Jan 18, 2020 14:11 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS sedang naik pesawat
    Pasukan AS sedang naik pesawat

Dinamika di dalam negeri Amerika Serikat pekan ini menyoroti sikap AS yang tetap tidak menarik pasukannya dari Irak, sekalipun parlemen negara ini telah meratifikasi undang-undang mengusir tentara AS dari negaranya.

Selain itu akan diulas juga tentang kebohongan Trump soal mendukung rakyat Iran, media dan tokoh AS menyebut Trump meneror Komandan Pasukan Quds, IRGC dan bagaimana militer AS melakukan bersih-bersih di pangkalan Ain al-Assad, Irak.

Usir Tentara AS, Trump Tuntut Irak Ganti Rugi 35 Miliar Dolar

Parlemen Irak dalam sidang darurat pada hari Ahad (5/01/2020), mensahkan sebuah resolusi untuk mengusir pasukan Amerika Serikat dari negara itu.

Parlemen Irak telah membuka lembaran baru sejarah Asia Barat. Parlemen memutuskan mengusir pasukan AS dan melarang pasukan asing menggunakan zona udara Irak. Ini merupakan salah satu konsekuensi langsung dari meneror Letjen Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.

Dengan keputusan itu, Pakta Keamanan Baghdad-Washington yang ditandatangani pada 2008 secara praktis akan berakhir. Selama ini, AS bukan hanya tidak bergerak untuk memperkuat keamanan Irak, tetapi justru melanggar kedaulatan negara itu. Washington memanfaatkan pakta keamanan untuk mempertahankan kekacauan di Irak serta membunuh para pemuda dan pemimpin negara tersebut.

Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi

Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi mengumumkan langkah-langkah hukum untuk mengimplementasikan ketetapan parlemen Irak mengenai penarikan pasukan AS dari negaranya.

Adel Abdul Mahdi hari Minggu (5/1/2020) menegaskan bahwa para pejabat Irak dari berbagai institusi telah mempersiapkan langkah-langkah hukum dan praktis untuk menerapkan keputusan parlemen tersebut.

Sementara itu, menyikapi langkah hukum parlemen Irak mengusir pasukan AS dari negaranya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi masif terhadap Baghdad.

Pekan lalu, presiden Amerika Serikat memperingatkan jika Irak mengusir pasukan Amerika, maka ia harus membayar kerugian sekitar 35 miliar dolar kepada Amerika. Donald Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News mengatakan, jika Irak mengusir pasukan Amerika, maka ia harus membayar seluruh biaya yang dihabiskan Washington di negara ini, atau membiarkan pasukan Amerika tetap di Irak.

Trump menjelaskan, sudah saya katakan, jika kami dikeluarkan dari Irak, maka Anda harus membayar kerugian kami. Jika kami keluar dari Irak, kalian harus menanggung seluruh biaya yang telah kami keluarkan di negara ini.

Saat ditanya bagaimana cara mendapatkan uang ganti kerugian, Trump menerangkan, sekarang sejumlah banyak uang mereka ada di tangan kami. Kami memiliki sejumlah banyak uang mereka. Kami punya 35 miliar dolar uang mereka di rekening, saya pikir mereka setuju untuk membayar uang ini, jika tidak kami akan tetap di sana.

Sekaitan dengan hal ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengklaim, petinggi Irak di perundingan khusus tidak membicarakan permintaan penarikan pasukan Amerika dari negaranya.

Terkait hal ini, Jubir Kemenlu AS, Morgan Ortagus mengklaim, Washington menginginkan pemulihan hubungan strategis dengan Irak ketimbang penarikan pasukan Amerika.

Ketika Trump Berbohong Soal Mendukung Rakyat Iran

Amerika Serikat mengobarkan permusuhan terhadap Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Permusuhan AS terhadap Iran dan rakyatnya memasuki babak baru yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Donald Trump berkuasa.

Trump tanpa rasa malu sedikit pun, mengaku mendukung rakyat Iran. Padahal, rakyat Iran berada di bawah sanksi yang paling keras setelah ia menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran.

Kebohongan Donald Trump

Mengomentari perkumpulan massa di Tehran untuk menyampaikan solidaritas dengan keluarga korban insiden jatuhnya pesawat Ukraina, Trump lewat sebuah tweet dengan bahasa Persia menulis, "Saya telah mendukung Anda sejak awal kepresidenan saya dan pemerintahan saya akan terus mendukung Anda. Kami mengikuti aksi protes Anda dengan cermat dan keberanian Anda menginspirasi."

