May 31, 2020 19:55 Asia/Jakarta

Kekerasan yang dilakukan oleh polisi Amerika terulang kembali. Kali ini George Floyd menjadi korbannya. Kekerasan dan pembunuhan terhadap warga kulit hitam ini telah memicu unjuk rasa luas di berbagai kota.

George Floyd, 46 tahun, tewas usai lehernya ditekan oleh lutut Derek Chauvin, salah satu dari empat polisi Minneapolis yang menahannya. Dia ditangkap karena dituduh melakukan transaksi memakai uang palsu senilai US$ 20 (Rp 292 ribu) pada Senin (25/5/2020).

Penangkapan George yang terekam dalam sebuah video yang menjadi viral tersebut memperlihatkan Chauvin menekan leher George, yang saat itu dalam keadaan sedang diborgol dan menelungkup di pinggir jalan, selama kurang lebih tujuh menit.

Dalam video itu terlihat George berkali-kali merintih kesakitan dan mengaku sulit bernafas. Ia bahkan sempat menangis dan memanggil ibunya sesaat sebelum tewas. "Lututmu di leherku. Aku tidak bisa bernapas... Mama. Mama," ujar George diiringi dengan rintihan sebelum tewas.

Beberapa masyarakat yang berada di lokasi kejadian meminta Chauvin untuk melepaskan lututnya dari leher George, namun permintaan tersebut tidak diindahkan. Bahkan Chauvin terlihat santai sembari memasukkan tangannya ke saku.

Saat George tidak lagi bergerak dan merintih, ia langsung dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulan. Sesampainya di rumah sakit Hennepin County Medical Center, George dinyatakan meninggal dunia.

Kematian George di tangan polisi ini pun memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam.  Mereka yang berang terhadap perlakuan polisi yang rasis, mulai turun ke jalan dan berdemonstrasi, meminta pertanggungjawaban atas kasus pembunuhan tersebut.

Empat oknum polisi Derek Chauvin, Tou Thao, Thomas Lane, dab J. Alexander Kueng yang bertanggung jawab atas kematian George memang dipecat keesokan harinya. Namun, mereka masih bebas berkeliaran. Saudara George menuntut agar para tersangka dihukum atas pembunuhan.

Protes melanda sejumlah kota besar Amerika pada Kamis (28/5/2020), dengan kerumunan turun ke jalan untuk menuntut tindakan kebrutalan polisi dan pertanggungjawaban atas beberapa kematian warga kulit hitam di tangan mereka.

Minneapolis dan St. Paul di Minnesota, dipenuhi oleh protes besar. Di St. Paul, para pemrotes berhadapan dengan polisi anti huru hara yang menyemprotkan gas air mata. Menurut keterangan poisi, lebih dari 170 bisnis ikut dirusak dan dijarah.

Di Minneapolis, ribuan pengunjuk rasa mengepung sebuah kantor polisi dan membakarnya. Mereka menyemprotkan cat pada sisi-sisi bangunan, mencoba memanjatnya, dan bersorak saat nyala api menyelimuti bangunan itu.

Semua staf di dalam telah dievakuasi sebelum kebakaran, dan lebih dari 500 tentara dari Minnesota National Guard dikirim untuk menetralkan keadaan di Minneapolis dan St. Paul.

Sedangkan di Memphis, Tennessee, pengunjuk rasa berbaris melalui tengah kota selama beberapa jam. Mereka mengangkat tulisan yang menuntut keadilan bagi beberapa orang kulit hitam Amerika terbunuh belum lama ini, yakni George Floyd, Ahmaud Arbery, dan Breonna Taylor.

Protes juga meningkat menjadi kekerasan di Louisville, Kentucky, tempat Breonna Taylor tinggal dan ditembak mati oleh polisi pada bulan Maret lalu. Penasihat khusus polisi Jessie Halladay mengatakan polisi menembakkan tembakan di tengah kerumunan selama protes tersebut. Protes juga terjadi di kota-kota lain seperti Denver, Colorado, dan Phoenix, Arizona.

  1. Ahmaud Arbery

Kejahatan serupa juga menimpa Ahmaud Arbery, 26 tahun. Dia ditembak mati oleh Gregory McMichael, 64 tahun, dan Travis McMichael, 34 tahun, dua polisi dan detektif di kejaksaan di negara bagian Georgia, Amerika Serikat.

sebuah rekaman video tentang peristiwa pembunuhan tersebut menimbulkan gelombang protes untuk menuntut keadilan, terutama setelah diketahui bahwa tiada tindakan hukum apapun dilakukan terhadap para pelaku, ayah dan anak berkulit putih itu.

Ahmaud Arbery, 26 tahun, sedang joging di kawasan pemukiman kota pantai Brunswick ketika didekati oleh para tersangka, pada sore hari tanggal 23 Februari.

Gambar yang direkam oleh seorang warga lain memperlihatkan ayah dan anak McMichael menunggu Arbery, yang berlari ke arah mereka, di hari yang terang.

