Jul 30, 2022 19:18 Asia/Jakarta
  • DPR AS
    DPR AS

Dinamika di Amerika selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, Senat AS Sahkan Rusia sebagai Negara Pendukung Terorisme.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Trump: Kebijakan Ekonomi Biden Picu Resesi Besar di Amerika, The Hill: Resesi Ancam Kesehatan Mental Rakyat AS, Mantan Senator AS Ungkap Kebuntuan Washington Hadapi Rusia, Trump Klaim Hegemoni Global AS akan Berakhir, AS Takut Uni Eropa Menyerah kepada Rusia, Anggota DPR AS: Zelensky Kalah Perang Gara-Gara Biden, AS Mundur, Pertahanan Terpadu Anti-Iran di Kawasan Batal Dibentuk, NY Times: Iran Jadi Pemain Global dalam Ekspor Drone.

Senat AS Sahkan Rusia sebagai Negara Pendukung Terorisme

Senat Amerika Serikat sepakat mengesahkan resolusi tak mengikat yang diusulkan Menteri Luar Negeri Antony Blinken, untuk mengumumkan Rusia sebagai pendukung terorisme karena langkahnya di Chechnya, Georgia, Suriah dan Ukraina.

Kongres Amerika

Keputusan Senat AS ini dirilis pada Rabu (27/7/2022), dan sebelumnya draf usulan serupa pernah disampaikan di DPR AS, dan Ketua DPR Nancy Pelosi saat itu menjadi pendukung utama draf ini.

Sejumlah pihak meyakini bahwa pengesahan draf resolusi oleh Senat ini akan memberikan tekanan lebih besar kepada pemerintah Presiden Joe Biden, karena memasukan Rusia ke daftar negara pendukung terorisme.

Di sisi lain, Kongres Amerika Serikat sampai saat ini tercatat sudah mengesahkan draf resolusi bantuan senilai lebih dari 50 miliar dolar, untuk Ukraina.

Langkah terbaru yang diambil Senat Amerika Serikat tidak lain apa yang diklaim berulangkali oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, selama perang berlangsung di negaranya.

Trump: Kebijakan Ekonomi Biden Picu Resesi Besar di Amerika

Mantan presiden Amerika, Donald Trump seraya mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah Joe Biden, memprediksikan resesi ekonomi besar bakal tiba.

Menurut laporan IRIB, Donald Trump dalam rapat umum politik di Arizona mengkritik ekonomi Amerika Serikat dan mengatakan, kebijakan ini dapat berujung pada resesi ekonomi di negara ini yang sama dengan resesi besar tahun 1929 dan 1939.

Sementara itu, salah satu mantan penasihat Barack Obama di sebuah wawancara terbaru mengatakan, "Tidak mungkin menghindari resesi ekonomi, dan diprediksikan resesi akan dimulai tahun depan, meski ada potensi lebih cepat."

Pekan lalu, jajak pendapat terbaru nasional Institut Civiqs di Amerika menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap Joe Biden turun mencapai 30 persen dan angka ini tercatat paling rendah yang tercatat hingga kini.

RealClearPolitics (RCP) yang mengavaluasi hasil sejumlah polling secara bersamaan, terkait hal ini memberi laporan bahwa tingkat kepuasan terhadap Joe Biden mencapai 38 persen.

The Hill: Resesi Ancam Kesehatan Mental Rakyat AS

Situs berita Hill mengumumkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, tanda-tanda resesi ekonomi dan inflasi yang tinggi di Amerika telah membahayakan kesehatan mental warga negara ini.

Situs berita The Hill dalam sebuah laporan hari Sabtu (23/7/2022) menyatakan bahwa indikasi resesi ekonomi menyebabkan kesehatan mental rakyat AS semakin  memburuk, seperti tingkat penggunaan narkoba yang lebih tinggi, dan dalam beberapa kasus, peningkatan tingkat bunuh diri.

Ketika AS bergulat dengan kenaikan inflasi, ancaman resesi, dan efek yang tersisa dari pandemi Covid-19, sistem perawatan kesehatan mental Amerika kekurangan staf dan dalam posisi yang rapuh untuk merespons permintaan tambahan apa pun.

"Peristiwa besar seperti Covid-19 dan penurunan ekonomi akan memberikan lebih banyak tekanan pada sistem yang sudah rapuh," kata para ahli dilansir The Hill.

Studi yang baru-baru ini diterbitkan telah mendokumentasikan tingkat kecemasan yang tinggi di antara orang Amerika karena inflasi dan kesehatan mental yang memburuk secara keseluruhan.

Konsekuensi dari epidemi Covid-19, serta perang di Ukraina dan masalah yang terkait dengan pasokan biji-bijian dan sanksi Rusia, telah menyebabkan inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perekonomian Amerika Serikat.

Mantan Senator AS Ungkap Kebuntuan Washington Hadapi Rusia

Mantan senator negara bagian Virginia menilai Amerika Serikat saat ini berada di jalan buntu dalam meghadapi Rusia dengan kebijakan sanksinya.

Richard Black

Sejak dimulainya perang di Ukraina pada 24 Februari 2022, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Uni Eropa, telah memberlakukan sanksi ekonomi yang luas terhadap Rusia.

