Feb 08, 2020 18:37 Asia/Jakarta
  • Protes warga AS terhadap pengumuman lolosnya Trump dari kasus pemakzulan
    Protes warga AS terhadap pengumuman lolosnya Trump dari kasus pemakzulan

Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya mengenai aksi protes warga AS menyikapi pengumuman lolosnya Trump dari kasus pemakzulan yang menjeratnya.

Selain itu, para kandidat presiden AS mengecam permusuhan Trump terhadap Iran, DPR AS Tidak puas atas sikap Pentagon menyembunyikan jumlah korban luka Ain Al-Assad, AS sangat mencemaskan operasi penumpasan teroris di Idlib, militer AS membangun pangkalan dekat penjara Daesh di Suriah, AS menempatkan 20 ribu tentara di perbatasan Rusia, dan AS menempatkan 20 ribu tentara di perbatasan Rusia.

 

Presiden AS, Donald Trump

Trump Divonis Tidak Bersalah, Ribuan Warga AS Protes

Ribuan warga Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi memprotes lolosnya Presiden Donald Trump dalam sidang pemakzulan. Para demonstran di aksinya meneriakkan slogan "Jangan terima kerahasiaan" dan "Kami akan Usir dengan Suara Kami".

Aksi unjuk rasa hari Kamis (06/02) digelar di sedikitnya 300 kota Amerika dan para demonstran seraya berkumpul di depan Trump Tower di New York meneriakkan slogan "Penjarakan ia" dan "Kami Bersalah".

Masih menurut sumber ini, polisi menangkap sejumlah demonstran yang berkonsentrasi di dalam gedung DPR AS.

Senator Jeff Merkley, anggota komisi hubungan luar negeri Senat AS dalam cuitan tweetnya memublikasikan video pidatonya di depan demonstran yang berkumpul di depan gedung DPR, dan menulis, "Apa yang kita saksikan hari ini, bukan akhir dari peradilan. Sebuah upaya untuk merahasiakan. Penyalahgunaan wewenang oleh presiden juga telah merambah Senat dan ini mengancam sendi-sendi lembaga ini serta undang-undang kita."

Senator Ayanna Pressley yang juga berada di tengah-tengah demonstran di sebuah pesan twitternya menyatakan, "Dalam demokrasi ini, Anda sampai saat ini juga harus bertanggung jawab di depan rakyat, dan Kami akan menfokuskan kemarahan untuk mencari keadilan."

Menyusul aksi protes ini hashtag Warga AS menilai Trump bersalah, menjadi salah satu hastag paling populer di Twitter.

Senator kubu Republik Rabu (05/02) dalam sidang terakhir terkait pemakzulan Presiden Trump memberikan suara bahwa Trump tidak bersalah di kasus dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan aksi sabotase proses penyidikan Kongres terkait skandal Ukrainegate.

 

debat bakal calon presiden AS

Para Kandidat Presiden AS Kecam Permusuhan Trump atas Iran

Para kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat memperingatkan dampak kebijakan anti-Iran Presiden Donald Trump.

Salah satu kandidat capres Amerika untuk pemilu 2020, Pete Buttigieg, Jumat (7/2) dalam debat yang digelar untuk memilih capres Demokrat mengatakan, Donald Trump sudah mendekatkan Amerika ke perang, bukan dengan meneror Letjen Qasem Soleimani, tapi dengan keluar dari kesepakatan nulklir, JCPOA.

Sementara itu kandidat capres Demokrat lain, Bernie Sanders dalam debat itu menuturkan, labih banyak perang akan menghabiskan triliunan dolar, dan tidak jelas berapa nyawa yang akan melayang.

Joe Biden yang merupakan kandidat lain menegaskan, jika saya presiden Amerika, saya tidak akan pernah mengeluarkan perintah teror Jenderal Soleimani.

Ia menambahkan, kebijakan "Satu Amerika" yang digadang-gadang Trump  sekarang telah berubah menjadi "Hanya Amerika", dan dalam perang di Asia Barat, tanpa teman, tanpa sekutu, dan tanpa sedikitpun dukungan, Amerika sendirian

 

pangkalan militer Ain Al-Assad AS

DPR AS Tak Puas Sikap Pentagon Sembunyikan Korban Luka Ain Al-Assad

Anggota DPR Amerika Serikat meminta Departemen Pertahanan (Pentagon) bersikap transparan terkait jumlah korban militer Amerika di serangan rudal Iran ke pangkalan Ain al-Assad di Provinsi al-Anbar, Irak.

Bill Pascrell dan Don Bacon, di suratnya kepada penyidik Dephan AS mengkritik pengumuman kontradiktif departemen ini terkait jumlah militer Amerika yang terluka di serangan rudal Iran ke pangkalan Ain al-Assad dan menuntut transparansi Pentagon di kasus ini.

Petinggi AS termasuk Presiden Donald Trump, Menhan Mark Esper dan Menlu Mike Pompeo pasca serangan rudal Iran ke Ain al-Assad mengklaim tidak ada militer AS yang tewas atau terluka di serangan tersebut.

Dephan AS sejak saat itu secara bertahap menerima adanya korban terluka di antara tentara AS dan jumlah korban tersebut terus meningkat.

