Apr 04, 2020 15:27 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya Amerika Serikat memperpanjang 30 hari untuk memerangi Corona

Selain itu, banyak warga Amerika percaya sistem politik AS tidak adil, Kementerian Energi AS serukan Rusia dan Arab Saudi mengakhiri perang minyak dan klaim bohong Trump bahwa Iran tidak meminta pengurangan sanksi.

AS Memperpanjang 30 Hari untuk Memerangi Corona

Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang arahan nasional untuk memerangi virus selama 30 hari setelah peningkatan tajam mereka yang terinfeksi Corona di negara itu. Setelah Amerika Serikat menyalip seluruh dunia dalam wabah Corona dan ketidakpuasan yang meluas dari rakyat Amerika Serikat dengan kinerja buruk Trump dalam perang melawan COVID-19, Trump hari Rabu (01/04/2020) dalam pertemuan Kelompok Kerja Corona mengatakan, "Amerika Serikat terus berjuang keras untuk mengalahkan virus mengerikan ini. Anda dapat melihat betapa mengerikannya virus ini, terutama ketika Anda melihat statistik kemarin, kami menjelaskan mengapa kami memperpanjang pedoman nasional selama 30 hari untuk memperlambat penyebaran virus."

Presiden AS Donald Trump

Trump yang telah memprediksi sebelumnya bahwa korban akan bertambah luas di antara warga AS akibat penyakit ini mengatakan, "Kami bekerja melawan virus di semua bidang. Dengan pembatasan sosial, dukungan ekonomi untuk pekerja, intervensi medis yang cepat dan inovasi serius, dan melarang perjalanan ke luar negeri yang membahayakan kesehatan masyarakat kita dan kami telah melakukannya dengan cepat."

Namun, ada banyak kritik terhadap kesalahan manajemen Corona oleh pemerintah Trump. Boston Globe telah menyalahkan presiden atas tindakannya selama penyebaran wabah virus Corona, yang menewaskan warga Amerika Serikat karena virus COVID-19.

"Ketika warga Amerika bersiap menghadapi krisis yang paling parah, kita harus ingat bahwa kedatangan coronavirus di Amerika Serikat adalah hasil dari kesalahan besar para pemimpin Amerika. Berbulan-bulan di mana pemerintahan Trump menyia-nyiakan waktu untuk mencegah berjangkitnya virus Corona, dan kesalahan-kesalahan selanjutnya, telah meningkatkan jumlah orang yang terinfeksi COVID-19 lebih banyak dari yang seharusnya. Dengan kata lain, darah rakyat ada di leher Presiden Amerika Serikat," tulis surat kabar ini.

Menurut hasil jajak pendapat terbaru, ketidakpuasan masyarakat AS dengan kinerja pemerintah AS menghadapi wabah virus Corona telah meningkat. Polling yang dilakukan oleh Politico / Morning Polling Center dan segera setelah Trump mengumumkan perpanjangan 30 hari pedoman pembatasan sosial untuk memperlambat penyebaran virus Corona, menunjukkan bahwa 47% dari mereka yang disurvei percaya bahwa pemerintah tidak mengambil tindakan yang cukup untuk memerangi penyebaran virus ini, sementara 40 persen orang merasa bahwa pemerintah telah melakukan cukup. Jajak pendapat yang dilakukan dua minggu lalu menunjukkan bahwa 43 persen orang percaya pemerintah belum mengambil tindakan yang memadai terhadap penyebaran virus Corona, dan 39 persen percaya sebaliknya.

Deborah Birx,  Koordinator Kelompok Kerja Virus Corona di Gedung Putih hari Rabu mengatakan bahwa kelompok kerja memperkirakan bahwa bahkan jika pedoman pembatasan sosial saat ini diikuti, virus COVID-19 dapat meninggalkan 100.000 hingga 240.000 korban di tangan pemerintah AS.

Berdasarkan pemodelan Kelompok Kerja Corona di Gedung Putih, virus itu tidak dapat diberantas di Amerika Serikat hingga awal Juni. Sementara jumlah orang yang terinfeksi virus coronavirus di dunia melebihi satu juta, jumlah orang yang terinfeksi penyakit di Amerika Serikat telah melebihi 277.000. Lebih dari 7.000 orang telah tewas di negara itu sejak wabah. Secara ekonomi, Corona telah memiliki dampak buruk pada ekonomi AS.

