Aug 27, 2022 18:50 Asia/Jakarta
  • Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
    Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Perkembangan dan berita di Amerika Serikat selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya penyusunan pengaduan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kasus yang baru-baru ini.

Menyusul eskalasi friksi partai di Amerika, mantan presiden Donald Trump menyatakan tengah menyusun pengaduan terhadap pemerintah saat ini.

Agen Polisi Federal AS (FBI) 8 Agustus lalu menemukan data sangat rahasia dari tempat peristirahatan Trump di Florida dan tengah menyelidiki pelanggaran tiga undang-undang federal oleh mantan presiden Amerika ini.

Menurut laporan FNA, Donald Trump Jumat (19/8/2022) menyatakan berencana mengadukan pemerintah saat ini karena memasuki properti pribadinya tanpa ijin.

Trump di jejaring sosial Truth Social menulis, "Langkah hukum Amandemen Keempat akan segera diajukan terkait masuknya secara ilegal ke rumah saya, Mar-a Lago, yang terjadi tepat sebelum pemilu sela yang sangat penting."

"Hak saya dan hak semua orang Amerika telah dilanggar pada tingkat yang jarang terlihat di negara kita. Ingat mereka bahkan memata-matai kampanye pemilihan saya. Penuntutan terbesar dalam sejarah Amerika telah berlangsung selama enam tahun tanpa konsekuensi apapun bagi para pelakunya. Tindakan ini tidak boleh dibiarkan berlanjut," papar Donald Trump.

Lebih lanjut Trump menulis, "Dalam sejarah negara kita, belum pernah ada aparat penegak hukum yang ikut campur dalam politik bangsa kita dengan cara yang keji dan kejam.

Biden Kontak Para Pemimpin Troika Eropa Bahas JCPOA

Presiden AS Joe Biden menjalin kontak telpon dengan Kanselir Jerman Olaf Schultz, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk membahas nasib JCPOA

Putaran negosiasi baru yang berpusat pada pencabutan sanksi AS terhadap Iran, yang dimulai pada 4 Agustus di Wina, berakhir pada 8 Agustus 2022.

Dalam putaran perundingan ini, beberapa usulan diajukan oleh Enrique Mora, Koordinator Uni Eropa dalam perundingan Wina.

Sebagian besar negara yang berpartisipasi dalam pembicaraan Wina menginginkan penyelesaian negosiasi yang lebih cepat, tetapi upaya mencapai kesepakatan akhir sedang menunggu keputusan politik Amerika Serikat mengenai beberapa  isu penting dan kunci yang masih tersisa.

Dalam percakapan telepon ini, kepala tiga negara Eropa dan AS berbicara tentang negosiasi saat ini mengenai program nuklir Iran dan kebutuhan untuk memperkuat dukungan bagi mitra di kawasan Asia Barat, dan upaya bersama untuk mencegah dan membatasi apa pengaruh regional Iran di kawasan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengklaim bahwa kembali ke JCPOA adalah cara terbaik ke depan untuk membatasi nuklir Iran, dan mencegah terjadinya krisis.

"Uni Eropa telah mengajukan proposal terbaik berdasarkan negosiasi beberapa bulan. Tetapi kita harus melihat apakah Iran siap untuk maju atau tidak," ujar Blinken awal Agustus lalu.

Sebagai negara yang bertanggung jawab, Republik Islam Iran telah berkali-kali menyatakan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang melanggar perjanjian, maka Washington harus kembali ke perjanjian dengan mencabut sanksi, dan Tehran harus memverifikasi implementasinya.

Dialog Biden dan Pemimpin Troika Eropa Soal JCPOA dan Iran

Presiden AS Joe Biden mengadakan pembicaraan dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Minggu (21/08/2022) malam sementara pemerintahannya sedang mengkaji proposal nuklir Iran.

