Nov 13, 2019 20:47 Asia/Jakarta
  • Sergei Lavrov, menlu Rusia
    Sergei Lavrov, menlu Rusia

Meski ada instruksi dari Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan Amerika dari utara dan timur laut Suriah, sebagian pasukan negara ini kembali ditempatkan di wilayah timur Suriah dengan alasan melindungi instalasi dan ladang minyak dari ancaman Daesh.

Langkah ini tak telah menimbulkan keraguan besar terkait tujuan sejati pemerintah Trump di Suriah.

Mengingat transformasi terbaru, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di pidatornya di Konferensi Perdamaian Paris mengkonfirmasi keinginan Amerika untuk membentuk sebuah pemerintahan semu Kurdi di wilayah timur Furat di Suriah. Ia menekankan, AS untuk merealisasikan tujuannya ini tak segan-segan melakukan apapun.

Pasukan AS di Suriah

Menurut Lavrov, sekaitan dengan ini, Amerika menuntut investasi besar-besaran negara-negara kawasan Teluk Persia untuk membentuk pemerintahan otonomi oleh Pasukan Demokratik Kurdi Suriah, Uni Pertahanan Rakyat dan kelompok lainnya. Mereka juga berencana memisahkan kawasan ini dari Suriah dan menguasai ladang minyak di kawasan tersebut.

Ini untuk pertama kalinya Rusia secara transparan berbicara mengenai tujuan jangka panjang Amerika menciptakan pemerintahan semu Kurdi seperti Kurdistan Irak di timur Suriah. Sepertinya langkah Amerika di kasus ini dilancarkan secara besar-besaran. Di antaranya ada laporan mengenai pembentukan enam unit militer baru di timur Suriah oleh militer Amerika.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa meski ada klaim berulang Trump, Washington tidak serius ingin meninggalkan Suriah. Trump beberapa waktu lalu seraya mengumumkan penempatan sebagian pasukannya di Suriah mengatakan, "Kami memanfaatkan sejumlah pasukan kami untuk menjaga ladang minyak di utara Suriah dan kami akan tetap menjaga minyak Suriah. Ingatlah bahwa keuntungan setiap bulan mencapai 45 juta dolar."

Ini sama halnya dengan berlanjutnya pendudukan dan kehadiran ilegal Amerika di wilayah pemerintah Suriah dan bertentangan dengan kedaulatan nasional serta integritas wilayah berbagai negara yang ditekankan oleh berbagai hukum internasional termasuk piagam PBB.

Amerika sejak tahun 2014 dengan dalih memerangi Deash (ISIS), bercokol di Suriah secara ilegal. Langkah militer terbaru Amerika, ratusan pasukan Amerika akan terlilit penempatan sangat rumit di Suriah. Saat ini, Amerika memperkuat pasukannya di wilayah kaya minyak Deir Ezzor, Suriah dan dengan cepat membangun pangkalan baru di kawasan tersebut.

Menurut perspektif Moskow langkah Washington ini sekedaruntuk melanjutkan instabilitas dan kerusuhan di Suriah serta menimbulkan dampak negatif terhadap proses solusi politik di krisis negara ini. Sejatinya langkah kontradiksi dan tidak konstruktif Amerika mempersulit pelaksanaan kebijakan normalisasi kondisi dan menghidupkan kedaulatan serta integritas wilayah Suriah.

Lavrov beberapa waktu lalu terkait hal ini mengatakan, Amerika berbicara mengenai panarikan pasukannya dari Suriah, kemudian menyatakan bahwa mereka kembali ke Suriah. Dengan demikian pelaksanaan sebuah kebijakan jangka panjang untuk menormalkan kondisi dan menghidupkan kedaulatan serta integritas wilayah Suriah semakin sulit.

Di samping Rusia, petinggi Suriah juga senantiasa menekankan bahwa kehadiran pasukan Amerika di Suriah tanpa ijin dari pemerintah Damaskus dan berlanjutnya pendudukan Amerika di timur Suriah ditujukan untuk merampok kekayaan alam Sruiah khususnya minyak.

Sementara itu, pemerintah Trump tengah menjalankan  rencana makro Amerika terkait Asia Barat dan menekankan pemecahbelahan berbagai negara. Dengan demikian praktisnya, pemerintahan Trump dengan membentuk pemerintahan semu Kurdi di timur Furat bukan saja ingin mempersiapkan desintegrasi Surah, tapi juga ingin membuat pemerintah Damaskus disibukkan dengan sengketa internal  sehingga Suriah sebagai poros utama muqawama di kawasan akan semakin lemah.

Ini adalah tujuan yang senantiasa ingin direalisasikan oleh rezim Zionis Israel. (MF)

 

Tags

Komentar