Kementerian Tenaga Kerja AS mengatakan dalam sebuah laporan bahwa negara itu telah menghadapi tingkat pengangguran tertinggi dalam 45 tahun setelah berjangkitnya virus Corona. Menurut Kementerian Tenaga Kerja AS, 701.000 orang kehilangan pekerjaan di ekonomi AS pada bulan Maret setelah wabah virus Corona, dan tingkat pengangguran di negara ini telah mencapai 4,4%. Ini adalah kehilangan pekerjaan terburuk sejak Maret 2009 hingga sekarang dan merupakan tingkat pengangguran tertinggi dalam 45 tahun. Menurut laporan itu, orang-orang yang bekerja di bidang kesejahteraan dan katering serta ritel dan kesehatan telah kehilangan lebih banyak pekerjaan daripada yang lain.

Banyak Warga Percaya Sistem Politik AS Tidak Adil

Surat kabar The Hill yang berafiliasi dengan Kongres AS pada hari Rabu 1 April, mengatakan bahwa sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa 57% responden Amerika percaya kalau sistem politik AS dirancang semata-mata untuk mengamankan kepentingan orang kaya dan berkuasa di lingkaran dalamnya. 32 persen menggambarkan sistem itu sesuai untuk semua bagian masyarakat, sementara 11 persen mengatakan sistem politik AS saat ini tidak cocok untuk kelompok mana pun.

The Hill

Perempuan, 12 persen lebih banyak dari laki-laki, percaya bahwa sistem politik Amerika hanya untuk mereka yang berada dalam lingkaran penguasa. Demokrat dan sebagian independen dimana lebih dari kubu Republik telah menggambarkan sistem politik AS lebih mengadopsi individu dalam lingkaran yang berkuasa. Hasil jajak pendapat dirilis tidak lama setelah paket penggalangan dana disetujui pada puncak wabah Coronavirus.

Beberapa mengeluh tentang alokasi bantuan dalam paket ini, mengatakan bahwa dalam paket insentif ini, lebih banyak bantuan ditujukan untuk perusahaan dan bukan untuk pekerja kelas menengah. Tidak hanya kelas menengah dan bawah dari masyarakat Amerika, tetapi juga beberapa elit dan politisi Amerika percaya bahwa kekuasaan di Amerika Serikat ada di tangan para elit politik, ekonomi, dan miliarder.

Senator Bernie Sanders, seorang kandidat Demokrat untuk pemilihan presiden 2020, telah berulang kali mengkritik situasi politik dan ekonomi saat ini dalam sambutannya dan mengatakan bahwa sementara Amerika Serikat tampaknya menjadi demokratis, tetapi dalam praktiknya. negara ini diperintah oleh oligarki, atau elit politik, ekonomi, militer, dan media, yang merencanakan dan mengimplementasikan kebijakan dan keputusan makro-penting berdasarkan kepentingan mereka sendiri.

Sanders pada bulan Maret 2020 dalam debat yang disiarkan televisi mengatakan, "Siapa yang memiliki kekuasaan di Amerika Serikat?" Di Amerika Serikat, kekuasaan ada di tangan miliarder. Para miliarder yang mengendalikan Kongres. Ada miliarder yang memberikan uang kepada politisi. Itulah sebabnya alih-alih memikirkan setengah juta orang yang kehilangan tempat tinggal, kita lebih memikirkan tentang meringankan pajak miliarder."

Baru-baru ini, Senator AS ini memperingatkan kehadiran miliaran dolar dalam pemilihan presiden dalam beberapa tahun terakhir, mengingat biaya kampanye yang sangat besar dan partisipasi beberapa milyarder dalam pemilihan presiden AS. Bahkan, masalah dominasi uang telah menimbulkan kekhawatiran tentang dampak negatif dari ini pada pilihan warga dan, pada kenyataannya, pembelian hasil pemilu. Sanders memperingatkan kehadiran miliarder dan, pada kenyataannya, dominasi mereka, mengingat bahwa calon Partai Republik atau Demokrat mereka, setelah memasuki Gedung Putih, yang dipikirkan adalah kepentingan oligarki keuangan, industri, politik, dan media Amerika, dan sebagainya. Semua pemangku kepentingan bekerja dan dengan demikian mengorbankan kepentingan nasional untuk kepentingan pribadi dan partisan.

