Sep 21, 2019 12:35 Asia/Jakarta

Serangan pesawat nirawak Yaman ke kilang minyak Aramco di Arab Saudi dijadikan dalih oleh AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan berbagai cara, termasuk menarik dukungan di tingkat global.

Namun, langkah AS untuk menghukum Iran di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut kembali gagal. Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Kamis (19/9) yang membahas dinamika Yaman, utusan AS untuk Dewan Keamanan PBB berusaha menyalahkan Republik Islam Iran atas serangan drone Yaman ke Aramco, dan menggiring opini supaya negara lain menyetujui usulannya.

Namun, klaim Washington tersebut menghadapi penentangan keras, terutama dari utusan Rusia di PBB yang memimpin sidang. Pada pertemuan itu, negara-negara anggota menolak klaim AS terhadap Iran yang tidak didukung bukti kuat, dan mereka menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan dalam krisis Yaman.

Setelah gagal menarik dukungan dari anggota lain untuk menyudutkan Iran, wakil AS di PBB mengajukan usulan lain untuk mengadakan pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB mengenai isu serangan terbaru drone Yaman terhadap fasilitas minyak Saudi, tetapi perwakilan Rusia menolaknya.

Wakil Tetap Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya mengatakan, hingga kini belum ada hasil dari penyelidikan yang faktual dan komprehensif mengenai serangan terbaru terhadap fasilitas minyak Saudi. Oleh karena itu, kini bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan pernyataan Dewan Keamanan PBB.

 

instalasi minyak Aramco

Pemerintahan Trump menyalahkan Iran atas terjadinya serangan terhadap fasilitas minyak di wilayah timur Arab Saudi tanpa memberikan bukti yang kuat. Langkah Washington menyalahkan Tehran tidak terjadi kali ini saja, tetapi berulangkali dilancarkan terhadap Iran, seperti kasus kebakaran kapal tanker di Selat Hormuz. Tujuan AS melancarkan tuduhan yang tidak berdasar tersebut untuk membangun konsensus internasional supaya mengamini tuduhannya terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo meningkatkan upayanya untuk menyebarkan Iranfobia di dunia. Kepala jawatan diplomasi AS ini menegaskan, "Kami mendesak semua negara bersatu mengutuk serangan Iran ini,".

Pompeo menuding Iran berperan besar dalam serangan itu, tapi tidak memberikan buktinya. Klaim para pejabat senior AS, termasuk Pompeo mengenai tuduhan keterlibatan Iran dalam operasi serangan drone gerakan perlawanan Yaman terhadap fasilitas minyak Saudi telah menyulut reaksi negatif dari opini publik dunia, termasuk di dalam negeri Amerika Serikat sendiri.

 

Menlu AS, Mike Pompeo

Senator Demokrat, Chris Murphy di laman Twitter-nya menyebut statemen Pompeo tidak bertanggung jawab. ia bercuit, "Ini adalah penyederhanaan masalah secara tidak bertanggung jawab untuk memasuki perang yang tidak bijak."

Tampaknya, Washington terpaksa harus mengambil pendekatan ini karena pengakuan apapun tentang peran gerakan perlawanan Yaman dalam serangan ini berarti mengakui ketidakmampuan Saudi yang didukung persenjataan canggih barat, terutama dari AS dalam menghadapi serangan drone dan rudal Ansarullah Yaman. Lalu, apa manfaat puluhan miliar dolar yang digelontorkan rezim Al Saud untuk membeli senjata AS, termasuk pembelian sistem anti-rudal Patriot.

Pada saat yang sama, tidak hanya rival internasional AS seperti Rusia yang menolak klaim intervensi Iran dalam serangan terbaru terhadap instalasi minyak Saudi. Bahkan Eropa sebagai mitra Washington memandang klaim AS tidak memadai. Kali ini, Washington kembali gagal dalam upaya terbarunya menekan Iran di Dewan Keamanan PBB.(PH)

Tags

Komentar