Ibrani Maariv, melaporkan kunjungan satu hari Presiden AS Joe Biden ke Tel Aviv pada 23 Juni.

Sesuai dengan laporan ini, Joe Biden berencana untuk bertemu dengan Presiden Zionis Israel Isaac Herzog dan Perdana Menteri Naftali Bennett, dan kemudian melakukan perjalanan ke Ramallah untuk bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.

Menyusul spekulasi tersebut, Presiden AS Joe Biden pada hari Jumat (3/6) mencoba membenarkan kunjungannya ke Arab Saudi meskipun ia mengkritik tajam para pejabat Saudi selama kampanye pemilihan umum presiden AS 2020.

Trump: Saya akan Rebut Gedung Putih dari Biden tahun 2024

Mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan kepada pendukungnya tentang kesiapannya bertarung di pemilu presiden 2024.

Trump sejak kalah di pemilu presiden 2020, berulang kali berbicara mengenai keinginannya untuk berpatisipasi kembali di pemilu presiden Amerika, tapi sampai saat ini secara resmi belum mengumumkan pencalonannya di pilpres mendatang.

Donald Trump

Menurut laporan Sputnik, Donald Trump Jumat (27/5/2022) di pertemuan tahunan Asosiasi Pemilik Senjata Amerika Serikat (NRA) mengatakan, "Bersama-sama kita [Partai Republik] akan mengambil kembali Kongres, kita akan mengambil kembali Senat, dan pada 2024 kita akan mengambil kembali Gedung Putih yang besar dan indah yang kita cintai dan hargai."

Trump di pidatonya mengkritik berbagai langkah pemerintah Biden termasuk manajemen penarikan Amerika dari Afghanistan, kebijakan anti-energi, kenaikan bensin, keputusan mengirim bantuan 40 miliar dolar ke Ukraina di tengah-tengah perang Rusia-Ukraina.

Sebelum ini, Presiden AS Joe Biden membenarkan dirinya akan kembali mencalonkan di pemilu presiden 2024.

Ini bukan pertama kalinya Trump berbicara mengenai keinginannya untuk mencalonkan diri di pemilu presiden Amerika.

Selama beberapa bulan terakhir, kinerja lemah Biden menangani inflasi dan kenaikan harga bensin serta kendala ekonomi membuat popularitasnya menurun tajam. Hal ini memicu kekhawatiran di antara Partai Demokrat akan kalah dari Partai Republik di pemilu sela Kongres 2022.

Komandan AL AS Reaksi Langkah Iran Sita Dua Kapal Tanker Yunani

Angkatan Laut AS menanggapi langkah Iran menyita dua kapal tanker Yunani dengan mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan mengenai masalah ini.

Timothy Hawkins, komandan Armada Kelima Angkatan Laut AS hari Jumat (27/5/2022) mengatakan, “Angkatan Laut [AS] sedang melanjutkan penyelidikan mengenai hal ini,”

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, langkah apa yang akan diambil AS menanggapi masalah ini.

Sebelumnya, Hubungan Masyarakat Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa Angkatan Laut IRGC pada hari Jumat menahan dua kapal tanker minyak Yunani, karena melakukan pelanggaran di perairan Teluk Persia.

Langkah Iran dilakukan setelah Kuasa Usaha Kedutaan Yunani di Tehran dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Iran untuk menyampaikan nota protes mengenai penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh otoritas Yunani.

Pusat informasi Kementerian Luar Negeri Iran melaporkan, Kepala Direktorat Mediterania Kementerian Luar Negeri Iran bertemu dengan kuasa usaha kedutaan Yunani untuk menyampaikan nota protes menyikapi penyitaan kapal kargo berbendera Iran yang disita negara ini mengikuti sanksi ilegal AS.

Iran juga memanggil Kuasa Usaha Swiss, dan menyampaikan protes keras Tehran kepada AS melalui kedutaan Swiss di Tehran atas berlanjutnya pelanggaran terus-menerus aturan dan hukum hak laut serta konvensi internasional, terutama kebebasan pelayaran dan perdagangan internasional oleh pemerintah AS, dan menuntut pembebasan segera kapal tanker tersebut.

Menkeu AS Akui Keliru Prediksi Ancaman Inflasi

Menteri Keuangan Amerika Serikat mengaku telah keliru memprediksi ancaman yang ditimbulkan oleh peningkatan inflasi di negara itu, dan ia telah menganggap remeh.

