Okt 01, 2022 21:18 Asia/Jakarta
  • Putin dan empat pemimpin daerah yang baru bergabung dengan Rusia
    Putin dan empat pemimpin daerah yang baru bergabung dengan Rusia

Presiden Rusia, Vladimir Putin Jumat (30/9/2022) di acara yang dihadiri empat pemimpin wilayah Ukraina, menandatangani dokumen bergabungnya wilayah ini ke Rusia.

Putin di acara ini seraya menyinggung bahwa warga di wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson dan Zaporizhzhia mengambil pilihan yang jelas, menekankan bahwa Kiev harus menghormati pilihan warga daerah ini. Ia menegaskan, hanya dengan ini perdamaian akan terjadi.

Presiden Rusia menjelaskan, "Kami meminta pemerintah Kiev segera menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan. Rusia siap untuk berunding dengan Ukraina." Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky saat merespon bergabungnya empat wilayahnya ke Ukraina mengatakan, Kiev selama Putin menjadi presiden Rusia, tidak akan berunding dengan negara ini.

Presiden Rusia, Vladimir Putin

Aneksasi resmi empat wilayah Ukraina ke Rusia dianggap sebagai titik balik penting dalam proses perang di Ukraina yang kini telah memasuki bulan kedelapan. Meskipun Rusia memasuki wilayah Ukraina pada akhir Februari 2022 dalam bentuk operasi militer khusus untuk mendukung republik yang memproklamirkan diri Donetsk dan Luhansk, yang diakuinya merdeka, tetapi jalannya perang dan tujuan Moskow berubah dengan kelanjutannya dan perubahan situasi dan kondisi, secara bertahap berubah.

Rusia memulai operasi mereka di tenggara, timur, dan utara Ukraina, tetapi setelah kegagalan di front utara, mereka memfokuskan operasi mereka di front timur dan tenggara dan dengan menduduki sebagian besar empat provinsi Ukraina, baru-baru ini, mereka menggulirkan isu mengadakan referendum untuk menganeksasi daerah-daerah ini ke Rusia. Tentu saja, dengan menandatangani dekrit, Putin mengakui kemerdekaan Kherson dan Zaporizhzhia sebagai dua negara merdeka, sehingga tidak akan ada masalah hukum untuk aneksasi wilayah ini setelah referendum.

Poin penting yang harus disinggung masalah ini adalah kegagalan besar Barat pimpinan AS untuk mencegah kesuksesan Rusia meraih ambisinya di Ukraina. Barat sampai saat ini telah mengirim dana lebih dari 25 miliar dolar berupa senjata darat, udara, rudal, artileri, kendaraan lapis baja dan berbagai peralatan logistik kepada pemerintah Kiev.

Harapan Amerika Serikat dan NATO adalah bahwa Ukraina akan dapat mengubah arah perang dengan bantuan senjata-senjata ini dan memaksa Moskow untuk menarik diri dari pendudukannya di Ukraina. Namun, Rusia, dengan fokus menyelesaikan wilayah yang dikuasainya di empat wilayah tersebut, mewujudkan tujuan yang tampaknya telah lama ada di benaknya tanpa mengumumkannya, tanpa Amerika dan NATO mampu mengambil tindakan untuk mencegah masalah ini.

Reaksi orang Barat terhadap hal ini juga patut dipertimbangkan. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, sambil menekankan bahwa NATO tidak mengakui pencaplokan empat wilayah Ukraina ke Rusia, mengklaim bahwa masalah ini tidak akan mengubah keputusan NATO untuk mendukung Ukraina. Meski demikian, sekjen NATO yang sebelumnya berulang kali berbicara mengenai ancaman Rusia, menyatakan tidak akan terlibat perang dengan Rusia demi Ukraina. Stoltenberg mengatakan, koalisi militer ini tidak akan pernah terlibat bentrokan langsung dengan Rusia. Dengan demikian, pemerintah Kiev yang pro Barat yang senantiasa ingin secepatnya bergabung dengan NATO, secara praktis tidak mendapat bantuan mendasar untuk mengubah proses perang, yakni intervensi militer NATO melawan Rusia.

Di sisi lain, pejabat Amerika selain menentang aneksasi empat wilayah Ukraina ke Rusia, menekankan akan terus memberi dukungan persenjataan kepada Ukraina. Meski demikian bantuan ini seperti yang terbukti sampai saat ini, gagal memberi keuntungan Kiev di perang atau mencegah aneksasi empat wilayah negara ini ke Rusia.

Kini pemerintah Kiev menghadapi situasi yang mengerikan. Dari satu sisi, berlanjutnya perang di wilayah yang bergabung dengan Rusia akan memicu respon keras dari Moskow. Sementara di sisi lain, tidak mungkin untuk menghentikan perang karena tekanan Barat, khususnya AS yang bersikeras perang dengan Rusia harus dilanjutkan.

Dengan demikian, pecundang utama di krisis saat ini adalah Ukraina yang menjadi medan propaganda anti-Rusia oleh Washington dan sekutunya, serta tempat untuk menguji coba persenjataan Barat dan tidak ada prospek yang menjanjikan bagi Kiev. Sejatinya bergantung dan berharap kepada Barat akan berakhir sangat mahal bagi Ukraina. (MF)

 

Tags