Jun 03, 2020 12:48 Asia/Jakarta

Gelombang unjuk rasa di berbagai kota dan negara bagian AS sebagai protes atas pembunuhan brutal yang dilakukan polisi kulit putih terhadap warga Amerika kulit hitam George Floyd menyulut reaksi keras dari Donald Trump.

Trump yang panik menggunakan otoritas hukumnya untuk mengakhiri kerusuhan nasional dengan mengancam akan mengerahkan pasukan garda nasional AS. Ia mengatakan, "Jika gubernur negara bagian menolak untuk menegakkan aturan hukum ini, saya akan segera mengerahkan pasukan di negara-negara bagian. Kekerasan dalam protes baru-baru ini bukan protes damai, tetapi terorisme domestik,".

Meskipun Trump berupaya menunjukkan dirinya mendukung protes damai, tapi presiden AS ini menyebut para pelaku kerusuhan terbaru sebagai teroris domestik dan bersumpah untuk menumpasnya.

 

Donald Trump

 

Tampaknya, Trump berusaha untuk membenarkan tindakan kekerasan yang akan diambilnya terhadap pengunjuk rasa dengan melabeli mereka sebagai terorisme domestik. Ia mencoba menggunakan kekuatan untuk memberangus protes yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.

Trump telah mengambil langkah awal untuk mewujudkan ancamannya ini di Washington DC, ibu kota Amerika Serikat. Dia mengatakan ribuan orang pasukan keamanan yang dipersenjatai dengan senjata berat telah dikirim ke ibu kota pada Senin malam dan jam malam telah diberlakukan di Washington secara ketat. Presiden AS juga mengancam akan mengambil tindakan hukum tegas terhadap mereka yang mengabaikan peraturan tersebut. 

Trump dalam pertemuan video dengan para gubernur negara bagian mengatakan, "Kalian harus menunjukkan kekuatan di hadapan mereka. Jika tidak, kalian membuang-buang waktu. Apabila kalian tidak menunjukkan kekuatan, maka para demonstran akan menyerang dan kalian akan menjadi seperti sekelompok orang idiot. Oleh karena itu, kalian harus menunjukkan otoritas yang kuat. "

 

 

Presiden AS paling kontroversial ini, pandangan dan pendekatannya disambut secara fundamental oleh kaum nasionalis garis keras dan sayap kanan ekstrem dengan pandangan rasisnya yang mendorong mereka menyebarkan aksi kekerasan terhadap orang-orang kulit berwarna.

Gelombang protes terbaru dipicu oleh diskriminasi dan kekerasan yang tidak terkendali terhadap orang kulit hitam, tapi ironisnya Trump justru mencoba mengintimidasi pemrotes dan membungkam mereka dengan mengambil sikap otoriter.

Tentu saja, pendekatan represif Trump ini tidak akan menyelesaikan masalah. Pasalnya, tanpa perubahan besar dalam lembaga peradilan dan kepolisian, juga pendekatan AS saat ini terhadap warga kulit hitam, maka api protes akan terus menyala dalam waktu dekat, bahkan jika dipadamkan secara paksa. Masalah ini diakui sendiri oleh politisi senior Amerika. Mantan Presiden AS, Barack Obama pernah menekankan urgensi reformasi sistem peradilan AS, dengan mengatakan, "Orang-orang yang mencari perubahan harus berdiri menentang presiden dan pejabat federal lainnya yang berperan besar dalam penyebaran rasisme di tengah masyarakat AS,".

 

 

 

Para pejabat senior Partai Republik yang berafiliasi dengan Trump juga mengakui situasi yang tidak berperikemanusiaan terhadap warga kulit hitam Amerika. "Negara ini tidak bisa mendengar penderitaan orang kulit hitam," kata pemimpin mayoritas Senat AS, Mitch McConnell Selasa pagi menanggapi aksi protes atas pembunuhan rasis terhadap George Floyd.

Meskipun tuntutan perubahan terus mengalir deras, tapi berhadapan dengan pemikiran rasis Trump, serta resistensi sistem politik dan peradilan AS terhadap perubahan mendasar. Oleh karena ini, gelombang diskriminasi dan penindasan terhadap kulit berwarna akan terus muncul. Nasib warga kulit hitam di AS tidak akan berubah signifikan, bahkan setelah protes ini berakhir.(PH)

Tags

Komentar