Feb 10, 2020 20:39 Asia/Jakarta
  • Bernie Sanders
    Bernie Sanders

Beberapa bulan menjelang penyelenggaraan pemilu presiden AS, suasana politik negara ini sudah mulai panas. Sebagian kalangan mengkhawatirkan politik uang dengan meningkatnya keterlibatan para miliarder dalam proses politik tersebut.

Senator negara bagian Vermont, yang juga bakal calon kuat presiden AS, Bernie Sanders di akun Twitter-nya menulis, "Sistem pendanaan kampanye pemilu kita semakin dikendalikan oleh para miliarder dan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. Kita harus melawan proses oligarki ini. Masa depan demokrasi kita dipertaruhkan,".

Peringatan Sanders sangat beralasan mengingat proses pemilu AS saat ini mengarah ke sana. Sebelum pemilu presiden 2016, muncul kekhawatiran mengenai peran para miliarder Amerika baik secara tersembunyi maupun terang-terangan dalam mendukung para kandidat yang maju menjadi calon presiden. Kekhawatiran tersebut semakin meningkat dengan naiknya Donald Trump sebagai salah satu miliarder AS menjadi calon presiden dari partai Republik, dan kini menjadi orang nomor satu di negara ini. Trump maju dengan mengusung slogan "America First" dan berhasil mendulang suara  dengan dukungan dananya yang melimpah.

Trump juga tidak sendirian. ِIa didukung deretan kapitalis Yahudi terkenal semacam Sheldon Adelson. Sementara itu, di pihak kubu partai Demokrat terdapat jajaran kapitalis terkenal seperti George Soros dan miliarder New York Michael Bloomberg yang membiayai kampanye Hillary Clinton. Oleh karena itu, keterlibatan para miliarder dalam pemilu presiden AS sulit untuk dibantah.

 

Gedung Putih

 

Kini, pada kompetisi pemilu presiden AS November 2020 mendatang akan diramaikan kehadiran Michael Bloomberg di partai Demokrat yang akan bersaing dengan bakal calon presiden lainnya di partai ini untuk menghadapi Trump dari partai Republik.

Bloomberg dengan kekayaannya yang diperkirakan sekitar 58 miliar dolar mengumumkan akan maju sebagai bakal calon presiden dari partai Demokrat pada November 2019. Michael Bloomberg sebelumnya memegang jabatan sebagai wali kota New York, dan memiliki pengalaman yang baik di arena politik. Sebagaimana Trump, ia juga mengandalkan kekayaannya untuk maju sebagai calon presiden AS. Bloomberg optimis bisa maju bersaing dengan Trump dalam pilpres 2020. Meskipun demikian, ia harus menghadapi babak penyisihan dengan para bakal calon lain di partainya sendiri. 

Masalah cengkeraman oligarki juga ditegaskan Sanders menyikapi lawannya dalam babak penyisihan partai Demokrat, Pete Buttigieg. Dalam sebuah pidatonya, ia menggambarkan Buttigieg sebagai kandidat favorit para miliarder. Senator Vermont ini mengklaim kelompok tersebut sebagai sumber korupsi di partai Demokrat. Sanders menyebut Pete Buttigieg didukung 40 miliarder besar, tetapi dirinya mengaku bangga tidak ada satupun miliarder di belakangnya. "Saya memiliki 40 juta pendukung dengan rata-rata bantuan hanya 18 dolar," ujar Sanders.

Statemen penuh keprihatinan yang disampaikan Bernie Sanders mengenai sepak terjang para miliarder dalam pemilu presiden AS menunjukkan besarnya kepentingan oligarki keuangan, industri, politik dan media AS dan kelompok-kelompok kepentingan tertentu terhadap Gedung Putih. Dengan demikian, kepentingan nasional dikorbankan untuk kepentingan individu dan kelompok. Jadi, seperti yang ditegaskan Sanders, tidak akan ada lagi tanda demokrasi dan kedaulatan di Amerika.(PH)

Tags

Komentar