Jan 16, 2020 03:38 Asia/Jakarta

Di saat para pejabat pemerintahan Erdogan telah menggunakan pendekatan militer untuk menyelesaikan masalah dengan pihak Kurdi di Turki, Suriah dan Irak, secara bersamaan mereka juga mengusung pendekatan damai dan politik dalam penyelesaian masalah kawasan.

Dalam hal ini, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar baru-baru ini menekankan urgensi penyelesaian masalah-masalah regional dengan menggunakan pendekatan politik. Hulusi Akar berkata, "Ankara melakukan berbagai kegiatan dalam komunitas internasional untuk melindungi kepentingan Turki. Bahkan, pemerintah Ankara berupaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Libya dan Suriah, serta menghentikan pertumpahan darah dan mengembalikan orang-orang ke negaranya masing-masing secara normal,".

Tampaknya, pernyataan Menhan Turki tersebut berkaitan dengan politik dua kaki yang dijalankan Erdogan di kawasan. Hulusi Akar berbicara mengenai pendekatan politik untuk penyelesaian krisis regional, tapi faktanya pemerintah Turki justru memaksakan keadaan perang yang tidak setara terhadap tetangganya dengan menduduki beberapa wilayah Suriah. Pada saat yang sama, di samping desakan rakyat dan oposisi pemerintah Ankara, negara yang independen di kawasan telah berulang kali mendesak Ankara supaya bernegosiasi dengan Kurdi Turki demi meraih perdamaian. Tetapi pemerintah Erdogan mengabaikan pendekatan dialog, dan sebaliknya mengambil jalan  memerangi kelompok Kurdi yang berada Turki, Suriah maupun Irak.

Menteri Pertahanan Turki menekankan pendekatan dialog dengan pihak-pihak yang berkonflik di kawasan untuk menyelesaikan konflik, tapi dalam praktiknya ia selalu menggunakan pendekatan militer untuk menyelesaikan perbedaan pandangan mereka dengan Kurdi di Turki dan kawasan. Dengan demikian, Ankara juga bermaksud menerapkan kebijakan militeristik terhadap Libya.

 

Pasukan Turki

Turki telah menduduki sebagian wilayah Suriah di saat negara ini berada dalam situasi yang sangat sulit karena kehadiran kelompok-kelompok teroris takfiri dan gerakan yang didukung oleh sejumlah negara Barat serta intervensi dan plot AS bersama beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia. Dengan kata lain, pemerintah Turki mengirimkan pasukan militernya ke Suriah ketika negara ini  tidak dapat mempertahankan diri sepenuhnya. Agresi militer tersebut dilancarkan pemerintah Turki demi meraih sejumlah targetnya di Suriah.

Mengenai hal ini, Matin Gurchan, analis politik dan penulis terkemuka Turki menyinggung kebijakan pemerintahan Erdogan dan kesiapannya untuk membuat keputusan penting. Ia mengatakan,  "Keputusan penting Ankara adalah memilih antara AS dan blok Rusia-Iran. Sejauh ini, Ankara telah berhasil mengejar strategi paralelnya di Suriah dan Irak serta memanfaatkan secara maksimal kekuatan dan wilayah abu-abu di antara mereka. Strategi itu kini telah berakhir ".

Analis Turki ini menunjukan fakta bahwa pandangan Ankara yang independen dalam masalah regional, terutama Suriah dan Irak sudah berakhir.

Mengenai intervensi militer Turki di negara-negara di kawasan, tidak boleh diabaikan bahwa hal ini bukan misi luar negeri Turki. Pasalnya, potensi ekonomi Turki tidak memungkinkan untuk menerima dampak destruktif dari proses intervensi jangka panjang tersebut. Jelas kiranya bahwa kelanjutan proses ini bisa menjadi ancaman serius bagi unsur-unsur kekuatan nasional Turki.(PH)

 

 

Tags

Komentar