Apr 03, 2020 11:12 Asia/Jakarta
  • Vladimir Putin, Presiden Rusia
    Vladimir Putin, Presiden Rusia

Kelanjutan perang minyak antara Rusia dan Arab Saudi dan berlanjutnya penurunan harga minyak di pasar internasional telah menimbulkan kekhawatiran, dan negara-negara yang berpengaruh menyerukan untuk keluar dari anomali saat ini.

Dalam hal ini, Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Rabu (01/04/2020), menekankan perlunya menemukan solusi untuk fleksibilitas pasar minyak, sementara juga menekankan pembahasan kondisi pasar minyak negara-negara anggota OPEC dan Amerika Serikat.

"Situasi saat ini mengkhawatirkan semua orang dan konsumen harus khawatir, karena jika ada kekurangan dana untuk sektor ini dan aktivitas sumur-sumur minyak baru terhenti, lonjakan harga tidak akan terhindarkan nanti dan tidak ada yang menginginkan itu," kata Putin.

Vladimir Putin, Presiden Rusia

Perang minyak baru-baru ini antara Rusia dan Arab Saudi dimulai setelah pertemuan OPEC yang gagal dengan Rusia di Wina pada awal Maret 2020. Sementara Arab Saudi ingin mengurangi produksi minyak sebanyak mungkin untuk mencegah penurunan harga lebih lanjut, Rusia menentang langkah itu. Masalah ini mendorong Saudi dan mitranya untuk membalas dengan menyuntikkan beberapa juta barel minyak tambahan ke dalam pasar minyak dan Rusia juga melakukan reaksi timbal balik. Dengan demikian, harga minyak global telah turun sekitar dua pertiga pada tahun 2020, didorong oleh penurunan permintaan setelah penyebaran virus Corona dan perang harga serta peningkatan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia.

Departemen Energi AS meminta Riyadh dan Moskow untuk menenangkan pasar minyak setelah pasokan minyak Arab Saudi melonjak ke rekor tertinggi lebih dari 5 juta barel per hari. "Peningkatan produksi minyak di tengah tidak adanya permintaan global telah menjadi sumber kemarahan bagi kami," kata Juru Bicara Departemen Energi AS Shaylyn Hynes.

Namun, beberapa analis percaya bahwa mengingat persaingan ketat Amerika dengan Rusia di bidang minyak dan gas serta upaya Washington yang terus menerus untuk mengusir Moskow dari pasar-pasar ini, terutama di Eropa, Rusia menginginkan pengurangan harga minyak yang signifikan sehingga perusahaan-perusahaan AS yang memproduksi minyak serpih dapat keluar dari persaingan, sekalipun demikian Putin setidaknya mengesampingkan masalah ini.

"Penurunan harga minyak untuk orang Amerika juga mengkhawatirkan, karena ambang ekonomi dari produksi minyak serpih diperkirakan sekitar $ 40 per barel, dan karenanya merupakan ujian yang sulit bagi ekonomi AS," ungkap Putin.

Tampaknya bahkan jika Rusia berusaha untuk membangkrutkan para produsen minyak serpih di Amerika Serikat, kelanjutan dari penurunan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya selama 18 tahun terakhir pasti akan memiliki dampak negatif pada pendapatan valuta asing Rusia. Itulah sebabnya Moskow tidak ingin proses ini berlangsung lama.

"Anjloknya harga ekspor utama kami sangat besar dan serius. Kami mengkaji situasi di negara kami dan di tingkat internasional dengan para mitra kami di OPEC, sebagaimana kami juga baru-baru ini membahas masalah ini dengan Amerika Serikat," kata Putin.

Amerika, tentu saja, sangat prihatin dengan situasi saat ini di pasar minyak dan ingin situasi saat ini berakhir. Presiden AS Donald Trump, di satu sisi, mendukung penurunan harga minyak karena sesuai dengan keinginan para konsumen Amerika dan sebagai hasilnya ia akan terpilih kembali dalam pemilihan presiden November 2020, tetapi di sisi lain ia tahu bahwa tren penurunan harga minyak untuk perusahaan-perusahaan minyak serpih AS akan menjadi sangat mahal dan dapat menyebabkan kebangkrutan.

Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa dia baru-baru ini berbicara dengan para pemimpin Saudi dan Rusia dan percaya bahwa kedua negara akan sepakat dalam beberapa hari ke depan untuk mengakhiri perang harga mereka dan meningkatkan harga dengan mengurangi produksi.

Harga minyak mentah global anjlok

Trump beberapa hari yang lalu menyebut perang harga Saudi-Rusia gila dan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang hal itu. Pemerintahan Trump telah mengumumkan rencananya untuk mengirim utusan khusus ke Riyadh demi membujuk negara ini agar mengurangi produksi minyak. Trump diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin perusahaan minyak pada hari Jumat untuk membahas berbagai opsi untuk membantu industri, termasuk tarif impor minyak dari Arab Saudi.

Terlepas dari langkah-langkah ini, sangat sulit untuk mencapai kesepakatan antara Arab Saudi dan Rusia untuk menyeimbangkan pasar minyak dengan kepentingan mereka yang saling bertentangan.

Tags

Komentar