Mar 17, 2020 19:59 Asia/Jakarta
  • AS dan Corona
    AS dan Corona

Tahun 1398 Hs di AS diwarnai sejumlah peristiwa penting, upaya Presiden Donald Trump bangun tembok pemisah di perbatasan, isu pemakzulan Trump dan hasilnya.

Selain itu masih ada isu lain berupa peningkatan sanksi AS terhadap Iran, teror terhadap Letjen Qasem Soleimani, serta isu Corona di Amerika.

Upaya Presiden AS Bangun Tembok Pemisah di perbatasan

Presiden Amerika Serikat dalam kebijakan anti imigrannya selain melarang masuknya imigran ilegal ke negaranya juga mencanangkan rencana pembangunan tembok pemisah di perbatasan negaranya dengan Meksiko untuk menghadang masuknya imigran gelap.

Proyek tembok pemisah Trump di perbatasan dengan Mexico

Sebelumnya DPR tidak bersedia memberi dana bagi pembangunan tembok pemisah di perbatasan, namun Trump mengancam akan menggunakan dana militer untuk mensukseskan rencananya tersebut. Pengadilan federal kemudian memutuskan instruksi Trump untuk menggunakan dana Pentagon bagi pembangunan tembok pemisah ini.

Namun Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan putusan pengadilan federal yang menghalangi penggunaan dana Pentagon untuk tembok perbatasan. Mahkamah Agung AS membolehkan presiden negara ini untuk menggunakan dana 2,5 miliar dolar dari anggaran Pentagon untuk membangun dinding perbatasan.

Pengadilan ini dengan lima suara menyetujui dan empat suara menolak akhirnya memutuskan untuk membatalkan hukum pengadilan federal di Kalifornia. Sebelumnya, hakim pengadilan Kalifornia menolak presiden menggunakan dana ini. Pengadilan federal Kaliformasi mengatakan bahwa Kongres secara spesifik tidak menetapkan anggaran ini pembangunan dinding perbatasan.

Pembangunan dinding pembatas antara Amerika Serikat dan Meksiko merupakan satu dari janji kampanye Donald Trump pada tahun 2016 yang ditentang serius oleh kubu Demokrat. Keputusan Mahkamah Agung AS berarti anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun proyek dinding perbatasan di Kalifornia, Arizona, dan New Mexico. Dalam akun Twitter-nya, Trump menyebut keputusan Mahkamah Agung sebagai kemenangan besar. Putusan pengadilan federal di Kalifornia, yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS pada hari Jumat, 26 Juli, adalah salah satu dari beberapa tuntutan hukum yang diajukan terhadap pemerintah oleh hampir empat negara bagian dan kelompok hak asasi manusia. Itu memungkinkan presiden AS untuk melewati Kongres dari jalan belakang.

Awal tahun ini, Trump mengumumkan keadaan darurat di perbatasan dengan Meksiko guna membuka jalan bagi Kementerian Pertahanan untuk membangun tembok perbatasan. Pejabat Gedung Putih pada awalnya mengatakan pemerintah berencana untuk mengambil dana sebesar 6 miliar dari anggaran Kementerian Pertahanan untuk membangun tembok tersebut. Sementara para pencinta lingkungan telah menggugat rencana pembangunan tembok itu, dan mengatakan pembangunan itu berpengaruh negatif pada kehidupan berbagai spesies hewan dan serangga.

Kubu Demokrat sebelumnya mengatakan mereka akan menggunakan semua cara hukum untuk mencegah penggunaan dana militer jika terjadi keadaan darurat untuk membangun tembok perbatasan. Gedung Putih mengumumkan di akun Twitter-nya Sabtu, 27 Juli, bahwa AS dan Guatemala sepakat bagaimana menerima pencari suaka. Perjanjian tersebut ditandatangani di Gedung Putih.

Upaya DPR AS Memakzulkan Trump

Dewan Perwakilan Amerika Serikat akan memulai proses pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Rencana ini muncul setelah Trump diduga menyalahgunakan wewenang untuk menghalangi bakal calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.  Trump disebut meminta Ukraina menyelidiki dugaan korupsi putra Joe Biden , Hunter Biden, yang diduga dibuat-buat.

Upaya Pemakzulan Trump

Usul penyelidikan untuk memakzulkan Trump disetujui Dewan Perwakilan pada Selasa (24/9) kemarin setelah melalui proses pemungutan suara. Sebanyak 170 dari 235 anggota DPR AS mendukung upaya pemakzulan terhadap Trump.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi, dari Partai Demokrat, mengumumkan dimulainya penyelidikan pemakzulan pada Selasa (24/9) waktu setempat. Pelosi menegaskan 'tidak ada satupun yang di atas hukum'.

Upaya pemakzulan (impeachment) menjadi ramai diperbincangkan akibat polemik yang membelit Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia diusulkan untuk dicopot dari jabatannya karena dianggap menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres.

Dalam voting pasal penyalahgunaan kekuasaan, anggota parlemen yang setuju pasal ini sebanyak 230 orang. Sementara yang menolak sebanyak 197.