Media Amerika selama beberapa pekan terakhir mengutip petinggi Pentagon secara berurut mengumumkan jumlah korban terluka tentara Amerika di serangan rudal Iran ke Ain al-Assad berjumlah 50, 34, 16 dan 8 orang.

Berbagai analisis menunjukkan bahwa balasan rudal Iran mengakibatkan sejumlah tentara Amerika tewas, namun pemerintah negara ini sampai saat ini tidak berencana mengakuinya.

Sepah Pasdaran Iran (IRGC) Rabu (08/01) melancarkan serangan balasan atas gugurnya Syahid Qasem Soleimani di tangan militer Amerika dengan menembakkan puluhan rudal ke pangkalan Amerika di Ain al-Assad.

Seorang petinggi terpercaya IRGC menyatakan selama serangan rudal tersebut, sedikitnya 80 tentara Amerika tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka.

Letjen Soleimani berserta rombongan gugur syahid Jumat (03/01/2020) dalam sebuah serangan udara Amerika di dekat Bandara Udara Baghdad, Irak.

Syahid Soleimani saat itu tengah berkunjung ke Irak atas undangan resmi petinggi Baghdad.

 

AS Sangat Cemaskan Operasi Penumpasan Teroris di Idlib

Utusan pemerintah Amerika Serikat untuk Suriah, Rabu (5/2/2020) sangat mencemaskan serangan Damaskus atas teroris di Idlib.

Utusan khusus Amerika untuk Suriah, James Jeffrey, Rabu (5/2) mengaku sangat khawatir dengan operasi militer Suriah di Idlib.

Ia menambahkan, Amerika sangat sangat khawatir dengan peristiwa yang terjadi di barat laut Suriah.

Menurut James Jeffrey, perang di Idlib adalah pertempuran yang berbahaya, dan perlu untuk mengakhirinya. Rusia juga harus mengubah kebijakannya.

Pasukan pemerintah Suriah sejak sebulan lalu menggelar operasi militer di Idlib sebagai reaksi atas pelanggaran gencatan senjata oleh teroris dan Turki. Militer Suriah sampai saat ini berhasil merebut sejumlah kota dan 20 desa dari tangan teroris dukungan Turki di Idlib.

 

Pangkalan militer AS di Suriah

 

Militer AS Bangun Pangkalan Dekat Penjara Daesh di Suriah

Pasukan Amerika Serikat membangun pangkalan militer pertama mereka di kota Hasakah, Suriah dekat sebuah penjara tempat menahan ratusan anasir teroris Daesh.

Sputnik melaporkan, pasukan Amerika baru-baru ini mengirim konvoi militer yang terdiri dari kendaraan lapis baja, truk pengangkut logistik, senjata dan lainnya ke dalam kota Hasakah di timur laut Suriah.

Menurut Sputnik, personel militer Amerika bermaksud membangun sebuah pangkalan di kota Hasakah.

Pangkalan militer Amerika itu, katanya, akan dibangun di sebuah lokasi yang diduduki milisi bersenjata Kurdi, Pasukan Demokratik Suriah, SDF, di selatan Hasakah.

Ini adalah pangkalan ilegal pertama yang dibangun pasukan Amerika di kota Hasakah, Suriah.

 

Pasukan AS

AS Tempatkan 20 Ribu Tentara di Perbatasan Rusia

Amerika Serikat bermaksud menempatkan 20.000 tentaranya di dekat perbatasan Eropa, dengan dalih latihan militer bersama dengan sekutunya.

Amerika dengan dalih melatih pasukan negara-negra Eropa sekutunya, akan menempatkan sekira 20 ribu pasukan di perbatasan Rusia.

Sebagaimana ditulis Euro News, Amerika dengan dalih menyelenggarakan manuver militer bersama, "Defender Europe 2020", akan mengirim 20 ribu pasukan ke Eropa. Ini merupakan penempatan pasukan Amerika terbanyak di Eropa dalam 25 tahun terakhir.

Pasukan Amerika akan bergabung dengan pasukan negara NATO lain dari Perancis, Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris.

Sebelumnya Sekjen NATO, Jens Stoltenberg mengatakan, latihan militer Defender Europe 2020 merupakan penempatan pasukan Amerika terbesar dalam 25 tahun terakhir di Eropa, dan menunjukkan tekad kuat Amerika untuk mewujudkan kebebasan dan keamanan Eropa.

 

Warga Pertama AS Terinfeksi Corona Tewas di Wuhan

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beijing mengumumkan, seorang perempuan warga Amerika berusia 60 tahun yang tinggal di kota Wuhan, tewas karena terinfeksi Virus Corona.

Pejabat pemerintah Gedung Putih mengabarkan tewasnya seorang warga Amerika pertama, akibat infeksi Virus Corona.

Sebagaimana ditulis surat kabar New York Times, seorang warga Amerika yang tinggal di Wuhan, Kamis (6/2) akhirnya meninggal setelah terinfeksi Corona.

Ini adalah kasus pertama warga Amerika tewas karena Virus Corona.

Media dan pejabat Amerika tidak menjelaskan detail peristiwa ini, karena mengaku tidak ingin mencampuri urusan pribadi korban.(PH)

 

Tags

Komentar