Rakyat Iran pada upacara tasyi' jenazah Letjen Soleimani dan rekan-rekannya, menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan bualan Trump dan justru sebaliknya, mereka menganggap pemerintahan Trump sebagai pemerintahan teroris.

Sementara Reuters, Kamis (16/1/2020) menulis, sebagian orang menganggap ungkapan kepedulian Donald Trump terhadap para demonstran di Iran sebagai kemunafikan.

Menurut Reuters, Trump menulis cuitan diTwitter dalam bahasa Persia yang menunjukkan solidaritas kepada para demonstran Iran, namun sebagian pihak percaya hal ini justru memperlihatkan kemunafikan Presiden Amerika, pasalnya sanksi berat Gedung Putih telah memperburuk kondisi ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

MSNBC dan Chomsky: AS Meneror Letjen Soleimani

Stasiun televisi MSNBC mengabarkan, sejumlah bukti mengungkap adanya kaitan antara perintah langsung Presiden Amerika Serikat untuk meneror Komandan Pasukan Qods, IRGC, dengan ketakutan Donald Trump atas keputusan pemakzulannya di Senat Amerika.

Situs MSNBC (13/1/2020) melaporkan, penjelasan Gedung Putih terkait serangan udara yang menewaskan Jenderal Qasem Soleimani sudah tidak bisa lagi dianggap serius. Trump dan timnya beberapa kali berkelit dan mengeluarkan pernyataan kontradiktif sehingga retorikanya tidak bisa dipercaya.

Seperti dikutip MSNBC, surat kabar The Wall Street Journal minggu lalu menulis, pasca serangan udara itu, Trump mengaku kepada rekannya bahwa ia ditekan para Senator Republik di Senat Amerika yang dianggap Trump sebagai pendukung penting untuk menyelamatkannya dari ancaman pemakzulan.

Sementara itu, guru besar dan pengamat Amerika, Noam Chomsky menyebut pembunuhan terhadap Komandan pasukan Quds IRGC Iran sebuah aksi terorisme.

Chomsky saat diwawancarai Koran India Times mengatakan, pembunuhan terhadap Letjen Qassem Soleimani sebuah aksi teror dan melanggar hukum internasional.

Chomsky berulang kali menyebut langkah Gedung Putih mengancam keamanan global.

Tentara AS Membersihkan Pangkalan Ain Al-Assad

Wartawan Associated Press setelah melakukan kunjungan ke pangkalan Ain Al Asad mengabarkan pasukan Amerika Serikat mulai membersihkan pangkalan udara itu dari sisa serangan rudal Iran.

Associated Press, Senin (13/1) mengabarkan kesibukan tentara Amerika di pangkalan udara Ain Al Asad untuk membersihkan pangkalan tersebut dari bekas serangan rudal Iran.عین 

Pangkalan militer AS Ain al-Assad

Associated Press menulis, pasukan Amerika hari  Senin (13/1) membersihkan pangkalan Ain Al Asad dari sisa serangan rudal Iran. Pangkalan ini terletak di barat Irak, tepatnya di Provinsi Al Anbar, 180 km Baghdad dan merupakan markas pasukan Amerika. Menurut sejumlah laporan, sekitar 1.500 tentara Amerika dan koalisi inernasional anti-Daesh, tinggal di pangkalan tersebut.

Sementara itu, salah satu tentara senior Amerika Serikat yang ditempatkan di pangkalan Ain Al Asad, Irak menyebut serangan balasan Iran ke pangkalan tersebut sangat mengerikan.

Letkol Staci Coleman dalam wawancara dengan stasiun televisi CNN menuturkan, sangat sulit untuk menggambarkan serangan itu. Sangat mengerikan dan menakutkan. Saya dan beberapa anggota saya bersembunyi dengan berjongkok di bunker, ketika gelombang serangan pertama terjadi, kami merasakan hebatnya serangan tersebut, bahkan getarannya mengguncang bunker.

Tentara Amerika ini mengakui tujuh kali serangan rudal Iran dalam jarak yang tidak terlalu lama menghantam pangkalan.

"Tepat sebelum serangan rudal Iran terjadi, kami berhasil mencapai tempat persembunyian," imbuhnya.

Saat ditanya wartawan CNN bagaimana pasukan Amerika yang ada di dalam pangkalan Ain Al Asad bisa selamat dan sungguh sangat beruntung, Letkol Coleman mengatakan, pasukan berada di luar pangkalan karena sebelumnya mendapat peringatan serius akan terjadinya serangan balasan.

Tags

Komentar