Kementerian Energi AS Minta Rusia dan Arab Saudi Mengakhiri Perang Minyak

Amerika sangat prihatin dengan situasi saat ini di pasar minyak dan ingin itu berakhir. Presiden AS Donald Trump, di satu sisi, mendukung penurunan harga minyak karena keinginannya untuk konsumen Amerika dan dengan demikian memberikan suara positif untuknya dalam pemilihan presiden November 2020, tetapi di sisi lain ia tahu bahwa tren penurunan harga minyak untuk perusahaan-perusahaan minyak serpih AS akan sangat mahal dan dapat menyebabkan kebangkrutan mereka.

Perang minyak Rusia dan Arab Saudi

"Saya baru-baru ini berbicara dengan para pemimpin Arab Saudi dan Rusia dan percaya bahwa kedua negara akan setuju untuk mengakhiri perang harga mereka dalam beberapa hari ke depan dan memperkuat harga dengan mengurangi produksi," kata Donald Trump pada hari Rabu.

Beberapa hari sebelumnya, Trump menyebut perang harga Saudi-Rusia gila dan berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin tentang hal itu. Pemerintahan Trump mengatakan pihaknya bermaksud mengirim utusan khusus ke Riyadh untuk membujuk negara itu agar mengurangi produksi minyak. Trump bertemu dengan para kepala perusahaan minyak AS pada hari Jumat untuk membahas berbagai opsi untuk membantu industri, terutama minyak serpih.

Klaim Bohong Trump, Iran Tidak Meminta Pengurangan Sanksi

residen AS Donald Trump, yang dikenal sebagai pembohong, mengatakan dalam klaim aneh pada Kamis, 2 April,  bahwa Iran tidak meminta pengurangan sanksi untuk memungkinkan peralatan medis dikirim ke negara itu. "Republik Islam belum mengajukan permintaan pengurangan sanksi untuk memungkinkan peralatan medis dikirim ke negara itu," Trump mengatakan pada konferensi pers pada hari Selasa.

Klaim bohong Trump muncul ketika Republik Islam Iran telah secara resmi meminta PBB untuk mengakhiri sanksi tidak manusiawi Washington terhadap Iran untuk melawan penyebaran Corona di Iran. Pada 12 Maret 2020, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan diakhirinya sanksi pemerintah AS, yang merupakan hambatan utama untuk memerangi penyebaran Corona di Iran.

Donald Trump, Presiden AS

"Meskipun Iran memiliki kemampuan ilmiah dan komitmen untuk memerangi penyebaran virus Corona, sanksi AS atas perdagangan legal dan prasyarat baru-baru ini oleh pejabat AS untuk mencegah penjualan obat-obatan, peralatan medis dan barang-barang kemanusiaan, upaya untuk memerangi penyebaran COVID-19 di Iran menghadapi hambatan serius," tulis Zarif dalam surat itu.

Rupanya, presiden AS merujuk pada permintaan Iran untuk sanksi, kontak langsung dengan Amerika Serikat dan menyampaikan permintaan bantuan. "Yang harus dilakukan oleh orang Iran adalah menghubungi kami dan meminta bantuan," kata Trump dalam menanggapi pertanyaan tentang pencabutan sanksi terhadap Iran selama wabah virus Corona. Dengan kata lain, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat siap membantu Iran.

Namun, bahkan bila klaim ini salah, karena sebelum itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah menyampaikan ksesiapan AS memberikan bantuan kepada Iran dalam perang melawan Corona, asalkan tahanan asing dibebaskan di Iran. Iran telah menyatakan bahwa mereka tidak bersedia untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat, dan mengajukan permintaan kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk mencabut sanksi AS terhadap Iran ketimbang menyampaikan masalah ini kepada Washington, dan Sekretaris Jenderal PBB secara alami pasti telah memberi tahu Amerika Serikat.

Yang penting adalah bahwa kebijakan lanjutan sanksi pemerintah Trump terhadap Iran begitu tidak dapat dibenarkan dan tidak manusiawi mengingat pandemi Corona yang bahkan politisi senior AS telah menyerukan pengurangan sanksi. Faktanya, kebijakan anti-Iran Trump begitu ekstrem dan tidak rasional sehingga bahkan pejabat pemerintah AS dan Kongres telah mengakui hal itu. Namun, tampaknya Trump tidak bermaksud mengubah pendekatannya saat ini ke Iran. Bahkan, bukan saja dia tidak membantu Iran, tetapi dalam beberapa hari terakhir dia sekali lagi mengancam Tehran.

Tags

Komentar