Des 07, 2019 11:28 Asia/Jakarta

Presiden AS Donald Trump mengambil langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung rezim Zionis selama masa jabatannya. Salah satu dari tindakan pemerintahan Trump tersebut mengenai upaya untuk menormalkan hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel.

Langkah terbaru dilakukan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo terhadap Maroko. Pompeo, yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke Maroko bertolak menuju Rabat setelah sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu. Tapi ia gagal menyampaikan proposal Washington mengenai upaya menormalkan hubungan antara Israel dan Maroko.

Menlu AS tiba di Rabat hari Kamis dan bertemu dengan Perdana Menteri Maroko Saadeddine Othmani dan direktur jenderal keamanan nasional negara ini. Rencananya, Pompeo akan menemui Raja Maroko, Mohammed VI, tetapi dibatalkan karena alasan yang tidak diketahui. Selain itu, konferensi pers dan jamuan makan malam antara Pompeo dan mitranya dari Maroko, Nasser Bourita juga dibatalkan. 

Saluran televisi rezim Zionis, i24 News sebelumnya memberitakan bahwa kunjungan Menteri Luar Negeri AS ke Maroko bertujuan untuk menjalin normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel. Tapi, seorang pejabat senior kementerian luar negeri AS Jumat sore, 6 Desember mengungkapkan bahwa pembicaraan Pompeo dengan pejabat tinggi Maroko tidak membahas masalah normalisasi hubungan dengan Israel.

Tampaknya, Raja Maroko yang mengetahui agenda kunjungan Pompeo ke negaranya untuk menekan Rabat supaya mendukung upaya normalisasi hubungan diplomatik dengan rezim Zionis, segera mengambil keputusan untuk menolak bertemu dengan Menlu AS. Sebelumnya, media Zionis melaporkan bahwa Tel Aviv berusaha menggunakan kunjungan Pompeo tersebut untuk mewujudkan kepentingannya menormalkan hubungan dengan Rabat.

 

Raja Maroko, Mohammed VI

 

Maroko termasuk salah satu negara Arab yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan rezim Zionis. Bahkan pada 2017, raja Maroko menolak menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Afrika Barat demi menghindari pertemuan dengan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu.

Meskipun kementerian luar negeri AS menyangkal tujuan Pompeo melakukan perjalanan ke Maroko untuk menormalisasi hubungan Rabat dengan Israel, tapi fakta reaksi negatif Maroko terhadap permintaan Washington jelas terbaca dari penolakan raja negara ini bertemu dengan Pompeo. Media Maroko seperti situs maroccoworldnews.com juga menurunkan judul berita mengenai tidak adanya agenda pembahasan masalah tersebut.

The Times of Israel melaporkan, Netanyahu berusaha untuk menjalin normalisasi hubungannya dengan Maroko demi memperkuat posisinya sebagai perdana menteri dengan memanfaatkan kunjungan Pompeo ke Rabat.

Selama menjabat sebagai presiden AS, Donald Trump telah mengambil berbagai langkah agresif demi kepentingan rezim Zionis, terutama mendekatkan hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel. Sejumlah media melaporkan, Wakil Kepala Penasihat Keamanan Nasional AS, Victor Coates pekan lalu bertemu dengan duta besar UEA, Maroko, Bahrain dan Oman di Gedung Putih. Salah satu isi pembicaraan mengenai permintaan AS supaya sejumlah negara Arab ini menandatangani perjanjian non-agresi dengan Israel.

Meskipun AS telah mengerahkan segenap upayanya untuk membela rezim Zionis dan mengakui eksistensi ilegalnya, termasuk aneksasi Golan dan wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1967, serta mengusung prakarsa "Kesepakatan Abad", tapi langkah Trump membentur dinding. Sebab, publik internasional, bahkan mitra-mitra Washington di Eropa bersatu menentangnya.(PH)

Tags

Komentar