Berbagai sanksi yang dijatuhkan Barat terhadap Rusia sejauh ini menimbulkan banyak tantangan bagi perekonomian Eropa.

Richard Black, mantan senator dari negara bagian Virginia dan pensiunan perwira militer Amerika di akun Twitternya pada Minggu (24/7/2022) malam menulis, "Kebijakan Amerika Serikat dan Barat tidak rasional dan destruktif, karena kebijakan ini menyebabkan ketegangan ekonomi makro di dunia."

"Sudah waktunya untuk berhenti menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin menaikkan harga bahan bakar, karena Moskow tidak memberlakukan pembatasan ekspor batu bara, minyak dan gas alam, tetapi Kongres AS yang melakukannya,".

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional mengumumkan bahwa embargo gas Rusia akan menyebabkan resesi ekonomi yang parah di Hongaria, Slovakia, Republik Ceko dan Italia.

Pada 14 Juni, Gazprom mengurangi kapasitas Nord Stream 1 menjadi 40 persen.

Gazprom memandang keterlambatan pengembalian turbin gas dari perawatan di Kanada oleh pemasok peralatan Siemens Energy (ENR1n. DE) terjadi akibat sanksi sebagai penyebabnya.

Uni Eropa, yang telah menjatuhkan sanksi pada Moskow, berencana untuk mengakhiri penggunaan bahan bakar fosil Rusia pada tahun 2027, tetapi saat ini mereka masih ingin terus mengimpor gas dari Rusia sampai alternatif ditemukan.

Trump Klaim Hegemoni Global AS akan Berakhir

Mantan Presiden AS, Donlad Trump mengakui tanda-tanda akan berakhirnya hegemoni global AS, dan sekarang negaranya sedang mengalami penghancuran secara sistematis.

Donald Trump

Kegagalan kebijakan Amerika di beberapa negara Asia Barat, penarikan tiba-tiba pasukan Amerika dari Afghanistan, kegagalan kebijakan Washington di Suriah dan Irak, perang di Ukraina dan kemajuan Rusia, kehadiran kuat Cina dalam perekonomian dunia dan peningkatan pengaruh politiknya di tingkat internasional menyebabkan era dunia unipolar Amerika akan berakhir, sehingga sekarang posisi Amerika tidak lagi diterima sebagai kekuatan hegemoni tunggal di dunia.

Donald Trump dalam sebuah pertemuan di Tampa, Florida hari Minggu (24/7/2022) mengkritik kebijakan pemerintah Amerika saat ini, dan berkata, "Di bawah pengaruh kebijakan pemerintahan Biden yang tidak efektif, kita telah menjadi bangsa yang tidak lagi dihormati di dunia,".

"Kita menjadi bangsa yang jadi lelucon dalam banyak hal," ujar Trump.

Di bagian pidatonya, Trump juga menyebutkan masalah bantuan keuangan dan senjata yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari Amerika Serikat ke Ukraina dan mengatakan, "Amerika sendiri menghadapi lebih banyak masalah daripada ingin mengirim bantuan keuangan dan senjata ke Ukraina dalam perang dengan Rusia,".

Mantan presiden AS itu sebelumnya mengkritik kebijakan pemerintah Joe Biden terkait perang di Ukraina dan mengatakan bahwa kebijakan tersebut dapat menyebabkan perang dunia ketiga yang berbeda dari perang dunia sebelumnya.

Saat mengkritik prioritas pemerintahan Biden, Trump mengatakan bahwa alih-alih membantu Ukraina, pemerintah harus melakukan segalanya untuk memastikan keamanan internal.

Sementara itu, hasil jajak pendapat terbaru oleh surat kabar Amerika, Washington Post dan ABC News menunjukkan bahwa 47 persen rakyat Amerika tidak puas dengan kinerja Biden dalam perang Ukraina, dan hanya 42 persen yang puas dengannya.

Selain itu, 68 persen orang Amerika mengatakan mereka tidak puas dengan kinerja Biden dalam mengendalikan inflasi, dan hanya 28 persen yang puas dengan kinerjanya.

AS Takut Uni Eropa Menyerah kepada Rusia

Media Amerika Serikat mengutip pejabat Gedung Putih mengabarkan, Washington khawatir masalah kelangkaan gas akan membuat negara-negara Uni Eropa menyerah kepada Rusia.

"Pemerintah Presiden Joe Biden mengkhawatirkan kelangkaan gas akibat berkurangnya pasokan minyak dan gas dari Rusia ke negara-negara Barat, bisa melemahkan Uni Eropa di hadapan Moskow," kata CNN, Selasa (26/7/2022).

Koordinator urusan Energi Internasional AS,  Amos Hochstein berkunjung ke Prancis dan Belgia untuk membicarakan program pencegahan AS-Eropa di tengah situasi kelangkaan gas pada musim dingin.

Mengutip statemen salah satu pejabat Washington, CNN menjelaskan, "Dampak kelangkaan gas terhadap Eropa dapat menjadi bumerang bagi AS, dan berujung dengan meningkatnya harga gas alam dan listrik secara tajam. Selain itu, masalah ini merupakan ujian besar bagi fleksibilitas dan persatuan Eropa di hadapan Rusia."

