Nov 11, 2019 21:22 Asia/Jakarta
  • Trump dan O\'Brien
    Trump dan O\'Brien

Presiden Amerika Serikat Donald Trump senantiasa mempertanyakan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan memprotes anggota Eropa NATO karena tidak berpartisipasi dalam pembiayaan organisasi ini dan tidak pula mengalokasikan dua persen PDBnya untuk anggaran militer.

Petinggi senior pemerintah Amerika juga mengambil sikap serupa terkait NATO. Sekaitan dengan ini, Robert O'Brien, penasihat keamanan nasional AS dalam sebuah statemen pedas menggulirkan isu potensi keruntuhan NATO.

O'Brien Senin (10/11) mengatakan, "NATO sebuah aliansi penting bagi Kami, namun Saya pikir friksi yang ada di organisasi ini dikarenakan kita memiliki negara-negara yang tidak membayar dengan adil sahamnya untuk membiayai sektor pertahanan."

"Mengingat Jerman dan negara NATO lainnya tidak membayar sahamnya dengan adil, organisasi ini tengah mengalami keruntuhan. Mereka telah memberi pulukan telak kepada aliansi ini sebelum agresi militer Turki ke utara Suriah," papar O'Brien. Penasihat keamanan nasional Amerika juga mengklaim Washington sampai saat ini masih komitmen dengan kaolisi 70 NATO.

Kritik O'Brien digulirkan mengingat ketidaksamaan saham anggota NATO di anggaran militer organisasi ini. Diharapkan masalah ini akan dibahas di KTT NATO mendatang di London.

Trump dan petinggi senior politik dan militer pemerintahannya dalam pertemuannya dengan petinggi serta pemimpin Eropa dan di KTT NATO berulang kali menuntut partisipasi lebih besar negara Eropa di iuran organiasai ini serta menambah anggaran pertahanan dan militernya mencapai dua persen dari produk domestik bruto.

Trump setelah berkuasa menyebut NATO organisasi usang dan ketinggalan zaman yang memberi beban berat kepada Amerika. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan mendukung NATO. Ia juga menyebut NATO sebagai organisasi buruk dan membebani Amerika. Selain itu, melalui kebijakan unilateralismenya, Trump pada dasarnya tidak menganggap penting dan memberi peran bagi sekutu Eropanya dalam pengambilan keputusan militer dan keamanan penting NATO.

Mayoritas anggota NATO memahami pandangan negatif Trump terhadap organisasi ini. Presiden Perancis, Emmanuel Macron baru-baru ini dalam sebuah statemennya menyebut NATO mengalami kematian otak. Seraya merujuk pada langkah sepihak AS dan Turki terkait utara Suriah, satu menarik pasukannya dan yang lain menyerang ke kawasan ini, Macron meyakini bahwa kedua negara ini telah mempertanyakan kinerja dan filosofi keberadaan NATO.

Sikap Macron ini menuai kritik pedas dari petinggi Jerman sebagai negara penting Uni Eropa dan anggota utama NATO. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas memperingatkan Perancis terkait perusakan NATO. Maas hari Ahad dalam sebuah memonya di mingguan Der Spiegel menilai keliru perusakan NATO, karena menurutnya, tanpa Amerika bukan saja Jerman dan tapi juga  Eropa tidak akan mampu membela dirinya.

Meski mendapat dukungan dari Berlin, petinggi Washington senantiasa memberikan kritikan paling pedas terkait NATO kepada pemerintah Jerman dan mereka meyakini Berlin meski mengumbar janji, bukan saja tidak meningkatkan partisipasinya di iuran NATO, tapi juga dalam prakteknya melanggar komitmennya mengalokasikan dua persen PDBnya untuk anggaran militer.

Statemen pedas O'Brien bukan saja peringatan keras kepada Jerman yang secara terang-terangan menyatakan tidak mungkin membela Eropa tanpa AS tapi juga sindiran kepada Macron bahwa langkah Washington dan Ankara di utara Suriah serupa dan melemahkan NATO.

Harapan pemerintah Trump dari anggota Eropa NATO adalah benar-benar patuh dan mendengarkan instruksi Washington serta melaksanakan seluruh keinginan AS. Trump yang mengambil pendekatan dagang dan keuntungan meyakini bahwa jika NATO tidak memiliki keuntungan materi bagi AS maka pada dasarnya terlibat di organisasi ini sia-sia dan menghabiskan uang. (MF)

 

Tags

Komentar