Mar 31, 2020 20:48 Asia/Jakarta
  • Perang Harga Minyak Antara Saudi dan Rusia

Kesepakatan tiga tahun antara OPEC dan para produsen besar minyak non-OPEC untuk memangkas produksi, berakhir setelah Rusia menolak proposal Arab Saudi untuk melanjutkan pemangkasan produksi.

Saudi dan sekutunya kemudian meningkatkan produksi minyaknya dan secara resmi memulai perang harga dengan Rusia.

Harga minyak di pasar dunia turun ke level terendah dalam 17 tahun terakhir, yang dipicu oleh rontoknya bursa pasar saham di tengah pandemi wabah virus Corona.

Pada perdagangan 30 Maret 2020, harga minyak West Texas Intermediate turun 5,3 persen menjadi 20 dolar per barel, sedangkan harga minyak Brent turun 6,5 persen menjadi 23 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2002.

Langkah Saudi melanjutkan perang minyak dengan Rusia telah menyebabkan pasar dunia kelebihan pasokan sebanyak jutaan barel. Kondisi ini diperparah lagi dengan penurunan permintaan dan lesunya pasar akibat pandemi virus Corona yang menyerang negara-negara dunia.

Seorang analis pasar minyak, Satoru Yoshida mengatakan, "Sampai berakhirnya pandemi virus Corona, harga minyak akan terus tertekan dan bisa terjun ke angka 20 dolar per barel."

Namun, Saudi menolak mengubah posisinya meskipun mendapat tekanan dari AS untuk menghentikan perang harga dan adanya upaya dari Moskow untuk menyelesaikan sengketanya dengan Riyadh. Pemerintah Saudi menyatakan mereka belum melakukan pembicaraan apapun dengan Rusia untuk menstabilkan harga di pasar minyak.

Menteri energi Saudi pada 27 Maret lalu, menolak pembicaraan dengan Rusia untuk menstabilkan pasar minyak dan menghentikan penurunan harga lebih lanjut.  

Seorang pejabat Kementerian Energi Saudi menuturkan, belum ada kontak antara menteri energi Saudi dan Rusia untuk membahas penambahan jumlah anggota OPEC+ atau mendiskusikan sebuah kesepakatan bersama untuk menyeimbangkan harga.

Ilustrasi Rusia dan OPEC.

Pernyataan itu disampaikan setelah CEO Dana Investasi Langsung Rusia, Kirill Dmitriev mengatakan bahwa sejumlah besar produsen minyak dapat bekerja sama dengan OPEC dan Rusia untuk mendorong pemangkasan produksi. Namun, ia tidak menyebut langsung nama Amerika sebagai salah satu produsen terbesar di dunia.

Menurutnya, diperlukan tindakan bersama oleh negara-negara untuk memulihkan ekonomi global. Aksi bersama ini juga dimungkinkan dalam kerangka kesepakatan OPEC.

Namun, Dmitriev tidak menyebutkan negara mana saja yang siap mendukung upaya pemangkasan produksi. Kesepakatan saat ini antara OPEC dan Rusia berakhir pada 31 Maret 2020.

Rusia sekarang mengupayakan kerja sama dengan anggota lain OPEC untuk mencapai sebuah kesepakatan terkait kapasitas produksi dan ekspor global minyak sehingga pasar kembali stabil dan harganya menanjak naik.

Arab Saudi terus meningkatkan produksi minyak untuk menjaga pangsa pasarnya. Negara itu menyadari bahwa jika mereka mengurangi produksi demi mengerek naik harga, maka Rusia akan menutupi kekosongan itu dan merebut pangsa pasar.

Jika Saudi memutuskan pemangkasan produksi demi mendorong naiknya harga, maka langkah ini akan membuka peluang bagi Rusia untuk menambah produksi dan menggagalkan rencana AS untuk merebut pasar minyak internasional dari Rusia.

Perang harga ini pada akhirnya akan menguras cadangan devisa Saudi yang sangat bergantung pada pendapatan minyak. Rusia masih bisa menutupi defisit anggarannya dengan harga minyak di bawah 40 dolar per barel, tapi Saudi menghadapi defisit anggaran jika harga berada di bawah 80 dolar. (RM)

Tags

Komentar