Jun 02, 2020 11:53 Asia/Jakarta

Sayap kanan ekstrim di era Presiden Donald Trump di Amerika Serikat mengalami peningkatan sangat drastis. Di antara indeks nyata adalah tokoh dan gerakan sayap kanan radikal menunjukkan sikap dan aksi-aksi rasis khususnya diskriminasi dan aksi kekerasan terhadap etnis kulit berwarna khususnya warga kulit hitam.

Masalah ini bukan saja menuai respon negatif di dalam negeri Amerika, bahkan Eropa sebagai sekutu Washington pun mulai menunjukkan respon tak sedap.

Kasus terbaru pembunuhan seorang warga kulit hitam Amerika, George Floyd di tangan seorang perwira polisi kulit putih negara ini di kota Minneapolis, negara bagian Minnesota pada 25 Mei 2020 bukan saja memicu gelombang besar protes di dalam negeri Amerika dan merambah di lebih dari 75 kota di 14 negara bagian, tapi juga aksi protes ini merembet ke Eropa. Di sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Inggris dan Denmark, selain digelar aksi protes, juga diambil langkah simbolis terkait tuntutan keadilan bagi pembunuh Floyd.

Gerakan anti Rasis di AS

Di Jerman, ratusan warga negara ini berdemo di depan Kedubes AS di Berlin sebagai bentuk solidaritas dan menunjukkan kemarahan serta kebencian mereka atas pembunuhan tragis warga kulit hitam ini oleh polisi Amerika. Sementara di London, Inggris, ratusan warga negara ini berdemo mendukung aksi protes anti diskriminasi di Amerika meski ada larangan berkumpul karena wabah Corona.

Sementara di Denmark, sejumlah warga negara ini berkumpul di depan Kedubes AS di Kopenhagen memprotes perlakuan polisi Amerika terhadap para demonstran. Protes juga merembet ke liga sepak bola Jerman. Jadon Sancho, pemain Borussia Dortmund 31 Mei 2020 sebelum pertandingan dimulai, berlutut dan diam beberapa saat untuk mengenang George Floyd. Di kostumnya tertulis "Keadilan bagi George Floyd". Marcus Thuram pemain tim Borussia Mönchengladbach hari Sabtu juga melakukan tindakan serupa.

Masalah ini menunjukkan bahwa warga Eropa sangat khawatir atas proses politik dan sosial saat ini di Amerika, yakni meningkatnya kekuatan sayap kanan radikal di bawah perlindungan nyata dan tersembunyi Presiden Donald Trump. Di era Presiden Trump, mengingat kecenderungan rasisnya, secara praktis represi terhadap warga kulit berwarna oleh kelompok rasis semakin meningkat.

Menurut seorang pengamat politik Perancis, "Jelas bahwa kekerasan di Amerika Serikat telah meningkat di bawah Presiden Trump." Peristiwa kekerasan dan rasis Charlottesville pada Agustus 2017 adalah simbol kekerasan di negara ini. Trump tidak secara terbuka menyangkal kekerasan pada saat itu, tetapi sebaliknya mengatakan ada kebencian dan kekerasan di semua sisi. Dengan kata-kata seperti itu, ia mendukung kelompok radikal dan pro kekerasan. Informasi yang disediakan oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) juga menunjukkan bahwa kekerasan terhadap minoritas dan kejahatan rasial telah meningkat sejak Trump berkuasa.

Tindakan itu didorong oleh individu, gerakan, dan kelompok sayap kanan ekstremis, yang banyak di antaranya adalah kelompok militan dan bersenjata. Bahkan, presiden Trump telah menciptakan gelombang kedua kejahatan rasial di masyarakat Amerika sejak 9/11. Banyak ahli percaya bahwa arus rasis dan memproklamirkan diri di Amerika Serikat telah bangkit kembali setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS. "Sekarang 100 persen jelas bahwa Trump adalah seorang rasis dan tidak menerima nilai-nilai yang dijamin oleh konstitusi kita," kata Luis Gutiérrez, seorang anggota Kongres Demokrat.

Protes anti rasis di AS

Sebagian besar kekerasan sayap kanan ekstrim di masyarakat Amerika menyasar minoritas etnis dan agama termasuk warga kulit hitam dan polisi kulit putih rasis dalam hal ini memainkan peran mencolok dalam menerapkan kekerasan. Kasus terbaru dari masalah ini adalah protes luas di berbagai kota dan negara bagian AS memprotes pembunuhan sadis George Floyd yang menuai refleksi luas di dalam negeri dan di tingkat internasional.

Poin penting adalah Presiden Donald Trump tidak mengisyaratkan alasan protes yang marak di negaranya, protes yang berujung pada bentrokan, kekerasan serta menimbulkan kerugian besar. Presiden Amerika ini malah menekankan penumpasan dan tindak kekerasan terhadap para demonstran.

Ini menunjukkan bahwa Trump tidak memiliki batasan dalam mendukung kubu sayap kanan ekstrim termasuk perwira polisi kulit putih yang jelas-jelas memiliki kecenderungan rasis. Pastinya sikap Trump ini akan memperkuat spirit dan motivasi kelompok serta gerakan sayap kanan ekstrim di Eropa dan meningkatnya aksi-aksi mereka terhadap kubu minoritas baik itu imigran legal dan pencari suaka serta sekelompok warga keturunan non Eropa. Sebuah masalah yang memicu kekhawatiran bangsa Eropa. (MF)

 

Tags

Komentar