Sep 22, 2019 13:57 Asia/Jakarta

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson dalam pidatonya di Universitas Harvard menyebut Israel telah menyesatkan pemerintah AS demi mengejar tujuannya.

"Memang benar bahwa Israel memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat, tetapi dalam urusan dengan Netanyahu harus selalu berhati-hati. Masalahnya, Israel akan memberikan informasi keliru, jika diperlukan untuk meyakinkan Amerika supaya melakukan sesuatu," kata Tillerson. 

Statemen Tillerson mengemuka di saat Presiden AS Donald Trump senantiasa memberikan dukungan penuh terhadap Israel sejak memasuki Gedung Putih. Keluar dari Perjanjian nuklir JCPOA, meluncurkan kesepakatan abad, pengumuman baitul Maqdis sebagai ibu kota rezim Zionis, dan upaya memindahkan kedutaan negara-negara asing dari Tel Aviv ke Al-Quds menjadi beberapa langkah yang diambil Trump atas permintaan rezim Zionis.

Mengenai masalah JCPOA, Trump selalu menyebutnya sebagai kesepakatan terburuk demi menyenangkan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, dan akhirnya menarik diri dari perjanjian nuklir JCPOA pada Mei 2018. Tidak hanya itu, Trump juga memberlakukan kembali sanksi nuklir terhadap Iran demi mengamini permintaan rezim Zionis.

 

Trump dan Netanyahu

 

Para pejabat senior Israel, terutama Netanyahu, selalu mendorong Trump untuk mengambil langkah-langkah yang tidak pernah diambil oleh presiden AS sebelumnya. Meskipun demikian, upaya masif Trump untuk mewujudkan kesepakatan abad yang menjadi kepentingan Israel dan merugikan Palestina saat ini terlihat membentur dinding.

"Tidak ada jaminan kami bisa menyelesaikan  masalah konflik Israel-Palestina. Bisa dikatakan, rencana ini (kesepakatan abad) hampir tidak dapat dilaksanakan," papar Menlu AS, Mike Pompeo.

Pada Desember 2018, Trump juga mendeklarasikan Quds sebagai ibu kota baru rezim Zionis dalam keputusan yang melanggar hukum internasional. Walaupun keputusan itu diterapkan oleh Washington pada tanggal 7 Mei, tetapi banyak negara dunia tidak menyambutnya, bahkan mengambil sikap menentangnya.

Meskipun Trump telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk mendukung kepentingan rezim Zionis, Israel justru mengambil pendekatan yang menipu terhadap sekutu dekatnya sendiri. Dalam hal ini, Majalah Politico telah mengungkap spionase Israel atas instruksi langsung Netanyahu terhadap para pejabat Gedung Putih, termasuk penyadapan telepon seluler Trump.

Dalam laporan 12 September 2019, Politico mengutip statemen tiga mantan pejabat AS yang mengatakan bahwa Israel telah memasang alat penyadap di Washington, termasuk di dekat Gedung Putih untuk memata-matai pembicaraan Donald Trump dan pejabat senior AS lainnya. Meskipun Israel telah membantah laporan Politico tersebut, tapi Israel memiliki sejarah panjang spionase terhadap sekutu terdekatnya sendiri.

 

Jonathan Pollard

Kasus mata-mata Israel terakhir yang diketahui dari AS berawal dari peristiwa Jonathan Pollard. Ia adalah seorang Yahudi yang bekerja di dinas Intelijen angkatan laut AS dan ditugaskan untuk memata-matai Amerika Serikat oleh Israel pada paruh pertama 1980-an. Pollard dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan rezim Zionis secara resmi mengakuinya sebagai mata-mata  di tahun 1998. Pollard akhirnya dibebaskan pada masa pemerintahan presiden Barack Obama.

Secara umum, rezim Zionis selalu berpura-pura bertindak sebagai sekutu Amerika Serikat, tetapi sebenarnya hanya mengedepankan kepentingannya sendiri dan terus berusaha untuk menyelaraskan aksi para pejabat Gedung Putih seirama dengan kebijakan-kebijakannya. Tampaknya, inilah masalah yang diungkapkan Tillerson dalam statemen terbarunya di Universitas Harvard, "Ini mengganggu saya untuk melihat salah satu mitra kami (Israel), sekaligus sekutu penting, melakukan hal seperti itu terhadap kami,".(PH)

Tags

Komentar