Aug 06, 2022 17:53 Asia/Jakarta
  • Dolar.
    Dolar.

Perkembangan dan berita di Amerika Serikat selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, inflasi di AS yang melampaui makanan dan energi.

CNN melaporkan bahwa inflasi yang tinggi di Amerika tidak hanya terbatas pada makanan dan bahan bakar saja, tapi sudah mempengaruhi hampir semua pengeluaran masyarakat negara ini.

CNN hari Sabtu (30/7/2022) melaporkan, indeks harga konsumen di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada Juni 2022, harga beberapa kebutuhan pokok meningkat sekitar 24 persen dibandingkan sebelum epidemi Corona pada Juni 2019, yang sebagian disebabkan oleh harga minyak yang tinggi

"Lonjakan harga minyak mentah, gangguan rantai pasokan dan tekanan ekonomi terjadi secara global dan berdampak lonjakan inflasi di AS," tulis CNN dalam laporannya.

Konsekuensi dari epidemi Corona, serta perang di Ukraina dan masalah yang terkait dengan pasokan biji-bijian dan sanksi Rusia, telah menyebabkan inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perekonomian Amerika.

Para ahli ekonomi percaya bahwa AS saat ini sedang memasuki resesi ekonomi.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan tentang meningkatnya inflasi dan resesi ekonomi di seluruh dunia.

Trump: Biden tidak Terinfeksi Corona, tapi Alami Demensia

Mantan presiden AS, Donald Trump kembali melecehkan Presiden Joe Biden dan mengatakan, apa yang dialami Biden bukan Corona, tapi demensia.

Sabtu (31/7/2022), Presiden AS Joe Biden yang berusia 79 tahun dinyatakan positif virus corona untuk kedua kalinya dalam seminggu setelah tes negatif, dan sekali lagi menimbulkan pertanyaan di antara orang Amerika tentang kesiapannya untuk pemilihan presiden 2024, setidaknya terkait kondisi kesehatan.

Meski demikian Gedung Putih kembali menekankan bahwa Joe Biden berencana mencalonkan diri di pemilu presiden 2024.

Menurut laporan FNA, Donald Trump Ahad (31/7/2022) saat merespon status positif Corona Biden seraya merilis pesan yang mengejek "Sembuhlah" di jejaring sosial "Truth" menulis, apa yang dialami Biden bukan Corona, tapi demensia.

"Kasus COVID-19 kedua Joe Biden, yang terkadang disebut virus Cina, sayangnya adalah sebuah kesalahan diagnosa dokter. Sebaliknya ia menderita demensia (gejala kehilangan memori), tapi untungnya mulai sembuh," tambah Trump.

Trump, 76 tahun di akhir postingan untuk rival dan penggantinya ini menulis, "Cepatlah sembuh Joe !"

Setelah tes corona negatif dan periode lima hari penggunaan obat antivirus "Pax Lovid" Pfizer berakhir, Biden dibebaskan dari karantina pada Rabu pekan lalu. Dokter Gedung Putih Kevin O'Connor mengumumkan dalam pengumumannya pada hari Sabtu bahwa Biden telah meningkatkan jumlah tesnya karena kemungkinan infeksi kembali.

Menurut laporan, tes Biden terus negatif pada Selasa malam, Rabu pagi, Kamis pagi dan Jumat pagi, tetapi pada Sabtu pagi dia dites positif lagi. Rupanya, Biden belum menunjukkan tanda-tanda kembalinya Corona dan meyakinkan masyarakat bahwa dia baik-baik saja.

Biden Konfirmasi Pemimpin Teroris Al Qaeda Tewas

Presiden AS, Joe Biden mengkonfirmasi tewasnya Ayman al-Zawahiri, pemimpin organisasi teroris Al-Qaeda dalam serangan pesawat tak berawak di Kabul pada Senin malam waktu setempat.

Presiden AS Joe Biden, yang dikarantina karena teinfeksi ulang Covid-19 dalam pidato dari Gedung Putih Senin (1/8/2022) malam mengatakan, "Ayman al-Zawahiri, pemimpin kelompok al-Qaeda yang telah membunuh banyak orang Amerika tewas  dalam serangan, di Afghanistan,".

"Al-Zawahiri memiliki peran dalam merencanakan serangan pada 11 September 2001, dan selama beberapa dekade, dia adalah dalang serangan terhadap Amerika," ujar Biden.

Presiden Amerika Serikat menjelaskan bahwa dinas intelijen Amerika mengidentifikasi Al-Zawahiri, yang dipindahkan ke pusat kota Kabul di Afghanistan awal tahun ini.

Biden juga mengklaim dirinya mengizinkan serangan yang tepat untuk melenyapkan al-Zawahiri, tapi tidak ada anggota keluarga dan warga sipil al-Zawahiri yang terluka.

Sebelum pidato Biden, Reuters melaporkan bahwa seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa Badan Intelijen Pusat AS telah menyerang target penting al-Qaeda di Afghanistan dengan pesawat tak berawak, dan Joe Biden akan menyampaikan masalah ini dalam beberapa jam mendatang.

