Sep 22, 2022 19:22 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB
    Presiden AS Joe Biden saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden di pidatonya hari Rabu (21/9/2022) di Sidang Majelis Umum PBB ke-77 menyinggung berbagai isu dan menjelaskan sikap Washington terkait isu-isu tersebut.

Salah satu isu yang dibahas Biden adalah isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan kondisinya di berbagai belahan dunia termasuk di Iran, Afghanistan dan Myanmar. Biden mengklaim bahwa negaranya "senantiasa membela HAM baik di dalam negeri, atau di berbagai penjuru dunia". Di pidatonya, Biden menegaskan bahwa Amerika Serikat juga membela hak seluruh manusia untuk mengungkapkan protesnya secara damai.

Sikap Biden soal membela HAM dirilis ketika Amerika Serikat merupakan salah satu pelanggar terbesar HAM di dunia. Meski AS melontarkan slogan mematuhi hak asasi manusia dan menjaga hak serta kebebasan individu serta sosial serta hak warga di negara ini, tapi kinerja pemerintah Amerika di berbagai isu seperti perlakuan keras dan diskriminatif serta tak manusiawi dengan warga pribumi, minoritas dan kulit hitam, perlakuan tak manusiawi terhadap imigran termasuk memisahkan anak-anak dari orang tuanya, kekerasan tak terbatas polisi Amerika terhadap kulit berwarna, kondisi tahanan, pelanggaran terhadap privasi serta banyak kasus lainnya, menunjukkan klaim palsu Washington di bidang pembelaan terhadap HAM.

Image Caption

Vahid Jalalzadeh, ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran seraya mengisyaratkan kasus pelanggaran HAM oleh Amerika mengatakan, "Penduduk Amerika menempati lima persen dari total populasi dunia, tapi 25 persen tahanan dunia berada di penjara-penjara negara ini; Kekerasan dan kezaliman terhadap warga keturunan Latin, perempuan, kulit hitam dan lainnya terjadi setiap hari, tapi Amerika dengan berbagai permainan mengaku sebagai penjaga dan pencetus HAM. Di sisi lain, Washington dituding memiliki catatan hitam di luar negeri melalui operasi militer, agresi dan kejahatan perang di berbagai negara seperti Vietnam, Afghanistan, Irak dan Suriah serta menciptakan penjara buruk seperti Guantanamo dan perlakuan tak manusiawi serta penyikaan, di mana seluruh hal ini mengindikasikan klaim palsu AS sebagai pendukung HAM.

Masalah lain yang dijelaskan presiden AS di pidatonya secara detail adalah kritikan terhadap Rusia karena menyerang Ukraina. Di bagian pidatonya ia mengklaim bahwa Moskow dengan menyerang wilayah Ukraina tanpa malu-malu telah melanggar Piagam PBB dan menarget pendiri PBB. Seraya mengkritik keputusan Rusia untuk menggelar referendum aneksasi wilayah pendudukan Ukraina ke wilayahnya, Biden mengatakan, Kremlin ingin menghancurkan hak untuk hidup Ukraina sebagai sebuah negara independen dan ia meminta komunitas internasional membela dengan tegas perjuangan Ukraina melawan agresi asing. Presiden Amerika juga juga menekankan untuk meminta pertanggungjawaban Rusia karena melakukan kejahatan perang di Ukraina.

Sementara itu, Biden telah mengkritik invasi Rusia ke Ukraina, tampaknya tidak memperhatikan catatan intervensi  Amerika yang memicu tragedi di bagian lain dunia dalam delapan puluh tahun terakhir. Selama Perang Dingin, Amerika Serikat melakukan berbagai perang dan serangan, yang terpenting adalah Perang Vietnam. Di era pasca-Perang Dingin, setelah 11 September 2001, Amerika Serikat menyerang Afghanistan dengan dalih perang global melawan terorisme dan Irak dengan dalih memiliki senjata pemusnah massal dan membunuh ribuan orang. Setelah itu, sejak 2011, pemerintahan Obama mendukung kelompok teroris di Suriah dan memberikan bantuan keuangan, logistik, dan senjata yang luas kepada kelompok-kelompok ini, serta menyebabkan perang saudara di negara ini yang menewaskan ratusan ribu orang.

Selain itu, Washington terus melanjutkan serangan drone yang dimulai di era pemerintahan Georga W. Bush hingga kini dengan dalih melawan terorisme. Serangan drone ini telah menewaskan ribuan orang di berbagai belahan dunia. Dengan demikian presiden AS sebagai negara yang paling banyak mengobarkan perang di dunia, kini mengklaim membela hak Ukraina dan aktif mengkritik Rusia. Padahal Amerika dan mitra Eropanya justru pihak yang membuat perang di Ukraina berlarut-larut dengan mengucurkan miliaran dolar kepada Kiev dalam bentuk bantuan militer dan persenjataan. (MF)

 

Tags