Nov 14, 2019 11:05 Asia/Jakarta
  • Konferensi pers Presiden Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Donald Trump (kanan) di Gedung Putih.
    Konferensi pers Presiden Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Donald Trump (kanan) di Gedung Putih.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan Presiden Donald Trump.

Lawatan ini dilakukan di tengah pasang surut hubungan antara Ankara dan Washington selama beberapa tahun terakhir. Erdogan memimpin sebuah delegasi politik dan ekonomi untuk bertemu Trump di Gedung Putih.

Jika melihat ketegangan dalam interaksi kedua negara, maka kehadiran Erdogan di Gedung Putih dinilai tidak akan mendorong penguatan hubungan antara Turki dan AS. Perilaku dan keputusan Trump juga tidak dapat diprediksi dan sering tidak konsisten.

Kubu oposisi pemerintah Turki menilai kunjungan Erdogan dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Ketua Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu mengatakan, "Kunjungan Erdogan ke Washington akan berakhir dengan tidak membawa hasil dan sekarang bukan waktu yang tepat untuk datang ke AS."

"Anda harus menanggapi surat (Trump) dengan cara yang menjaga wibawa dan martabat bangsa. Jadi Anda pergi ke AS untuk mengembalikan surat itu? Ini omong kosong. Anda tidak seharusnya pergi," tegas Kilicdaroglu.

Pertemuan Erdogan dan Trump di Gedung Putih.

Pemimpin Turki dan AS sepertinya akan membahas sejumlah isu penting di Gedung Putih antara lain: masalah pembentukan zona aman di utara Suriah, surat penghinaan Trump kepada Erdogan, pengakuan genosida Armenia oleh DPR AS, kasus pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia oleh Turki, penangguhan keanggotaan Turki dalam proyek produksi jet tempur F-35, masalah ekstradisi Fethullah Gulen, dan sanksi Senat AS terhadap beberapa menteri Turki.

Beberapa pengamat politik di kawasan menganggap Turki telah mengambil jarak dari Barat dan mulai merangkul Rusia. Tapi pandangan ini dibantah oleh sekelompok pengamat lain.

Seorang pakar masalah Turki, Ibrahim Farahani menuturkan, "Turki tidak pernah bercerai dengan Barat. Negara itu tidak mungkin bisa berpisah dari Barat jika memperhatikan struktur pemerintahan Turki. Hubungan ini kadang diwarnai ketegangan, tetapi tidak sampai menceraikan mereka."

Sebuah fakta yang tidak dapat disangkal adalah bahwa kondisi ekonomi Turki sedang tidak baik jika dibandingkan dengan masa-masa sebelum 2014. Pertumbuhan ekonominya melambat dan arus modal yang keluar dari Turki juga naik. Jika tren ini berlanjut, maka visi pemerintah Turki untuk tahun 2023 tidak akan tercapai.

Dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan Erdogan sekarang adalah mempertahankan hubungan dan mengamankan Turki dari keputusan-keputusan mendadak Trump. Namun, Trump tidak akan memberikan konsesi apapun kepada Ankara dalam situasi saat ini. (RM)

Tags

Komentar