Ayman al-Zawahiri, pemimpin kedua dan terakhir dari jaringan al-Qaeda menggantikan Osama bin Laden yang tews 2011, dikonfirmasi tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Afghanistan.

Blinken Klaim AS Siap Kembali ke JCPOA

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengklaim bahwa Washington masih siap untuk mengambil langkah maju kembali ke JCPOA.

Perundingan untuk mencabut sanksi Iran di Wina telah terputus sejak beberapa bulan lalu. Sejak awal negosiasi ini, alih-alih mengusulkan inisiatif praktis untuk kemajuan pembicaraan, pemerintah AS justru berulang kali mencoba menuduh berbagai pihak memperlambat proses negosiasi dan menciptakan hambatan dalam perjalanannya.

Pada tahun 2015, Republik Islam Iran mencapai kesepakatan dengan negara-negara yang dikenal sebagai kelompok 5+1 untuk menyelesaikan ketegangan atas program nuklirnya. Meskipun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengakui kepatuhan Iran terhadap semua kewajibannya di JCPOA, tapi pemerintah AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir internasional itu.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken yang melakukan perjalanan ke New York untuk berpartisipasi dalam Konferensi Peninjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) ke-10, hari Senin (1/8/2022) mengklaim bahwa kembali ke JCPOA adalah cara terbaik ke depan untuk membatasi nuklir Iran, dan mencegah terjadinya krisis.

"Uni Eropa telah mengajukan proposal terbaik berdasarkan negosiasi beberapa bulan. Tetapi kita harus melihat apakah Iran siap untuk maju atau tidak," ujar Blinken.

Blinken juga mengklaim tanpa menyebutkan kebijakan standar ganda diplomasi dan tekanan pemerintahan Biden terhadap Tehran, dengan menyebut langkah kembali ke JCPOA masih merupakan hasil terbaik bagi Amerika, Iran, dan dunia.

Sebagai negara yang bertanggung jawab, Republik Islam Iran telah berkali-kali menyatakan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang melanggar perjanjian, maka Washington harus kembali ke perjanjian dengan mencabut sanksi, dan Tehran harus memverifikasi implementasinya.

Pelosi Akhiri Lawatan Kontroversialnya ke Taiwan

Ketua DPR Amerika Serikat meninggalkan Taiwan, dan mengakhiri lawatan kontroversialnya ke Taipei yang sempat memicu kemarahan Cina, dan bahkan sebagian warga Taiwan sendiri.

Dikutip Reuters, Rabu (3/8/2022), Nancy Pelosi meninggalkan Taiwan, setelah menyampaikan solidaritas dan pujian atas demokrasi di sana.

Pelosi dan rombongan Kongres AS hari Selasa, setelah mengunjungi Singapura dan Malaysia, berhenti sejenak di Taiwan, sebelum melanjutkan tur Asia ke Korea Selatan dan Jepang.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen di akun Twitternya berterimakasih kepada Pelosi dan delegasi Kongres AS dan mengatakan, "Saya berterimakasih atas dukungan mendasar Anda terhadap hubungan bilateral lebih dekat yang berlandaskan nilai-nilai bersama demokrasi, kebebasan dan penghormatan atas hak asasi manusia."

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Cina menanggapi kunjungan Pelosi ke Taiwan dan mengumumkan, "Langkah ini merupakan pengkhianatan mendalam AS terhadap Kebijakan Satu Cina. Akibat dari langkah ini tidak akan baik bagi AS, dan Washington menjadi ancaman terbesar bagi perdamaian dunia."

Pelosi Kunjungi Perbatasan Korsel-Korut

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, Nancy Pelosi hari ini mengunjungi zona demiliterisasi (DMZ) di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.

Seorang pejabat Korsel hari Kamis (4/8/2022) menjelaskan salah satu agenda kunjungan Pelosi ke DMZ di perbatasan kedua Korea, wilayah dengan penjagaan militer paling ketat di dunia.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dikabarkan akan dikawal ketat pejabat Kedutaan Besar AS di Seoul, pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Korut saat mengunjungi desa gencatan senjata Panmunjom di DMZ.

Jika terjadi, Pelosi akan menjadi pejabat tertinggi AS yang mengunjungi desa gencatan senjata Panmunjom sejak Presiden Donald Trump bertemu Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un di sana pada 2019 lalu.

Reeuters melaporkan, setibanya di Seoul, Pelosi bertemu dengan Ketua Majelis Nasional atau DPR Korsel, Kim Jin-yo.

Pelosi dan Kim mengutarakan kekhawatiran AS-Korsel soal eskalasi ambisi nuklir, dan ancaman rudal Korea Utara.

Ketua DPR AS mengunjungi Singapura, Malaysia dan Taiwan sebelum melakukan perjalanan ke Korea Selatan, dan kunjungannya ke Taipei mendapat reaksi keras dari Cina.

Tags