Dalam percakapan telepon ini, kepala tiga negara Eropa dan Biden membahas negosiasi saat ini tentang JCPOA dan menekankan perlunya memperkuat dukungan untuk mitra di kawasan Asia Barat serta upaya bersama untuk mencegah dan membatasi apa yang disebut kegiatan destabilisasi Iran di kawasan.

Pembicaraan antara para pemimpin Amerika Serikat dan Troika Eropa mengenai perundingan pembatalan sanksi di Wina dan tanggapan Iran terhadap proposal Eropa, serta apa yang disebut peran destabilisasi Iran di kawasan Asia Barat, telah terjadi sejalan dengan sikap yang sering dan tuduhan Barat terhadap Iran.

Lebih dari 300 Dokumen Rahasia Disita dari Rumah Trump

Pemerintah Amerika sampai saat ini telah menyita lebih dari 300 dokumen dengan stempel rahasia dari rumah mantan presiden Donald Trump, termasuk dokumen dari CIA, FBI dan Dinas Keamanan Nasional negara ini.

Seperti dilaporkan IRIB, Gelombang pertama lebih dari 150 dokumen rahasia dikumpulkan oleh Layanan Arsip Nasional pada Januari, sebelum penasihat Trump menyerahkan dokumen gelombang kedua ke Departemen Kehakiman pada Juni.

Akhirnya paket dokumen ketika ditemukan dan disita selama investigasi bulan ini dari rumah Trump di Mar-a-Lago, Florida.

Departemen Kehakiman Amerika terkait hal ini dilaporkan memilih bungkam. Selain itu, wakil Trump juga menolak memberi komentar.

Donald Trump Senin (22/8/2022) meminta pengadilan federal di Florida mencegah analisa dokumen yang disita dari rumahnya sampai ada pengamat yang diangkat untuk mengawasi proses tersebut.

Pencarian tersebut merupakan bagian dari penyelidikan federal mengenai apakah Trump secara ilegal atau tidak mengambil dokumen ini pada akhir masa jabatannya pada Januari 2021.

Trump dan pendukungnya menyebut langkah FBI dan Kementerian Kehakiman AS sebagai simbol dari pelanggaran negara dan penganiayaan politik.

Washington Diam-diam Kirim Peralatan Perang ke Ukraina

Sebuah media Amerika di laporannya menulis, Amerika Serikat telah memberikan lebih banyak senjata ke Ukraina daripada yang diumumkan secara terbuka oleh pemerintah Presiden Joe Biden.

Menurut laporan Politico, seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan AS menyatakan bahwa Washington dalam satu kesempatan yang tidak diumumkan, memberikan sebuah rudal anti-radar berkecepatan tinggi untuk menghancurkan sistem radar.

Menurutnya, Amerika menyerahkan rudal anti-radar Harm kepada Ukraina, tapi di paket bantuan disebutkan sebagai "kemampuan anti-radar".Berdasarkan laporan ini, Washington di paket senjata barunya pada 19 Agustus, menyertakan peluru terpadu M982 Excalibur, sementara pemerintah tidak mengumumkan adanya peluru tersebut di paket bantuannya.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken pekan lalu di akun Twitternya menulis, nilai paket bantuan terbaru Amerika mencapai 815 juta dolar, lebih tinggi dari 775 juta dolar yang ada. Setelah menghapus potingannya tersebut, ia menulis bahwa nilai total bantuan ke Ukraina sebesar 775 juta dolar.

Sejak awal serangan militer Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan sekutunya menolak terlibat langsung di perang ini, tapi mereka mengirim senjata, amunisi dan bahan bakar kepada Kiev.

Moskow berulang kali mengatakan bahwa pengiriman senjata Barat akan membuat perang berkepanjangan dan bahkan memperingatkan bahwa pasukan Rusia secara potensial dapat menarget senjata seperti ini.

AS akan Kirim Paket Senjata Terbesar ke Ukraina

AS akan mengumumkan pengiriman paket bantuan keamanan baru senilai $3 miliar ke Ukraina.

