Okt 20, 2019 10:56 Asia/Jakarta

Politik luar negeri Amerika Serikat yang berpijak pada unilateralisme semakin masif di era kepresidenan Donald Trump saat ini telah menyulut banyak konflik di eberbagai penjuru dunia. Trump, dengan slogannya "First America," mengklaim bahwa kebijakan unilateralisme yang diusungnya akan meningkatkan kekuatan AS menghadapi para rivalnya.

Tentu saja, pendekatan AS menuai banyak kecaman tajam di tingkat dunia, terutama dari rival kuatnya, Rusia. Pejabat senior Rusia telah berulangkali mengecam sepak terjang agresif AS, dengan menyebut penggunaan kekuatan Washington untuk memaksakan tuntutannya kepada negara lain sebagai bentuk otoritarianisme global. 

Dalam sebuah wawancara, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri AS semata-mata didasarkan pada kepentingan ekonomi dan geopolitiknya berdasarkan ambisi Washington untuk mendominasi dunia, termasuk Eropa dan Balkan.

"Orang-orang Eropa sudah bosan dengan kebijakan ini. Amerika Serikat hanya berusaha untuk memajukan kepentingan ekonomi dan geopolitiknya, dan hal ini menjadi dasar kebijakan luar negeri Washington ... Kebijakan AS ini telah menimbulkan masalah besar bagi negara lain, termasuk Eropa sebagai sekutunya sendiri. Sebenarnya, pihak yang paling dirugikan dari ambisi ASuntuk mendominasi seluruh dunia, termasuk di Eropa dan Balkan, justru negara-negara Eropa yang kini sudah bosan dengan mimpi AS ini," ujar Medvedev.

 

PM Rusia, Dmitry Medvedev

 

AS saat ini menghadapi dua kekuatan internasional sebagai rival utamanya yaitu Rusia dan Cina. Rusia sekarang berada di bawah sanksi paling keras dari Barat, terutama Amerika Serikat, dengan berbagai dalih. Tapi tujuan sebenarnya dari sanksi Barat tersebut supaya Moskow memenuhi tuntutan mereka.

Amerika Serikat mendesak negara-negara Eropa menurunkan tingkat hubungannya dengan Rusia dan tidak terlibat dalam proyek-proyek energi dengan Rusia. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Juni 2019 menyampaikan seruannya supaya negara-negara anggota Uni Eropa secara serius mempertimbangkan kebutuhan untuk mengamankan energi mereka sendiri dan segera mengeluarkan Rusia dari sistem transmisi energi benua Eropa. Trump juga berulang kali mengklaim rivalnya memanfaatkan masalah kebutuhan energi benua Eropa ini demi kepentingan mereka.

Pendekatan Trump menunjukkan berlanjutnya kebijakan unilateralisme Amerika Serikat, bahkan terhadap sekutunya sendiri. Oleh karena itu, negara-negara Eropa, terutama negara-negara besar di benua biru ini mengkhawatirkan dampak buruk kebijakan Trump terhadap kepentingan nasionalnya masing-masing.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, "Trump memasuki Gedung Putih dengan slogan "First America", tetapi sekarang dia menginjak kakinya dan meneriakkan "America alone", hanya AS yang terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan semua orang, dan menegaskan keunggulannya dalam segala bentuk negosiasi bilateral,".

 

Menlu Perancis, Jean-Yves Le Drian

 

Masalah penting ini menunjukkan keletihan Eropa dari berbagai tuntutan berlebihan Trump di berbagai bidang. Langkah Trump keluar dari JCPOA, dan menarik diri dari perjanjian iklim Paris dengan mengabaikan pandangan Eropa jelas menunjukkan tidak adanya penghormatan AS terhadap kesepakatan internasional yang telah dicapai, meskipun dengan sekutunya.

Tidak hanya itu, Trump menarik pasukannya dari Suriah dan membuka jalan bagi invasi militer Turki di wilayah utara Suriah tanpa persetujuan, bahkan sepengetahuan pihak Eropa sebagai sekutunya. Pemerintahan Trump juga meluncurkan perang tarif terhadap Eropa. Langkah zig-zag Trump telah menyeret Amerika Serikat semakin terisolasi di dunia, bahkan mulai dibenci oleh mitra dekatnya sendiri.(PH)

Tags