Apr 02, 2020 20:57 Asia/Jakarta
  • Kelangkaan makanan
    Kelangkaan makanan

Berlanjutnya krisis Corona di dunia telah membangkitkan kekhawatiran masa depan perekonomian dan sosial berbagai negara khususnya negara-negara miskin dan lemah.

Isu kelaparan dan mekanisme suplai makanan termasuk agenda utama di kasus ini. Sekaitan dengan hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organsisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperingatkan jika otoritas berbagai negara gagal menanggulangi pandemi Corona, maka dunia akan terancam kelangkaan bahan makanan.

Qu Dongy, Direktur umum Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Tedros Adhanom, dirjen WHO, dan Roberto Azevedo, direktur WTO di statemen bersama mengumumkan, ketidakpastian mengakses bahan makanan telah menciptakan gelombang pembatasan ekspor dan membuat pasar global mengalami kelangkaan produk. Kita harus menjamin dan respon kita terhadap Covid-19 secara sengaja tidak akan menimbulkan kelangkaan produk mendasar dan menciptakan kelaparan serta gizi buruk.

Kelangkaan makanan dan barang di supermarket

Pandemi Corona telah membuat berbagai pemerintah di dunia melalui berbagai kebijakannya termasuk karantina, pembatasan sosial serta jaga jarak fisik, penutuan berbagai pusat penting seperti pabrik demi mengontrol Corona, namun kebijakan ini juga memiliki akibat fatal seperti menurunnya perdagangan internasional serta terancamnya mata rantai suplai makanan.

Di berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat rak-rak di supermarket kosong dan aksi serbuan besar-besaran warga memborong barang yang mayoritasnya makanan karena ketakutan telah menunjukkan betapa rapuhnya mata rantai suplai makanan.

Senator AS, Bernie Sanders seraya mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump dan pengumuman bahwa puluhan juta warga Amerika terancam kemiskinan dan kelaparan akibat krisis Corona di cuitan Twitternya menulis, krisis Corona yang semakin parah mengancam puluhan juta warga Amerika kelaparan. Kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.

Sementara itu, di Inggris isu suplai makanan juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat.

Tim Lang, guru besar kebijakan makanan di Universitas City di London dan pensihat pemerintah Inggris sebelumnya mengatakan, Inggris hanya memproduksi 53 persen kebutuhan pangannya dan dengan ditutupnya perbatasan dan melambatnya inspeksi perbatasan serta lalu lalang truk, pemerintah Inggris gagal menjamin suplai pangan yang dibutuhkan negara ini.

Masalah ini di negara berpenduduk besar seperti India dan negara-negara Afrika telah meningkatkan ancaman kelaparan dan paceklik.

Calix Bella, penulis asal Cameron di facebook menulis, karantina sebagian maupun total dapat menimbulkan dampak kritis bagi benua Afrika. Rakyat miskin akan menjadi korban pertama. Mereka akan kelapaoran atau badan mereka akan lemah akibat gizi buruk serta mereka akan rentan terinfeksi virus Corona. Oleh karena itu harus diambil strategi segera untuk menjawab kebutuhan rakyat.

Isu penurunan laju ekonomi, resesi global dan dampaknya bagi jaminan pangan sangat serius. Meski negara-negara besar dan kaya berusaha mengatur program kontrol Corona untuk mengatasi krisis pasca pandemi ini, dan dalam hal ini mereka juga menghapus pajak dan lebih banyak memberi pelayanan sosial dan kesehatan bagi berbagai lapisan masyarakat, namun komitmen terhadap kebijakan multilateral dan bantuan kepada negara miskin serta yang terpapar wabah Corona adalah tugas dunia di mana harus diambil langkah dan program oleh negara kaya di dunia pasca pandemi ini.

Image Caption

Pakar FAO meyakini pembatasan ekspor terkadang akan berujung pada kelaparan dan paceklik di negara importir dunia. Salah satu pakar ekonomi FAO mengingatkan, pasca krisis moneter tahun 2007, sejumlah negara produsen beras seperti India dan Vietnam memberlakukan pembatasan ekspor karena mereka khawatir kenaikan harga, namun keputusan ini dengan sendirinya malah memicu kenaikan harga di level global serta memicu kerusuhan akibat kelaparan di sejumlah negara tengah berkembang.

Sampai saat ini 80 negara meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF), sebuah prediksi ekonomi yang mengkhawatirkan. Dalam hal ini negara kaya dan maju serta memiliki ekonomi kuat di dunia memainkan peran menentukan di krisis Covid-19. Sepertinya jika negara-negara ini menolak bekerja sama dan memberi bantuan yang diperlukan di tingkat internasional, dan mengambil pendekatan satu arah maka mata rantai kemiskinan dan wabah di dunia akan menimbulkan dampak yang sangat parah dan tidak dapat dikompensasi. (MF)

 

 

Tags

Komentar