Sejak awal perang di Ukraina hingga sekarang, negara-negara Barat mengintensifkan tekanan sanksi terhadap Federasi Rusia dan memasok semua jenis senjata ringan dan berat, amunisi dan bahan bakar ke Ukraina. Langkah tersebut bukan hanya tidak akan mengambil langkah untuk mengakhiri perang di negara ini, bahkan akan semakin mengobarkan api perang di Ukraina

Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa pengiriman senjata Barat ke Ukraina hanya akan memperpanjang konflik di negara itu dan memiliki konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

Paket bantuan senilai $3 miliar itu merupakan bantuan terbesar dari Washington ke Ukraina sejak awal perang pada Februari 2022.

Pemerintah Jerman, salah satu sekutu utama Amerika Serikat dan anggota NATO, bermaksud untuk mengirim lebih banyak bantuan senjata ke Ukraina, yang berperang melawan Rusia.

Sebelumnya, Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO, juga meminta negara-negara Barat untuk meningkatkan pengiriman senjata ke Ukraina guna membantu negara ini merebut kembali tanah yang diduduki Rusia.

Sebelas Institusi AS Desak Biden Hentikan Bantuan Militer ke Rezim Zionis

Sebelas lembaga Amerika menuntut penangguhan semua bantuan militer Amerika ke rezim Zionis.

Pada hari Kamis, 19 Agustus 2022, tentara Zionis menyerbu kantor lembaga hukum dan sipil Palestina di kota Ramallah dan menyita berkas yang ada di sana.

Situs Arabi 21 hari Rabu (24/8/2022) melaporkan, sebanyak 11 organisasi AS dalam sebuah pernyataan bersama mengatakan Amerika Serikat harus secara terbuka menentang penyitaan dokumen-dokumen yang dilakukan Israel terhadap organisasi non-pemerintah Palestina dan menuntut penghentian serangan terhadap masyarakat sipil.

"Pemerintahan Biden harus meminta Israel untuk membatalkan keputusannya menutup enam lembaga Palestina dan menghentikan semua tindakannya terhadap lembaga-lembaga ini dan karyawan mereka," kata pernyataan bersama yang disampaikan sebelas lembaga AS.

Salah satu pejabat organisasi DOWN mengumumkan, "Setelah satu tahun berlalu sejak nama-nama organisasi ini dimasukkan dalam daftar terorisme oleh Israel, Biden sepenuhnya tahu bahwa Israel tidak memiliki dokumen apa pun yang menentang organisasi sipil ini. Diamnya pemerintah AS terhadap upaya melawan masyarakat sipil Palestina pada saat Israel dibanjiri bantuan miliaran dolar menunjukkan bahwa AS menyetujui tindakan brutal Israel,".

Menteri Perang Rezim Zionis, Benny Gantz menyebut organisasi Palestina ini ilegal pada Oktober 2021. Sepuluh negara Eropa mengutuk tindakan rezim Zionis pada Januari 2022 dan menekankan bahwa mereka terus mendukung lembaga non pemerintah Palestina secara finansial.

Gedung Putih Justifikasi Serangannya ke Suriah

Koordinator Dewan Keamanan Nasional untuk komunikasi strategis AS, John Kirby menjustifikasi serangan Washington ke Suriah dan mengklaim bahwa negaranya tidak ingin meningkatkan tensi di kawasan.

Pusat Komando Militer Amerika Serikat di Timur Tengah, CENTCOM Rabu (24/8/2022) di statemennya menyatakan, militer Amerika atas instruksi Presiden Joe Biden melancarkan serangan udara ke instalasi infrastruktur di Deir Ezzor di Suriah.

Di statemen CENTCOM tidak disebutkan kerugian dan korban potensial dari serangan tersebut.

