Feb 17, 2020 08:39 Asia/Jakarta

Selama era Perang Dingin dan pasca Perang Dingin, Barat yang dipimpin Amerika Serikat telas berusaha keras untuk memperluas hegemoninya di dunia. Namun, situasi global dan sistem internasional telah mengalami perubahan fundamental dan para pemimpin Barat sekarang mengakui akhir dari dominasi Barat.

Berbicara di Konferensi Keamanan Munich pada hari Sabtu, 15 Februari, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengakui melemahnya peran Barat di arena global dan terjadi perubahan keseimbangan kekuasaan di dunia dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru.

"Kita bisa melihat beberapa kelemahan spesifik Barat. Nilai-nilai telah berubah dan kekuatan baru telah muncul," ujar Macron.

Presiden Perancis Emmanuel Macron

Macron kemudian mendesak Eropa untuk mengembangkan strategi kedaulatannya dalam satu dekade. Menurutnya, "Kami tengah berubah menjadi benua yang tidak percaya pada masa depannya sendiri."

Di era pasca Perang Dingin, meskipun ada upaya AS untuk mempertahankan sistem bipolar dan melestarikan dominasi Barat atas dunia, tren global dalam berbagai dimensi telah menyebabkan munculnya kekuatan ekonomi, politik dan militer secara internasional. Terlepas dari bukti yang jelas tentang kecenderungan menurunnya pengaruh Barat di dunia, Washington terus menyangkal hal ini dan mengklaim hegemoni Amerika.

"Barat sedang menang dan kita secara kolektif menang," ungkap Mike Pompeo, Menteri Luar AS saat berbicara di Konferensi Keamanan Munich.

Namun, ada kesenjangan panjang antara klaim Menlu AS dan tren nyata di dunia. Barat yang dipimpin AS kini menghadapi rival seperti Cina dan Rusia. Cina, sekarang kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi pertama di dunia pada tahun 2030 dan masalah ini mempertanyakan dominasi ekonomi dan perdagangan Barat, terutama Amerika Serikat.

Rusia, yang telah menjalani proses membangun kembali dan memulihkan kekuatannya sejak penurunan pada dekade 1990-an dengan berkuasanya Vladimir Putin sejak tahun 2000, sekarang merupakan saingan politik dan militer utama Barat, terutama AS, tidak hanya di Eropa tetapi di Asia Barat dan Amerika Latin. Dengan demikian, terlepas dari upaya AS untuk memainkan peran utama, kekuatannya telah ditantang di berbagai arena dan organisasi regional dan internasional baru seperti Organisasi Kerjasama Shanghai dan Grup Brix telah muncul melawan organisasi Barat seperti G7.

Sekarang ada pertarungan antara kekuatan Barat yang dominan dan kekuatan yang bersaing di dunia. Barat berulang kali menggambarkan demokrasi liberal sebagai ideologi politik top dunia, dan bahkan setelah berakhirnya Perang Dingin, pemikir Amerika Francis Fukuyama berbicara tentang akhir sejarah.

Seolah-olah orang Barat percaya bahwa nilai-nilai dan tujuan adalah apa yang mereka yakini dan bahwa negara-negara dengan kepercayaan, ideologi, atau peradaban lain harus sejajar dengan Barat. Itulah sebabnya Amerika Serikat menyebut Rusia ancaman terbesar bagi tatanan dunia dan menyerukan konfrontasi karena Moskow tidak menerima nilai-nilai Barat yang dipromosikan sebagai nilai-nilai universal dan menuntut agar Barat, terutama Amerika Serikat, menghormati aturan itu. Internasional.

Poin penting adalah bahwa tren penurunan pengaruh Barat di arena global sebagian besar disebabkan oleh kesalahan kinerja Barat di dunia, yang dalam beberapa abad terakhir berada dalam kerangka di bawah kolonialisme dan imperialisme.

"Kita sekarang hidup di ujung dominasi Barat atas dunia, dan ini disebabkan oleh kesalahan Barat di masa lalu," jelas Macron Agustus 2019.

Amerika Serikat sekarang berusaha untuk memaksakan tujuan dan nilai-nilainya pada negara-negara lain dalam bentuk kebijakan unilateralis. Pendekatan Amerika ini telah menghadapi penentangan dari PBB. Menurut Maria Fernanda Espinosa, Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, "Menghadapi berbagai gejolak yang meningkat di dunia hanya mungkin dalam "multilateralisme"."

Maria Fernanda Espinosa, Presiden Majelis Umum PBB

Amerika Serikat sangat menentang multilateralisme dan berusaha untuk mempertahankan peran hegemoniknya secara internasional dengan menegakkan tuntutannya terhadap negara-negara lain. Namun, buktinya adalah bahwa AS semakin mengucilkan dirinya karena tindakan sepihak dan arogansi Donald Trump.

Tags

Komentar