Nov 11, 2019 18:19 Asia/Jakarta
  • Evo Morales
    Evo Morales

Akhirnya, 20 hari setelah dimulainya demonstrasi kubu oposisi dan sayap kanan yang didukung Washington terhadap hasil pemilu presiden Bolivia, Presiden Evo Morales mengundurkan diri satu kudeta yang tenang di bawah tekanan dari militer. Dalam pidato yang disiarkan televisi Minggu malam, 10 November, Morales mengecam keras pihak oposisi karena menciptakan keresahan dan rasa tidak aman di Bolivia.

Bolivia telah menjadi tempat protes kubu oposisi sejak pemilu presiden 20 Oktober yang memenangkan Morales atas kandidat sayap kanan yang didukung AS Carlos Mesa.

Pada jam-jam pertama setelah pengumuman hasil pemilihan umum, Mesa mengumumkan bahwa mereka tidak akan menerima hasil yang diumumkan dan mendesak para pendukungnya untuk turun ke jalan. Mereka menuduh pemerintah mencurangi pemilu dan memanipulasi suara serta menuntut Morales untuk mundur dan diselenggarakan pemilu presiden kembali.

Evo Morales

Sementara itu, Morales menyamakan kerusuhan jalanan dengan kudeta adalah mereka yang gagal dalam pemilu presiden negara ini dan meminta oposisi agar menerima suara rakyat. Ia lebih lanjut memperingatkan tentang kudeta di negara itu.

Morales mengatakan, "Rival politiknya sedang mempersiapkan kudeta dan kubu sayap kanan telah mempersiapkan kudeta dengan dukungan internasional. Saya mengutuk kudeta yang sedang berlangsung. Kudeta tengah dipersiapkan dengan dukungan internasional dan itu akan dilakukan."

Sebaliknya, oposisi meningkatkan tekanan pada pemerintah. Mereka menutup jalan-jalan dan menghancurkan properti umum serta sejak hari minggu, 10 November, mereka menduduki gedung-gedung pemerintah termasuk radio dan televisi Bolivia. Oposisi yang didukung Washington awalnya menuntut pemilu ulang, yang disetujui Morales, tetapi beberapa jam kemudian, dengan intervensi dan tekanan dari militer serta kekerasan yang terus berlanjut dilakukan para demonstran, Morales dipaksa untuk mengundurkan diri dan kudeta yang ditargetkan oposisi yang didukung AS di Bolivia ini benar-benar berhasil.

Dalam mengumumkan pengunduran dirinya, Morales meminta semua orang di Bolivia dan di seluruh dunia untuk mengetahui bagaimana kelompok-kelompok yang berafiliasi berkonspirasi menentang demokrasi. Ia menegaskan, "Perjuangan tidak berakhir di sini dan kami, bersama dengan orang-orang yang rendah hati, orang miskin, sektor sosial dan patriot, akan melanjutkan perjuangan ini untuk kesetaraan dan perdamaian di negara kami."

Kudeta yang didukung AS di Bolivia memicu kemarahan sekutu Bolivia seperti Venezuela dan Kuba. Presiden Argentina yang baru terpilih juga menulis dalam akun Twitternya bahwa kudeta di Bolivia terjadi dengan aksi bersama warga sipil yang kejam, personel polisi dan kepasifan militer anti-Presiden yang menuntut proses pemilihan baru.

Bahkan di Amerika Serikat, kudeta itu dikecam sebagai alat melawan demokrasi dan untuk kediktatoran dan dominasi.

Anggota Kongres AS Ilhan Omar, sebagai reaksi atas kudeta terhadap Morales, yang memenangkan pemilu presiden baru-baru ini, pada hari Senin, 11 November, menulis, "Untuk melengserkan presiden satu negara lewat angkatan bersenjata hanya ada satu kata dan itu adalah "kudeta". Kita harus secara eksplisit menentang kekerasan politik di Bolivia."

Banyak negara Amerika Latin, termasuk Bolivia dan Venezuela, telah lama berada di bawah tekanan langsung dan tidak langsung Amerika Serikat, seperti yang dialami Venezuela selama berbulan-bulan berada di bawah tekanan sanksi, karena mereka belum menyerah pada kebijakan AS dan mengejar cita-cita anti kolonialisme dan keadilan. Meskipun bantuan AS untuk oposisi Maduro terhadap kudeta di Venezuela gagal, Washington terus menekan negara-negara di kawasan ini dan sekutu Maduro, sebagaimana Morales sekarang terpaksa mengundurkan diri.

Kebijakan kolonialisme AS di Amerika Latin

Namun pengunduran diri Morales tidak berarti akhir dari krisis di Bolivia dan banyak yang mengkhawatirkan masa depan, demokrasi dan perdamaian di Bolivia. Sepertinya dengan berlanjutnya rencana Washington di Amerika Latin untuk menggulingkan pemerintah yang mengejar cita-cita kemandirian, anti kolonialisme dan menurntut keadilan serta tidak menyerah pada kebijakan dominasi AS, negara-negara di kawasan ini, termasuk Bolivia, menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan cita-cita mereka.

Tags

Komentar