Des 11, 2019 12:50 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Estonia, Eropa timur
    Pasukan AS di Estonia, Eropa timur

Presiden AS, Donald Trump berulangkali mengkritik Eropa sebagai sekutu dekat Washington mengenai berlanjutnya pendanaan untuk menjaga keamanan Eropa, tetapi ironisnya Pentagon berencana meningkatkan jumlah pasukan AS di Eropa.

Pentagon akan mengerahkan jumlah pasukan AS yang terbesar di benua biru itu selama 25 tahun terakhir, dengan menempatkan 20 ribu tentaranya. Para pejabat militer AS mengatakan ribuan tentara sedang dikerahkan untuk berpartisipasi dalam latihan militer bersama di negara-negara Eropa yang bermusuhan dengan Rusia. 

General Christopher Cavoli, komandan angkatan darat AS di Eropa, mengatakan, 20 ribu tentara AS akan dikirim ke Eropa tahun depan dengan tujuan bergabung dengan 9 ribu tentara lainnya yang sudah ditempatkan di benua ini. Ditegaskannya, tujuan dari tindakan ini untuk menunjukkan kemampuan militer AS dalam mengerahkan sejumlah besar pasukan demi mendukung NATO sekaligus menanggapi setiap krisis.

Selain itu, sekitar 37 ribu tentara AS juga berpartisipasi dalam manuver militer di 10 negara Eropa yang ditempatkan sejak Mei hingga Juni 2020. Pengerahan pasukan AS ke Eropa akan dimulai pada Februari 2020 disertai pengiriman 13 ribu alutsista termasuk tank, artileri dan kendaraan lapis baja.

Meskipun ada rencana sebelumnya untuk mengurangi jumlah pasukan AS di Eropa yang disampaikan mantan presiden Presiden AS Barack Obama, tapi faktanya jumlah pasukan AS di benua biru justru semakin membengkak. Eskalasi friksi keamanan baru di Eropa muncul setelah terjadi krisis di Ukraina yang mendorong Washington mempertimbangkan kembali kebijakan sebelumnya.

 

Digelarnya manuver militer besar di benua Eropa yang disebut "Pembela Eropa 20" berlangsung setelah terjadi penurunan kehadiran militer AS di Eropa di era pasca-Perang Dingin, yang menandai titik balik strategi Pentagon. Pihak AS mengklaim agresi Rusia di Eropa Timur sebagai salah satu alasan utama untuk mengadopsi pendekatan militer baru tersebut. Menurut Cavoli, aneksasi Crimea oleh Rusia di tahun  2014 menyebabkan perubahan di semua bidang.

Di pihak lain, Rusia memiliki pandangan yang berseberangan dengan AS dalam menyikapi dinamika keamanan Eropa. Menurut Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu, tindakan non-konstruktif negara-negara anggota NATO yang dipimpin AS telah merusak ruang keamanan dan memperkeruh hubungan antara Moskow dan Brussels.

NATO setiap tahun semakin mendekat ke perbatasan barat Rusia dengan mengerahkan pasukan dan alutsistanya di negara-negara tetangga Rusia, terutama tiga republik Baltik yaitu: Estonia, Latvia dan Lithuania. Dari sudut pandang Moskow, masalah ini sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional Rusia. NATO yang didominasi oleh Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir telah bertindak melayani kepentingan Washington di Eropa.

Konfrontasi NATO dengan Rusia di Eropa Timur sejalan dengan kebijakan luar negeri AS untuk melemahkan Moskow, yang mencerminkan posisi NATO sebagai alat Washington. Pendekatan konfrontatif NATO dengan meningkatkan penyebaran tentaranya dan latihan perang di Eropa Timur, Laut Baltik dan Laut Hitam, memicu reaksi Rusia yang menempatkan NATO sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya. Para pemimpin NATO dalam pernyataan penutupan KTT NATO di London menegaskan bahwa tindakan agresif Rusia dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Eropa dan Amerika Utara.(PH)

Tags

Komentar