Mar 13, 2019 11:06 Asia/Jakarta
  • Bendera Amerika Serikat, Korea Selatan dan Korea Utara
    Bendera Amerika Serikat, Korea Selatan dan Korea Utara

Korea Selatan mengumumkan rencananya untuk mengadakan pertemuan dua kepala Korea untuk memperkuat hubungan bilateral dan mengembalikan Pyongyang ke meja perundingan dengan Amerika Serikat.

Kementerian Unifikasi Korsel di laporannya terkait garis besar tahun 2019 menekankan, Seoul tengah memajukan perundingan antara dua Korea sehingga terbuka peluang perundingan lain antara AS dan Korut.

Pertemuan kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong un digelar 27-28 Februari di Hanoi, Vietnam dan berakhir tanpa hasil.

Donald Trump dan Kim Jong-un

Delegasi Korut usai perundingan pemimpin kedua negara tersebut menyatakan, ketamakan Trump menyebabkan perundingan ini gagal.

Program Korea Selatan dimaksudkan untuk memberikan dasar bagi pertemuan ketiga antara pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara dalam konteks pendekatan Seoul untuk mengakhiri tahun-tahun ketegangan di Semenanjung Korea, yang selalu menciptakan ketidakamanan psikologis di wilayah tersebut dengan melestarikan hantu perang di wilayah ini.

Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan yang berkuasa di negara ini dengan slogan mengurangi ketegangan dengan tetangga utara dan menciptakan perdamaian dan ketenangan di Korea Selatan, khawatir bahwa negosiasi tanpa hasil antara Washington dan Pyongyang, yang disebabkan keinginan Amerika Serikat yang berlebihan, akan berpengaruh negatif pada proses dialog dua Korea untuk bergerak dari periode panjang ketegangan dan konflik menuju kerja sama dan hidup berdampingan secara damai.

Pembicaraan dua Korea untuk mengurangi ketegangan, yang dimulai sejak awal 2018 dan masih terus berlanjut, berada di jalur yang konstruktif dan para pejabat Seoul dan Pyongyang telah mengambil langkah-langkah efektif pada tahun lalu, yang membuat prospek untuk hubungan kedua negara penuh harapan. Sekalipun perundingan Korea Utara dan Korea Selatan berada dalam tren yang berkembang, tetapi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Korea Utara mengecewakan dan dua putaran pembicaraan antara Kim Jong-un dan Donald Trump di Singapura dan Vietnam menyebabkan prospek kelanjutan dari pembicaraan semacam itu benar-benar kabur dan mengecewakan.

Posisi pejabat Amerika Serikat, terutama Donald Trump soal normalisasi hubungan antara Seoul dan Pyongyang tergantung pada perlucutan senjata nuklir Korea Utara telah mengancam proses negosiasi dan kerja sama antara kedua Korea.

Gagasan Amerika adalah bahwa setiap normalisasi hubungan antara Seoul dan Pyongyang menurut Gedung Putih tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diterima sebelum pelucutan senjata nuklir Korea Utara, yang harus dicapai dalam negosiasi dan kesepakatan akhir antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Andrea Ivanov, pakar senior Rusia dan profesor hubungan internasional mengatakan, "Bagaimanapun juga, begitu iklim perdamaian tercapai di Semenanjung Korea, Amerika Serikat akan membuat tuduhan dan tuntutan baru, dimana masalah ini akan merusak keinginan untuk menciptakan perdamaian."

Korea Selatan dan Korea Utara

Dalam situasi seperti itu, setelah kegagalan negosiasi antara Kim Jong-un dan Donald Trump, Korea Selatan berusaha untuk merealisasikan putaran ketiga perundingan Amerika dan Korea Utara melalui pembicaraan bilateral dengan Korea Utara. Sementara menurut Gedung Putih, syarat bagi dihentikannya permusuhan antara kedua Korea adalah kesepakatan antara Korea Utara dengan Amerika Serikat. Ini merupakan masalah yang tampaknya lemah untuk dicapai dengan mencermati pelanggaran janji Washington yang berulang-ulang.

Tags