Aug 13, 2022 17:15 Asia/Jakarta
  • Sanksi AS terhadap Rusia
    Sanksi AS terhadap Rusia

Seorang staf Kemlu Rusia memperingatkan bahwa hubungan Moskow-Washington sampai pada titik tidak dapat kembali dan lebih buruk dari saat ini.

Menurut laporan MNA, Alexander Darchev, direktur departemen Amerika Utara di Kementerian Luar Negeri Rusia Jumat (12/8/2022) mengatakan, jika Senat AS meratifikasi draf untuk menunjuk Rusia sebagai negara sponsor terorisme, maka langkah ini sama halnya bahwa Washington melalalui titik yang tidak dapat kembali.

Lebih lanjut Darchev menambahkan, langkah ini merupakan pukulan paling serius bagi hubungan diplomatik kedua pihak yang akan berujung pada penurunan dan bahkan pemutusan hubungan kedua negara.

Sebelumnya, Duta besar Rusia di Washington, Anatoly Antonov menyatakan bahwa AS tidak menunjukkan kesiapannya untuk memulai dialog terkait stabilitas strategis, tapi Moskwo siap dan bersabar hingga pihak Washington mencapai kematangan untuk melakukan hal ini.

Seraya merujuk masalah ini bahwa Rusia terbuka dan berulang kali menyatakan siap memulai dialog dengan Amerika terkait masalah ini, ia menambahkan bahwa hal ini bukan berarti Rusia akan mengejar Amerika Serikat untuk masalah ini.

Senat Amerika hari Rabu pekan lalu secara aklamasi meratifikasi resolusi meminta Menlu Antony Blinken mengenalkan Rusia sebagai sponsor terorisme karena langkahnya di Chechnya, Georgia, Suriah dan Ukraina.

Sementara itu, Blinken sampai saat ini belum menunjukkan minatnya di langkah tersebut.

Di sisi lain, parlemen Latvia Kamis malam di situs resminya seraya merilis statemen menyebut Rusia sebagai negara sponsor terorisme.

Menurut klaim Amerika, negara-negara sponsor terorisme adalah negara yang secara sistematis mendukung aksi-aksi teroris internasional, atau memiliki hubungan dengan mereka. Negara-negara yang dicantumkan di list ini akan mendapat sanksi ekonomi dan politik dari Amerika Serikat. Di tahun 2022, list ini mencakup negara-negara seperti Kuba, Korea Utara dan Suriah.

Sementara itu, Amerika justru menjadi negara yang mendukung teroris dan pejabat negara ini di masa lalu mengakui telah membentuk berbagai kelompok teroris seperti Daesh (ISIS). (MF)

 

Tags