Minggu ini, pemerintah AS juga bermaksud mengadakan pembicaraan dengan negara-negara Eropa untuk menemukan cara meningkatkan produksi energi nuklir.

Hal ini dilakukan terutama karena AS berharap pemerintah Jerman semakin terdorong untuk menangguhkan program penghapusan bertahap energi nuklir, dan memperluas aktivitas tiga reaktor nuklirnya.

Anggota DPR AS: Zelensky Kalah Perang Gara-Gara Biden

Anggota DPR AS dari Partai Republik menyebut presiden Ukraina perlahan-lahan kalah gara-gara Biden memberikan peralatan minimal kepada Ukraina agar negara ini tidak jatuh ke tangan Rusia.

Sejak awal perang antara Rusia dan Ukraina meletus, negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Inggris memperkeruh konflik di Ukraina dengan menjatuhkan sanksi dan memasok senjata ke Ukraina di samping perang media.

Michael Waltz, Anggota DPR AS dari negara bagian Florida hari Rabu (27/7/2022) dalam sebuah wawancara televisi mengatakan, "Eropa harus meningkatkan tingkat bantuan mereka ke Ukraina dan harus memenuhi komitmennya karena mereka telah membuat banyak janji-janji, tetapi mereka hanya memberikan sedikit,".

"Apa yang dikhawatirkan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengenai datangnya bulan-bulan musim dingin, karena Eropa akan menjadi lebih bergantung pada minyak dan gas Rusia," ujar Waltz.

"Zelensky kalah karena pemerintah Biden hanya memberikan sedikit peralatan ke Ukraina agar tidak jatuh, tapi tidak cukup untuk menyerang," tegasnya.

Politisi Partai Republik ini menambahkan, "Vladimir Putin, presiden Rusia, sedang memulihkan pasukannya dandia akan mengulangi pekerjaan ini di tahun-tahun mendatang,".

AS Mundur, Pertahanan Terpadu Anti-Iran di Kawasan Batal Dibentuk

Seorang pejabat senior pemerintah Amerika Serikat mengatakan, pembentukan jaringan terpadu pertahanan kawasan Asia Barat, tidak punya kerangka yang jelas.

Dikutip Reuters, Kamis (28/7/2022), pejabat senior AS menuturkan, sampai saat ini belum ada kerangka untuk membentuk sistem pertahanan rudal dan udara terpadu di Timur Tengah, dan saat ini hal tersebut hanya ide.

Media-media dunia, dan pejabat Gedung Putih sebelum lawatan Presiden AS Joe Biden ke kawasan Asia Barat, melakukan manuver luas terkait pembentukan sistem pertahanan terpadu di kawasan.

Presiden AS, Joe Biden menggulirkan ide ini saat melakukan kunjungan ke Arab Saudi, dan menyampaikannya di hadapan para pemimpin sembilan negara Arab.

Akan tetapi ide Presiden Amerika Serikat untuk menjamin keamanan kawasan ini, nampaknya tidak mendapat sokongan terbuka dari negara Arab mana pun yang hadir dalam pertemuan Riyadh.

"Masalah ini sekarang baru sebuah ide. Kerangka untuknya belum ada, tapi penting bahwa Presiden AS sudah menyampaikan masalah pertahanan udara dan rudal terpadu di kawasan," tegas pejabat AS itu.

NY Times: Iran Jadi Pemain Global dalam Ekspor Drone

Surat kabar Amerika Serikat, New York Times mengatakan, Iran berubah menjadi pemain global dalam ekspor drone, dan sedang meningkatkan pengaruhnya di wilayah-wilayah yang lebih jauh dari Asia Barat.

New York Times, Kamis (28/7/2022) melaporkan, Amerika Serikat mengklaim bahwa Iran, meningkatkan penjualan drone ke negara-negara di luar kawasan Asia Barat, dan sedang berubah menjadi pemain global dalam ekspor drone.

Koran AS itu menjelaskan, Iran dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan-kemajuan yang stabil dalam desain, dan produksi drone-drone militer, dan sedang berusaha meningkatkan pengiriman drone-drone ini ke luar Asia Barat.

NY Times mengklaim, Iran juga sedang berusaha meningkatkan pengaruhnya di dunia, dan sekarang berupaya menjual drone-drone militer canggih miliknya ke negara lain, termasuk ke Venezuela dan Sudan.

"Masalah ini telah berubah menjadi sebuah sumber penting untuk penanaman investasi dan pengaruh politik bagi Iran, yang tengah dihadapkan dengan berbagai pembatasan keuangan oleh AS," imbuhnya.

Menurut laporan NY Times, saat ini Rusia menjadi salah satu konsumen potensial Iran, dan para pejabat AS minggu lalu mengklaim Rusia bermaksud memperkuat arsenalnya dalam perang Ukraina, dengan membeli ratusan drone dari Iran.

Akan tetapi Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa kerja sama militer Iran dan Rusia, sudah dilakukan sejak sebelum pecahnya perang di Ukraina.

 

Tags