Dalam video 36 detik yang direkam dari sebuah kendaraan yang berada di belakang mobil truk, terlihat seorang pria joging mendekati truk dari belakang.

Pria ini berusaha memutar, dan terlihat bersitegang dengan seorang pria yang membawa senapan. Lalu terjadi teriakan dan suara letusan senapan terdengar.

Ada pria kedua berdiri di bak truk. Pria ini lalu terlihat membawa senapan di sebelah pria pertama. Lalu Arbery menghilang dari gambar.

Menurut ayah korban, Marcus Arbery, anaknya biasanya berolahraga di daerah itu setiap hari, dan ia tinggal di rumah ibunya di dekat situ.

Pengacara keluarga, Benjamin Crump, mengatakan rekaman video itu memperlihatkan "eksekusi yang mengerikan".

Crump menyatakan bahwa Gregory McMichael tidak ditindak karena ia pernah bekerja sebagai polisi dan detektif di kejaksaan lebih dari 30 tahun.

  1. Alton Sterling

Pada tahun 2016, ratusan orang berkumpul di lokasi seorang pria berkulit hitam yang sudah tidak berdaya ditembak oleh polisi di Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat (AS). Korban bernama Alton Sterling tewas ditembak pada 5 Juli 2016 setelah dijatuhkan oleh dua orang polisi.

Para pelayat, keluarga, dan rekan-rekan korban turut ambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Beberapa pengunjuk rasa bahkan meneriakkan slogan "Black Lives Matter" dan meminta keadilan.

Dalam sebuah video yang muncul di internet, Sterling terlihat dipojokkan oleh dua orang petugas polisi. Pria berusia 37 tahun itu kemudian dibaringkan di depan sebuah toko dan ditembak beberapa kali tidak lama kemudian. Salah satu petugas polisi lalu mengeluarkan sesuatu dari celana Sterling ketika korban terbaring bersimbah darah. Polisi mengklaim ia memiliki senjata di kantong celananya.

Video tersebut direkam oleh pemilik toko bernama Abdullah Muflahi. Ia sengaja merekam insiden tersebut sebagai bukti ketidakberdayaan Sterling di hadapan petugas polisi ketika ditembak mati. Ayah dari lima anak itu tewas di tempat kejadian akibat luka tembak di dadanya.

Dua petugas polisi yang bernama Blane Salamoni dan Howie Lake II telah diberikan sanksi administrasi. Pun begitu, Kementerian Kehakiman AS telah meluncurkan penyelidikan atas nama hak-hak sipil. Gubernur Louisiana, John Bel Edwards, meminta warga dan pengunjuk rasa untuk tetap tenang.

  1. Walter Scott

Walter Scott, seorang pria kulit hitam berumur 50, ditembak tiga kali di punggung selagi lari dari petugas polisi Michael Slagger di North Charleston, South Carolina pada 4 April 2015. Polisi menyetop mobil Scott karena lampu remnya tidak berfungsi.

  1. Aric Garner

Eric Garner mati karena tak bisa bernapas di New York sesudah ia ditahan atas dugaan menjual rokok ketengan secara ilegal pada 17 Juli 2014.

Dalam video yang beredar, terlihat Garner berkali-kali berteriak, “Saya tak bisa bernapas” sementara polisi kulit putih Daniel Pantaleo, tampak memiting leher Garner ketika mereka bergumul di tanah.

Juri menolak untuk menjatuhkan tuduhan perbuatan kriminal terhadal Pantaleo, yang lalu memicu protes di berbagai kota di Amerika. Pantaleo dipecat oleh Departemen Kepolisian New York lima tahun sesudah kejadian itu.

  1. Tamir Rice

Tamir Rice, bocah Afrika-Amerika berusia 12 tahun, ditembak polisi kulit putih hanya karena membawa senjata mainan.

  1. Freddie Gray

Di Baltimore, Maryland, Freddie Gray, 25 tahun, ditahan karena membawa senjata setelah polisi menemukan pisau di sakunya pada 12 April 2015.  

Rekaman video yang dibuat seorang saksi memperlihatkan Gray berteriak saat ia dibawa ke mobil polisi. Beberapa jam kemudian ia masuk ke rumah sakit karena cedera parah di tulang belakang dan meninggal dunia seminggu kemudian.

Insiden tersebut memicu protes dengan kekerasan yang berakhir dengan cederanya 20 orang petugas kepolisian. Tiga dari enam petugas yang terlibat ditahan, tapi dinyatakan tidak bersalah atas kematian Gray. Tiga orang laginya tidak pernah menjalani proses hukum.

  1. Michael Brown

Michael Brown, remaja kulit hitam berusia 18 tahun ditembak mati sesudah pertengkaran dengan polisi kulit putih Darren Wilson pada 9 Agustus 2014.

Peristiwa yang terjadi di Ferguson, Missouri, telah memicu protes dengan kekerasan yang berakhir dengan kematian satu orang, beberapa terluka dan ratusan penangkapan.  (RA)

Tags

Komentar