Apr 05, 2020 23:58 Asia/Jakarta

Salah satu kebijakan militer terpenting Presiden Donald Trump selama menjabat saat ini adalah memperkuat kemampuan nuklirnya dengan menggelontorkan anggaran besar untuk mendanai modernisasi persenjataan nuklir AS.

Meskipun AS saat ini sedang kewalahan menghadapi penyebaran virus corona, tapi ambisi nuklir pemerintahan Trump tidak kunjung reda. Pasalnya, Menteri Pertahanan AS Mark Esper hari Sabtu (4/4/2020) mengatakan bahwa prioritas kementeriannya saat ini adalah memodernisasi senjata nuklir AS. Esper dalam cuitannya menyebut memodernisasi senjata nuklir strategis sebagai prioritas utama Amerika Serikat. Menurutnya, Presiden Donald Trump mengintruksikan masalah ini demi mendukung Amerika Serikat dan sekutunya. Saat ini, Amerika Serikat dan rivalnya, Rusia merupakan negara pemilik persenjataan nuklir terbesar di dunia.

Pernyataan menhan AS tersebut dikemukakan di saat ini Amerika Serikat menempati posisi teratas dunia dari jumlah kasus positif terinfeksi virus corona. Statemen Esper ini menyulut pertanyaan besar, mengapa dia menekankan peningkatan arsenal nuklir AS dalam situasi saat ini?

Sebagian analis menilai pemerintahan Trump yang sekarang dihujani dikritik karena tidak efisien dalam menangani epidemi virus Corona berupaya untuk mengalihkan perhatian dengan memblow up kemampuan nuklir AS. Tapi analis lain melihat masalah ini berhubungan dengan ambisi perang Trump yang tidak memperdulikan masalah apapun, bahkan keselamatan ratusan juta orang warganya sendiri.

"Kami mengalokasikan satu triliun dolar setahun untuk anggaran militer, tetapi tidak memiliki cukup alat bantu pernapasan. Kami memiliki ribuan senjata nuklir, tetapi tidak memiliki cukup masker medis," kata salah seorang pensiunan komandan Angkatan Laut AS menyindir Trump.

Sistem kesehatan dan layanan asuransi di Amerika Serikat sangat tidak berdaya menghadapi Covid-19 yang menyebar begitu cepat di negara ini. Masalah tersebut memicu protes keras dari banyak anggota Kongres AS. Bernie Sanders dan Alexandria Ocazio-Cortez misalnya mengecam keras APBN AS untuk 2021 yang memprioritaskan anggaran militer, terutama  senjata nuklir yang membengkak. Betapa tidak, anggaran nuklir sebesar $ 44,5 miliar dengan kenaikan19 persen lebih tinggi dari anggaran 2020, sementara anggaran Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS hanya mendapatkan $5,5 miliar dengan penurunan 18,6 persen dari tahun ini. Tidak hanya itu, anggaran Institut Kesehatan Nasional AS dalam APBN 2021 dikurangi tujuh persen menjadi $38,7 miliar.

Pemerintahan Trump secara terbuka berusaha mengembangkan dan memperkuat persenjataan nuklir AS. Dalam perspektif Washington, memodernisasi persenjataan nuklir sebagai prioritas nasional AS.

Trump menekankan perlunya peningkatan kekuatan nuklir AS yang menurutnya saat ini mengalami penurunan. Sejak pertama kali menjabat sebagai presiden di tahun 2017, Trump untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir menyusun rencana untuk membangun hulu ledak nuklir baru dan menetapkan anggaran besar untuk membiayainya.

Berdasarkan dokumen NPR yang dipublikasikan Februari 2018, pemerintahan Trump menekankan produksi senjata nuklir baru. Tampaknya benar yang dikatakan Suzanne Dimaguo, analis senior di Carnegie Endowment for International Peace, "Trump tampil di panggung dunia sebagai kekuatan destabilisasi yang merusak multilateralisme,"

Di tengah krisis akibat pandemic corona, ambisi nuklir Trump akan menyeret dunia pada bencana besar. Statemen Esper mengenai modernisasi nuklir AS dan peningkatan anggaran nuklir di APBN 2021 menunjukkan sinyal bahwa Trump tidak akan memperpanjang perjanjian NEW START dengan Rusia. Indikasi ini semakin terlihat jelas setelah sebelumnya Trump mengumumkan menarik diri dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) pada 2 Agustus 2019. Masalah ini akan memicu persaingan senjata nuklir di tingkat global, terutama dari Rusia dan Cina, yang berupaya menyeimbangkan diri dengan AS.(PH)

Tags

Komentar