Janet Yellen, Rabu (1/6/2022) seperti dikutip Financial Times mengatakan, "Saya pikir telah melakukan kesalahan terkait jalur yang akan ditempuh inflasi."

Janet Yellen

Ia menambahkan, "Ada kejutan besar dan tak terduga dalam ekonomi yang telah mendorong kenaikan harga energi dan pangan, serta kemacetan pasokan yang sangat mempengaruhi ekonomi AS, tapi saat itu tidak kami tidak terlalu memahaminya, dan baru sekarang kami menyadarinya."

Kenaikan inflasi di AS pada bulan Maret 2022 telah mendorong kenaikan harga-harga, dan menjadi yang tertinggi sejak 12 bulan terakhir, dan tidak pernah terjadi selama 40 tahun terakhir.

Seperti banyak ekonom lain, Yellen, bahkan Gedung Putih sendiri percaya lonjakan inflasi tahun 2021 akan memudar relatif cepat seiring dengan pulihnya kondisi kesehatan yang terdampak wabah virus Corona, akan tetapi nyatanya tingginya inflasi bertahan, malah terus memburuk setelah Rusia menyerang Ukraina.

AS Dibayangi Resesi Ekonomi

Mantan menteri keuangan Amerika Serikat memperingatkan bahaya munculnya resesi ekonomi di negara ini.

"Ekonomi AS mungkin terlihat kuat, tetapi inflasi lebih tinggi dari yang kami harapkan," kata Lawrence Summers saat diwawancarai Televisi Bloomberg mengacu pada inflasi AS yang tak terkendali dalam pemerintahan Biden.

Terkait masa depan ekonomi negara ini dan dampak jangka panjang keputusan yang tidak efisien, Lawrence Summers menambahkan, "Kita memiliki gambara ambigu terkait masa depan ekonomi kami."

Di tahun 2021, produk domestik bruto (PDB) AS naik 11 persen. Ini adalah ekspresi dari kebijakan fiskal. Kami melihat peningkatan sebelas persen dalam pengeluaran; Jadi Anda akan melihat peningkatan inflasi, tambahnya.

Seraya mengungkapkan keraguannya terkait  penurunan inflasi di Amerika selama beberapa tahun kedepan, Summers mengatakan, "Dengan demikian kita akan menyaksikan resesi ekoonmi dalam dua tahun kedepan; Tidak ada kebijakan finansial khusus yang mampu menurunkan inflasi ke angka 2 atau 3 persen."

Mingguan Economist, cetakan Inggris Sabtu (4/6/2022) di sebuah artikelnya menulis, berlanjutnya resesi ekonomi di Amerika hingga tahun 2024 sepertinya sebuah kemungkinan, meski resesi ekonomi ini tidak akan parah, tapi dampaknya akan sangat mengkhawatirkan.

Menurut The Economist, kebanyakan orang lebih mengingat dua kasus resesi terakhir: resesi 2007-2009 dan kesulitan ekonomi akibat pandemi Corona pada 2020; Kondisi kedua kasus tersebut sangat parah dan tidak biasa.

Lebih lanjut The Economist menulis, angka inflasi tahunan, bahkan tanpa memperhatian harga bahan makanan dan bahan bakar sebesar 2,6 persen.

Perlu diingat bahwa Departemen Perdagangan Amerika akhir April seraya merilis data kondisi ekonomi negara ini menyatakan, pertumbuhan ekonomi Amerika secara mengejutkan di triwulan pertama 2022 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya anjlok 1,4 persen.

AS Benarkan Penyerahan Resolusi Anti-Iran ke Dewan Gubernur IAEA

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Ned Price membenarkan bahwa Washington bersama Prancis, Jerman dan Inggris pekan depan akan mengajukan draf anti-Iran.

Seperti dilaporkan FNA, Ned Price Kamis (2/6/2022) sore menjelaskan, Washington bermaksud untuk menemani Inggris, Prancis dan Jerman dalam mengeluarkan resolusi kepada Dewan Gubernur IAEA yang berfokus pada perlunya kerjasama penuh antara Iran dan IAEA.

Ned Price

Rencananya sidang Dewan Gubernur IAEA akan digelar Senin depan.

Amerika dan tiga negara Eropa anggota JCPOA (Inggris, Prancis, dan Jerman) berencana merilis resolusi di sidang ini dan mengkritik Iran karena "tidak bekerja sama dengan IAEA".

