Jul 07, 2020 08:55 Asia/Jakarta
  • Bisnis Haram Pasukan Amerika di Afghanistan

Amerika Serikat menyerang dan menduduki Afghanistan pada tahun 2001 dengan dalih membalas serangan 11 September. Namun, kehadiran militer AS di negara itu telah menyebarkan terorisme dan kekacauan, memperbesar angka kemiskinan, dan yang lebih tragis meningkatkan produksi narkotika di Afghanistan.

Utusan Khusus Rusia untuk Urusan Afghanistan, Zamir Kabulov mengatakan Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) memainkan peran penting dalam penyelundupan narkotika dari Afghanistan.

“Badan intelijen AS terlibat dalam penyelundupan narkotika,” ujarnya dalam menanggapi laporan surat kabar The New York Times tentang dugaan kerja sama Rusia dengan Taliban untuk membunuh pasukan AS di Afghanistan.

Untuk membuktikan pernyataannya itu, Kabulov menjelaskan pesawat-pesawat AS terbang dari Kandahar dan Bagram ke daerah tertentu di Jerman dan Rumania tanpa inspeksi sama sekali dan ini merupakan sebuah bentuk perdagangan.

Kantor berita Rusia TASS mengutip keterangan Zamir Kabulov juga melaporkan bahwa sejumlah anggota CIA – yang menuduh Rusia bersekongkol dengan Taliban – terlibat dalam penyelundupan narkotika dari Afghanistan.

Isu penanaman dan penyelundupan narkotika di Afghanistan di tengah kehadiran pasukan Barat khususnya AS dan Inggris, telah lama menjadi sorotan. Para pejabat Rusia sudah sering mengkritik ketidakpedulian NATO dalam memerangi narkotika di Afghanistan.

Pada April 2017, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan AS dan NATO terlibat dalam perdagangan narkotika dan penyelundupan heroin dari Afghanistan ke negara lain.

“Amerika dan NATO memanfaatkan pasukannya untuk melindungi penanaman, produksi, dan penyelundupan heroin dari Afghanistan ke negara lain,” ungkapnya.

Menurut Lavrov, Afghanistan saat ini memasok 90 persen heroin dunia dan Amerika mengabaikan fakta ini. Angka tersebut adalah indikasi dari kebebasan dalam perdagangan, penanaman, dan produksi heroin di Afghanistan.

Moskow menyatakan bahwa aktivitas produksi dan penyelundupan narkotika di Afghanistan sama sekali tidak menurun, dan menurut data Badan PBB untuk Urusan Obat-obatan dan Kejahatan, produksi narkotika bahkan meningkat di negara yang dilanda perang itu. Pada 2019, 6.700 ton opium diproduksi di Afghanistan.

Afghanistan saat ini telah menjadi negara pertama dalam hal penanaman, produksi, dan penyelundupan narkotika di dunia. AS dan Inggris memainkan peran penting dalam meningkatkan produksi narkotika di Afghanistan selama 19 tahun terakhir.

Menurut para pejabat Afghanistan, ketidakamanan dan kemiskinan telah menjadi faktor berlanjutnya penanaman dan produksi narkotika. Penanaman opium ditemukan di daerah-daerah konflik yang berada di bawah kendali kelompok bersenjata.

Miliaran dolar keuntungan dari bisnis haram ini mengalir ke kantong para mafia dan Taliban serta ke kelompok teroris Daesh setiap tahun. AS sendiri telah menjadi penghalang utama dalam program pemberantasan narkotika di Afghanistan.

Salah seorang pengamat politik dan militer Afghanistan, Vahid Mojdeh menuturkan AS adalah pelaku utama perang, produksi, dan penyelundupan narkotika di Afghanistan.

Jelas bahwa tanpa dukungan langsung dan tidak langsung dari AS, Afghanistan mustahil bisa berubah menjadi penghasil opium terbesar di dunia. Penanaman opium dilakukan secara besar-besaran di daerah yang ditempati oleh pasukan asing, seperti Provinsi Helmand yang merupakan markas bagi pasukan Inggris.

Negara-negara tetangga seperti Rusia, dipaksa untuk menghabiskan banyak dana setiap tahun untuk memerangi penyelundupan narkotika dari Afghanistan. (RM)

Tags

Komentar