Sep 26, 2022 12:20 Asia/Jakarta

Peluncuran rudal balistik Korea Utara menuju Laut Jepang mendapat reaksi keras dari Jepang dan Korea Selatan.

Dalam hal ini, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida telah memperingatkan berbagai kementerian dan departemen negara itu untuk bersiap siaga setelah Korea Utara menembakkan rudal.

Perdana Menteri Jepang mengumumkan hari Ahad (25/09/2022), beberapa jam setelah peluncuran rudal Korea Utara bahwa tujuannya memerintahkan keadaan siaga untuk memastikan keselamatan pelayaran dan penerbangan sipil di kawasan, demi memberikan informasi yang cepat dan andal serta untuk menangani kemungkinan situasi.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida

Kantor Perdana Menteri Jepang telah mendirikan markas krisis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi operasional.

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Korea Selatan mengumumkan Ahad (25/9) pagi:

"Tetangga utara kami menembakkan rudal balistik tak dikenal ke arah Laut Timur (Laut Jepang)."

Para pejabat Korea Selatan mengumumkan pada 24 September bahwa mereka waspada terhadap kemungkinan peluncuran rudal balistik dari kapal selam Korea Utara.

Dalam konteks ini, seorang pejabat militer Korea Selatan mengatakan:

“Kami memantau dengan cermat fasilitas dan kegiatan terkait rudal Korea Utara dan mempertahankan kesiapan penuh.”

Peluncuran rudal balistik jarak pendek Korea Utara menuju Laut Jepang menjadi agenda otoritas Pyongyang, sementara negara-negara dominasi, terutama Amerika Serikat, telah meningkatkan tindakan provokatif mereka di kawasan Asia Timur yang tegang.

Sebenarnya, di tengah meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dengan Korea Selatan dan sekutu Baratnya, Korea Utara telah menunjukkan bahwa mereka siap untuk bereaksi terhadap tindakan provokatif dari pemerintah Barat.

Tahun ini, militer Korea Utara telah merencanakan setidaknya 18 uji coba senjata dan peluncuran rudal balistik, yang menunjukkan peningkatan persenjataan nuklir dan rudal negara itu.

Terlepas dari penambatan sejumlah kapal Amerika Serika di Asia Timur, salah satu tindakan provokatif pemerintah Barat yang dipimpin Amerika Serikat di kawasan Asia Timur adalah dengan mengadakan latihan bersama di pesisir pantai Jepang dan Korea Selatan.

Kehadiran kapal perang AS di kawasan penyebab ketegangan di Asia Timur berarti bahwa pemerintah Barat di kawasan itu sedang mencari peluang untuk menyerang Korea Utara dan menciptakan perang di kawasan sensitif ini.

Pada saat yang sama, tampaknya tujuan AS yang sebenarnya adalah untuk menekan Cina sebagai sekutu Rusia di Asia Timur. Kekuatan yang mendominasi dunia menggunakan negara lain sebagai umpan untuk saling menekan.

Peluncuran rudal balistik Korea Utara menuju Laut Jepang mendapat reaksi keras dari Jepang dan Korea Selatan.

Dalam konteks ini, jelas bahwa Amerika Serikat dan Inggris serta sekutu lain dari negara-negara ini memanfaatkan Jepang dan Korea Selatan sebagai umpan melawan pesaing regional dan global lainnya.

Namun, harus dikatakan, Korea Utara menguji coba rudal balistik jarak pendek dua hari setelah kedatangan kapal induk USS Ronald Reagan ke pantai Korea Selatan untuk latihan bersama.

Pemerintah Pyongyang sebelumnya telah mengumumkan berkali-kali:

"Karena tindakan provokatif Amerika di kawasan dengan mengadakan latihan bersama dengan negara-negara yang mengikuti Washington di kawasan itu, maka Pyongyang memperkuat infrastruktur militernya."

Korea Utara telah melakukan lusinan uji senjata dan peluncuran rudal balistik tahun ini, yang menunjukkan peningkatan persenjataan nuklir dan rudal negara itu.

AS dan sekutunya sangat prihatin dengan perkembangan militer Korea Utara. Sehubungan dengan rudal balistik Korea Utara, para ahli telah menyatakan pandangan yang berbeda.

Misalnya, Vladimir Khrustalov, ahli Rusia tentang program nuklir Korea Utara, percaya:

“Rudal baru Korea Utara menakjubkan dan akan mengesankan semua orang. Faktanya, rudal balistik baru Korea Utara terlihat seperti model rudal Scud yang diperbarui.”

Inilah sebabnya mengapa negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, serta tetangga Korea Utara, selalu menyatakan keprihatinan tentang uji coba nuklir dan rudal balistik Korea Utara, sementara Pyongyang menganggap tindakan provokatif Amerika Serikat dan kehadiran pasukan Amerika di wilayah tersebut sebagai alasan tekadnya untuk mengembangkan senjatanya.

AS Vs Korut

Pemerintah Pyongyang selalu mengutuk penempatan militer AS serta manuver militer bersama di kawasan itu sebagai latihan perang sebagai bukti kebijakan bermusuhan Washington dan Seoul.

Padahal, kehadiran militer Amerika di Asia Timur seharusnya dianggap sebagai bayang-bayang perang nyata bagi pemerintah dan bangsa di kawasan ini.(sl)

Tags