Jun 10, 2022 17:31 Asia/Jakarta
  • Cina Perbarui Pangkalan Militer Kamboja, AS Khawatir

Cina dan Kamboja memulai kerja sama memperbarui pangkalan angkatan laut terbesar negara Asia Tenggara itu, Ream, di Phnom Penh yang menuai kekhawatiran Amerika Serikat soal pengaruh China yang kian besar di kawasan.

Reuters hari Kamis melaporkan,  Duta Besar Cina untuk Kamboja, Wang Wentian dalam pidato di acara peresmian pembaruan Pangkalan Angkatan Laut Ream mengatakan, "Sebagai pilar kekuatan kemitraan sekuat baja, kerja sama militer Cina-Kamboja merupakan kepentingan mendasar dari kedua negara dan rakyatnya,".

Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Phnom Penh mengungkap kekhawatiran mereka atas pembaruan dermaga tersebut. AS menilai "keberadaan militer [China] di Ream dapat mengancam otonomi Kamboja dan merusak keamanan regional."

"Amerika Serikat dan negara-negara di wilayah tersebut telah mengatakan kekhawatiran atas kurangnya transparansi dari tujuan, alam, dan ruang lingkup dari proyek ini, pun peran militer Cina dalam pembangunan dan penggunaan setelah pembangunan fasilitas tersebut," ujar juru bicara Kedubes AS Stephanie Arzate kepada Associated Press.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Kamboja Tea Banh mengimbau komunitas internasional agar tak terlalu mengambil pusing kerja sama Phnom Penh dan Beijing tersebut.

"Tolong jangan terlalu khawatir dengan pangkalan Ream ini. Dermaga ini sangat kecil dan meski telah diperbarui, itu tak bisa menjadi pelabuhan yang mengancam negara manapun," kata Bahn.

"Kerajaan Kamboja tidak akan mengizinkan [pembuatan] pangkalan militer asing di wilayah negara ini," lanjutnya.

Bahn juga mengatakan ia telah mengundang perwakilan AS dan beberapa negara lain ke pangkalan itu untuk melihat sendiri "tidak ada apapun di sini."

Meskipun demikian, Bahn mengatakan setelah pembangunan selesai, fasilitas itu bakal menjadi zona militer terbatas dan negara asing tak akan diberikan akses.

Hubungan Kamboja dan AS terus merenggang setelah Washington menuduh Perdana Menteri Hun Sen dan partainya berupaya menekan demokrasi lewat persekusi oposisi dalam proses pemilihan umum.

Hun Sen membantah klaim tersebut, tetapi kemudian mulai mendekati Cina, yang sejauh ini merupakan investor terbesar Kamboja.(PH)

Tags