Sekaitan dengan ini, Juru bicara Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh Rabu (1/6/2/2022) sore saat merespon langkah ini di cuitannya menulis, rezim Zionis sebagai musuh utama JCPOA, penolak NPT dan pemilik satu-satunya senjata nuklir di Timur Tengah dan Afrika Utara. Kita tahu dan dunia pun mengetahuinya.

"Sudah tiba saatnya tiga negara Eropa dan Amerika bangun dari tidur yang disengaja," ucap Khatibzadeh.

Jubir Kemenlu Iran terkait hal ini memperingatkan AS dan tiga negara Eropa: "Anda dapat melakukan diplomasi atau sebaliknya. Kami siap untuk keduanya."

Khatibzadeh sebelumnya mengungkapkan, "Kami akan memberi jawaban kuat dan tepat atas setiap langkah tidak konstruktif di Dewan Gubernur IAEA. Tanggung jawab atas dampak setiap langkah tidak konstruktif berada di pundak mereka yang memandang Dewan Gubernur dan laporan Dirjen IAEA sebagai alat represi dan permainan politik melawan Iran."

Rangkaian Insiden Penembakan di AS

Selama pekan lalu sedikitnya terjadi tiga insiden penembakan mengerikan di AS. Amerika Serikat telah menyaksikan salah satu penembakan sekolah paling mematikan dalam beberapa tahun.

Delapan belas siswa tewas dalam penembakan di sekolah di Texas.

Murid-murid itu duduk di kelas dua, tiga, dan empat. Dua orang dewasa juga ditembak mati dalam pembantaian itu.

Insiden itu terjadi di Sekolah Dasar di Uvalde. Ini adalah kota sekitar 80 mil sebelah barat San Antonio.

Tersangka adalah seorang pria berusia 18 tahun. Dia memiliki pistol dan senapan. Tersangka dibunuh oleh polisi.

Remaja itu diduga membunuh neneknya sebelum mengamuk.

Penembakan di Texas

Insiden itu telah menyoroti budaya senjata ungu AS. 1,5 juta kematian senjata api telah terjadi antara tahun 1968 dan 2017.

Sebuah aksi penembakan kembali terjadi di kota Philadelphia di negara bagian Pennsylvania, AS yang menyebabkan empat orang tewas dan terluka.

Polisi Philadelphia mengatakan, dua orang tewas dan dua lainnya terluka dalam penembakan Senin  (30/5/2022) pagi di daerah Port Richmond di Philadelphia, Pennsylvania.

Insiden itu terjadi beberapa pekan setelah penembakan lain di dekat Temple University di Philadelphia yang menyebabkan satu orang tewas dan lima lainnya terluka.

Menurut data yang dipublikasikan, tingkat kejahatan di Philadelphia telah meningkat sekitar 4,7 persen dibandingkan tahun 2021.

Penembakan kembali terjadi di Amerika Serikat. Sedikitnya lima orang tewas pada Rabu dalam penembakan di kampus rumah sakit di Tulsa, Oklahoma termasuk pelaku.

Reuters melaporkan, Wakil Kepala Departemen Kepolisian Tulsa Eric Dalgleish dalam konferensi pers Rabu (1/6/2022) waktu setempat menyatakan pelaku menembak dirinya sendiri setelah insiden terjadi, dan beberapa orang juga terluka.

Laporan penembakan di Natalie Medical Building, gedung kantor dokter di kampus Rumah Sakit St. Francis, diterima pada Rabu sekitar pukul 16:50. Petugas menanggapi tempat kejadian dalam beberapa menit dan melakukan kontak dengan korban dan tersangka kira-kira lima menit kemudian, kata Dalgleish.

Petugas yang datang bisa mendengar tembakan di dalam gedung. Suara tembakan berasal dari lantai dua rumah sakit.

Insiden pada hari Rabu di Tulsa, Oklahoma terjadi setelah penembakan massal di supermarket di New York. Seorang pria bersenjata kulit putih membunuh 10 orang di sebuah supermarket di lingkungan Black di Buffalo, New York. Sebelumnya terjadi pula penembakan di gereja.

Polisi di Tulsa mengatakan tersangka diperkirakan berusia antara 35 dan 40 tahun. Namun belum diketahui motifnya. Menurut Dalgleish, dia yakin para korban termasuk karyawan dan pasien.

Fox News juga melaporkan bahwa jumlah yang terluka tinggi, tetapi jumlah pasti orang yang terluka dalam insiden ini belum dikumpulkan.

 

Tags