Des 09, 2019 17:53 Asia/Jakarta
  • Krisis Rusia dan NATO
    Krisis Rusia dan NATO

Hubungan Rusia-NATO telah mengalami proses penuh ketegangan dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah krisis Ukraina tahun 2014, dan setiap tahun telah meningkatkan jumlah konflik antara kedua belah pihak, suatu hal yang membuat para pejabat senior militer memperingatkan masalah ini.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu dalam pidatonya tetang kesiapan negaranya untuk bekerja dengan Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), tetapi pada saat yang sama menekankan bahwa hubungan dengan NATO semakin buruk setiap tahun.

"Hubungan Rusia-NATO semakin memburuk dan kerja sama antara kedua pihak telah dihentikan dan berkurang setiap tahun. Bertahun-tahun yang lalu kami bekerja sangat aktif dengan Brussels, dan Rusia memiliki perwakilan di NATO, tetapi sekarang mitra-mitra ini, bersama dengan AS, keluar dari banyak kontrak dan nota kesepahaman dan bidang keamanan semakin hari semakin tertutup," ungkap Shoygu.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu

Menteri Pertahanan Rusia membuat pernyataan hanya beberapa hari setelah KTT NATO di London dan pada saat yang sama menambahkan bahwa Moskow telah mengejar hubungan konstruktif dengan NATO selama lima tahun, tetapi belum tampak kemajuan. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin, pada hari yang sama dengan KTT NATO di London, menekankan kesiapan Moskow untuk bekerja sama dengan organisasi tersebut, sembari menyinggung berbagai masalah yang ada antara negaranya dan NATO.

"Terlepas dari perilaku "salah" NATO terhadap Moskow, Rusia telah berulang kali menekankan kesediaannya untuk bekerja sama dengan NATO untuk menghadapi ancaman nyata seperti terorisme internasional," ungkap Putin

Pasca munculnya krisis Ukraina dan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan negara-negara anggota organisasi ini di timur Eropa, NATO telah mempercepat proses pembaruan kekuatan dan penempatan pasukan militernya secara luas, khususnya di dua wilayah Baltik dan Laut Hitam dan memberikan proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Masalah lain yang telah menjadi perhatian bagi keamanan Rusia selama hampir dua dekade adalah upaya berkelanjutan NATO untuk bergerak ke timur dan bergabung dengan negara-negara Eropa Tengah dan Timur, negara-negara Balkan, dan akhirnya negara-negara tetangga Rusia, seperti Ukraina dan Georgia dalam organisasi militer Barat ini.

Rusia memandang ekspansi NATO ke timur sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya dan melihat pendekatan NATO untuk mengerahkan anggota aliansi militer sebagai faktor pemicu ketegangan. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk mengontrol dan melemahkan Rusia dan untuk memberikan tekanan politik dan militer yang semakin meningkat terhadapnya. Pada saat yang sama, setiap tahun masalah baru telah ditambahkan ke masalah sebelumnya dan telah meningkatkan konfrontasi antara Rusia dan NATO.

Di sisi lain, ketentuan pernyataan akhir KTT NATO di London dan orientasi anti-Rusianya telah meningkatkan kekhawatiran Moskow tentang tindakan bermusuhan NATO di masa depan. Pernyataan itu dengan jelas menyatakan bahwa tindakan permusuhan Rusia adalah ancaman terhadap keamanan Eropa dan Amerika Utara, sambil menekankan penentangannya terhadap penyebaran rudal jarak menengah di Eropa. Tentu saja, pernyataan itu menggarisbawahi dalam sikap berdamai bahwa jika Moskow mengambil langkah-langkah positif, NATO akan terbuka untuk berdialog dan membangun hubungan yang konstruktif dengan Rusia.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dalam hal ini menulis, "NATO percaya pada dialog dengan Rusia dan saya percaya kita perlu bergerak menuju hubungan yang lebih dekat dengan Rusia."

Terlepas dari pernyataan penutup KTT NATO, perselisihan tentang Rusia dan sifatnya yang mengancam tetap ada di antara para pemimpin NATO. Para pemimpin Perancis dan Turki, Macron dan Erdogan, dua anggota efektif perjanjian itu, menentang isu tersebut, menggambarkan terorisme sebagai musuh NATO.

NATO dan Rusia

Emmanuel Macron, Presiden Perancis dalam pesan Twitter menulis, "Rusia bukan lagi musuh. Negara ini masih tetap menjadi ancaman, tetapi masih menjadi mitra dalam beberapa masalah. Musuh kita hari ini adalah terorisme internasional."

Terlepas dari pertentangan semacam itu, faktanya adalah bahwa NATO selalu menganggap Rusia sebagai musuh dan membenarkan banyak tindakan militer di Eropa Timur untuk membenarkan filosofi eksistensinya.

Tags

Komentar