Sementara untuk pasal kedua, sebanyak 229 anggota parlemen setuju Trump sudah menghalang-halangi kongres. Sementara sisanya 197 tidak setuju.

Namun begitu, Trump tidak dikeluarkan dari jabatannya. Sebab, setelah ini, artikel impeachment masih harus diperdebatkan di Senat AS.

Impeachment adalah mekanisme politik yang terjadi di negara yang menerapkan sistem pemerintahan demokrasi. Hal ini dilakukan jika seorang kepala negara atau kepala pemerintahan atau kepala lembaga legislatif dan yudikatif diduga melanggar undang-undang atau melakukan kejahatan.

Dewan Perwakilan memiliki kewenangan untung mengajukan pemakzulan. Namun yang berhak memutuskan pemakzulan adalah Senat.

Proses pemakzulan di Dewan Perwakilan harus melalui tiga tahap. Yakni penyelidikan oleh Komite Intelijen, penyusunan pasal pemakzulan oleh Komite Hukum, dan kemudian dikembalikan kepada Dewan Perwakilan untuk disepakati melalui voting.

Bukti-bukti dan pasal pemakzulan diserahkan dari Dewan Perwakilan kepada Senat. Senat kemudian akan memanggil presiden untuk diperiksa secara tertutup.

Senat kemudian harus memutuskan apakah kepala negara atau kepala pemerintahan dicopot atau layak dipertahankan, dengan pemungutan suara yang harus mencapai 2/3 jumlah anggota lembaga itu.

Di Amerika Serikat, proses pemakzulan tidak hanya dilakukan pada tingkat pemerintah pusat atau federal, tetapi juga di level negara bagian. Kongres di setiap negara bagian berhak mengajukan pemakzulan kepada gubernur masing-masing.

Pemakzulan tidak selalu berujung pada pemecatan seorang kepala negara. Namun, dakwaan itu melekat dan bisa digunakan oleh lembaga penegak hukum jika hendak menjeratnya.

Setelah DPR menyetujui pemakzulan Trump, berkas tersebut kemudian dikiirm ke Senat. Sementara Senat yang dikuasai Republik pada akhirnya menyatakan Trump bebas dan tak bersalah atas tuduhan yang dilimpahkan kepadanya.

Sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berakhir, Rabu, 5 Februari 2020.

Trump selamat dari upaya pemakzulan yang sebelumnya telah disetujui oleh DPR AS. Dia batal lengser berkat bantuan koleganya Partai Republik yang menguasai Senat AS.

Pemakzulan tak hanya harus disetujui DPR AS tapi juga Senat AS. DPR AS saat  ini dikuasai oposisi Trump, Partai Demokrat, namun Senat, dikuasai oleh Partai Republik.

Usai sidang tersebut, Presiden ke-45 AS ini berkomentar di akun Twitternya. Dia menulis, "kemenangan negara atas pemakzulan palsu".

Trump kemudian mengunggah video berdurasi 30 detik  yang memuat poster-poster bertuliskan, Trump dan tahun pemilu presiden AS. Pada ujung gambar terakhir, ada wajah Trump dengan poster bertuliskan Trump 4EVA (Trump Forever) atau Trump selamanya.

Unggahan Trump itu menunjukkan bahwa dia kembali fokus pada Pemilu AS 2020, bahkan, Trump sudah membuat slogan baru yang akan dipakai pada masa kampanye, "Trump 4EVA".

Video buatan Trump diawali dengan tampilan sampul Majalah Time yang menunjukkan reklame-reklame kampanye Trump. Tiap reklame menunjukkan periode kepemimpinan presiden Amerika ke depannya.

Pada cover tersebut juga tertulis "How Trumpism outlasts Trump" (Bagaimana Trumpisme bertahan lebih lama dari Trump). Sampul tersebut juga menampilkan tanda-tanda kampanye Trump yang dimulai pada 2024 dan bertahan hingga 90.000.

AS Teror Jenderal Qasem Soleimani

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah kejahatan dan aksi ilegal pada 3 Januari 2020, memerintahkan pembunuhan Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan rekan-rekannya di dekat Bandara Internasional Baghdad, Irak.

Pelapor khusus PBB menyatakan bahwa aksi teror itu merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Jenderal Soleimani

Agnes Callamard pada Selasa (18/2/2020), mengatakan pembunuhan Letjen Soleimani oleh pemerintah AS adalah melanggar hukum internasional. Menurutnya, tindakan pemerintah AS akan menciptakan sebuah pendekatan yang salah, yang dapat berujung pada sebuah tragedi.

"Dengan meneror Qassem Soleimani, parameter tentang penggunaan kekuatan militer ekstrateritorial sepenuhnya telah dilanggar oleh sebuah pemerintah. Dalam kasus ini, seorang pejabat resmi pemerintah menjadi target, padahal sebelum ini hanya aktor-aktor non-negara yang menjadi sasaran dan tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap norma dan aturan internasional," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat melalui klaim palsunya kembali berusaha menjustifikasi kejahatan militer negaranya meneror Jenderal Soleimani.