Seperti dilaporkan IRNA, John Kirby Rabu (24/8/2022) sore waktu setempat saat menjustifikasi serangan negaranya ke Suriah mengklaim bahwa tujuan serangan terbaru adalah gudang amunisi dan infrastruktur militer.

Menyusul agresi Washington ke Suriah, berbagai media melaporkan serangan terhadap dua pangkalan militer di ladang minyak al-Omar dan juga pangkalan militer negara ini di ladang gas Kuniko di timur Suriah.

Sekaitan dengan ini, jubir PBB setelah serangan Rabu dini hari militer AS terhadap rakyat dan infrastruktur Surih, menekankan dukungan atas integritas wilayah Suriah.

Jubir PBB juga menyeru pihak-pihak yang bertikai di Suriah untuk menahan diri dan menghindari langkah-langkah yang memperparah situasi.

Biden Klaim Serangan ke Suriah untuk Membela Diri

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden Kamis (25/8/2022) sore di suratnya kepada DPR negara ini menyebut serangan Washington ke wilayah Suriah untuk melindungi pasukan Amerika.

CENTCOM Rabu (23/8/2022) dalam sebuah pernyataan mengungkapkan militer AS melakukan serangan udara terhadap infrastruktur di Deir Ezzor, Suriah, atas perintah Presiden AS Joe Biden.

Seperti dilaporkan IRNA, presiden AS di suratnya menginformasikan serangan negaranya ke timur Suriah kepada ketua DPR dan Senat  serta mengklaim, instruksi serangan ini dirilis untuk melindungi dan mempertahankan keamanan pasukan Amerika.

Biden juga mengklaim bahwa Amerika siap mengambil tindakan lebih besar jika diperlukan untuk melawan setiap ancaman dan serangan.

Sebelumnya Koordinator Dewan Keamanan Nasional untuk komunikasi strategis AS, John Kirby Rabu sore waktu setempat saat menjustifikasi serangan negaranya ke Suriah mengklaim bahwa serangan ini menarget gudang amunisi dan infrastruktur militer.

"Seperti sebelumnya, Amerika tidak ingin memperparah tensi," klaim Kirby di depan wartawan di Washington.

Menyusul serangan Washington ke Suriah, berbagai sumber media Kamis (25/8/2022) mengkonfirmasi serangan ke dua pangkalan Amerika di ladang minyak al-Omar dan juga ladang gas Kuniko di timur Suriah.

Enam Warga AS Tewas dalam Perang di Ukraina

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan kematian warga negara Amerika lainnya yang telah melakukan perjalanan ke Ukraina untuk berperang menghadapi pasukan Rusia.

Perang di Ukraina dengan segala konsekuensi politik, militer, ekonomi, sosial dan bahkan budaya yang luas telah memasuki bulan ketujuh, dan negara-negara Barat terus mengirim senjata ke Ukraina.

Sejak awal perang di Ukraina, negara-negara Barat telah menahan diri dari intervensi militer langsung dalam perang ini, tetapi mereka memasok Ukraina dengan senjata, amunisi, dan bahan bakar.

Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa pengiriman senjata Barat ke Ukraina hanya akan memperpanjang konflik di negara itu dan memiliki konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

Departemen Luar Negeri AS hari Jumat (26/8/2022) mengkonfirmasi kematian seorang warga negara Amerika Serikat dalam perang di Ukraina,

Sementara itu, otoritas lokal Ukraina menyampaikan dokumen yang menunjukkan seorang warga negara Amerika di unit angkatan bersenjata A-344 tewas dalam perang dengan pasukan Rusia.

Sejauh ini, sebanyak enam warga negara Amerika yang melakukan perjalanan ke Ukraina tewas dalam perang di negara ini.

Negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, tidak hanya memberikan dukungan keuangan dan militer yang luas kepada pemerintah Ukraina dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, mereka melanjutkan dukungannya dengan mengirim tentara bayaran.

 

Tags