"Melalui langkah ini, ancaman terhadap militer Amerika di kawasan berkurang," ungkap Pompeo Jumat (28/02) di sesi audisi Komisi urusan Luar Negeri DPR AS ketika menjustifikasi kejahatan negaranya meneror Syahid Soleimnai seperti dilaporkan IRNA.

Menlu AS di kebohongannya menyebut Iran sebagai sponsor utama terorisme dan anti-semitisme serta menambahkan, Iran dan kelompok proksi negara ini bertanggung jawab atas kematian ratusan Amerika di Irak.

Seraya mengulang ancaman terhadap Iran, Pompeo mengklaim, tujuan propaganda represi maksimum terhadap Iran adalah menyakinkan negara ini untuk mengubah perilakunya.

Wabah Corona di Amerika

Wabah virus Corona yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 juga telah merambah ke Amerika Serikat. Reuters Kamis (05/02) malam melaporkan, jumlah korban virus Corona di Amerika Serikat mencapai 12 orang.

IRNA menulis, 11 korban Corona di Amerika berada di negara bagian Washington dan satu orang lainnya dari negara bagian California.Sampai saat ini dilaporkan 158 orang di Amerika terinfeksi virus Corona.

Media Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan korban meninggal akibat virus Corona di negara ini sebanyak 11 orang.

Korban Corona di AS

Kekhawatiran di Amerika terkait kinerja pemerintah Donald Trump dalam menangani wabah Corona semakin tinggi dan bahkan gubernur Washington mengumumkan kondisi darurat akibat ancaman Corona.

Menyusul peningkatan jumlah warga terinfeksi virus Corona (COVID-19) di New York, seluruh pusat publik di kota ini ditutup dan diplomat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendapat peringatan.

Kantor berita AFP mengutip sumber manajemen perkotaan New York mengkonfirmasi peliburan seluruh sekolah di kota ini akibat penyebaran wabah Corona.

Sementara itu, restoran dan cafe di kota New York juga ditutup.

Pejabat New York memperingatakan ancaman Corona di kota ini yang menjadi lokasi markas besar PBB dan para diplomat seluruh dunia diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir September atau bahkan Oktober 2020.

Mereka menuntut para diplomat PBB menjaga kesehatannya.

Gubernur negara bagian Ohio juga dilaporkan menginstruksikan seluruh restoran dan cafe di wilayah ini mulai Senin (16/03) hingga akhir bulan Maret ditutup.

Presiden Amerika Donald Trump mengklaim program pemerintahannya untuk melawan Corona berhasil, namun ia ternyata mendapat kritikan luas di bidang ini.

Andrew Cuomo, gubernur New York mengatakan, "Saya mengatakan kepada presiden untuk mengabaikan isu Republik atau Demokrat, dan menseriusi Corona karena ini berkaitan dengan masalah hidup."

Laman trust out baru-baru ini seraya mengisyaratkan bahwa 28 juta orang di Amerika tidak memiliki asuransi menyebut wabah Corona di negara ini sebuah bencana.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika beberapa waktu lalu memperingatkan, Amerika cepat atau lambat akan menghadapi secara serius wabah virus Corona.

Seorang pejabat Pentagon AS mengatakan sektor perawatan kesehatan AS tidak akan mampu mengakomodasi gelombang koroner yang meluas.

Menurut laporan televisi Aljazeera, hari Sabtu, 14 Maret, seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa pada akhir Maret, wabah virus Corona dapat menghantam sistem kesehatan dan medis AS dengan gelombang pasien yang luas.

Jika terjadi situasi seperti itu, sistem perawatan kesehatan AS tidak memiliki cukup staf medis dan tempat tidur untuk menampung pasien.

Sekaitan dengan hal ini, Anthony S. Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS (NIAID), mengatakan kepada ABC News bahwa krisis virus Corona kemungkinan akan berlanjut hingga tujuh minggu.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan indeks kinerja Presiden Donald Trump dalam menangani penyebaran virus Corona negatif dan hampir separuh responden tidak menerima kinerjanya.

Seperti dilaporkan laman The Daily Caller, hasil jajak pendapat lembaga Quinnipiac yang dirilis Selasa (10/03) menunjukkan tingkat penerimaan kinerja Trump di antara warga yang berhak memberikan suara, negatif.

50 persen responden mengatakan sacara global mereka tidak menerima langkah Trump dan hanya 37 persen responden yang mendukung kinerja presiden.

Polling Quinnipiac dilakukan di antara 1.261 pemilih yang memenuhi syarat antara 5-8 Maret dengan tingkat kesalahan positif dan negatif 2,8 persen.

Berdasarkan data terbaru, jumlah penderita Corona di Amerika mencapai 722 orang dan korban meninggal sekitar 26 orang.

Upaya Trump untuk mengabaikan dan meremehkan isu penyebaran virus Corona menuai kritikan luas di Amerika Serikat.

 

Tags

Komentar